Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Memoar Casanova~Italo Calvino







1
SELAMA tinggal di ——— aku punya dua kekasih tetap: Cate dan Ilda. Cate datang menemuiku setiap pagi, Ilda di sore harinya; di malam hari aku keluar bersosialisasi dan orang-orang heran melihatku selalu sendiri. Cate bertubuh tegap, Ilda langsing; bergerak dari satu ke lain hasrat yang terperbarui, cenderung menjaga sebanyak mungkin variasi seperti halnya repetisi.
Begitu Cate pergi, aku menyembunyikan setiap jejak dirinya; demikian juga dengan Ilda; dan kupikir aku selalu berhasil menghentikan salah satu dari mereka untuk mencari tahu tentang yang lainnya, keduanya pada saat itu dan mungkin juga setelahnya.
Tentu saja, kadang-kadang aku terselip-lidah dan mengucapkan sesuatu kepada salah satu dari mereka yang hanya bisa berarti sesuatu jika kukatakan kepada yang lainnya: ‘Aku melihat fuchsiaini di toko bunga hari ini, bunga kesukaanmu,’ atau ‘Jangan lupa kenakan kembali kalungmu,’ hingga menimbulkan keheranan, kegusaran, dan kecurigaan. Tetapi kelengahan dangkal ini hanya terjadi, jika aku mengingatnya dengan baik, di awal-awal hubungan asmara gandaku. Dengan segera aku belajar untuk memisahkan kedua hubungan itu sepenuhnya; masing-masing hubungan berjalan dengan sendirinya, memiliki kefasihan percakapan serta kebiasaan-kebiasaannya, dan tak pernah terbaur dengan yang lain.
Pada awalnya aku berpikir (aku, sebagaimana yang akan kau pahami, teramat muda, dan tengah mencari pengalaman) bahwa seni menyatakan cinta dapat dialih-pindahkan dari satu wanita ke wanita yang lain: mereka berdua mengetahui begitu banyak hal lebih daripada diriku dan aku berpikir bahwa rahasia-rahasia yang kupelajari dari Ilda bisa kuajarkan kemudian kepada Cate, dan sebaliknya. Aku keliru: yang kulakukan hanya mencampur-adukkan berbagai hal yang hanya akan bermakna manakala dilakukan secara spontan dan langsung. Setiap wanita adalah sebuah dunia bagi dirinya sendiri, atau lebih tepatnya, tiap-tiap wanita adalah sebentang angkasa di mana aku harus melacak posisi bintang, planet, orbit, gerhana, inklinasi dan konjungsi, titik balik matahari dan ekuinoks. Masing-masing cakrawala memiliki pergerakannya sendiri, selaras dengan mekanisme dan ritmenya sendiri. Aku tidak berharap bisa menerapkan gagasan-gagasan astronomi yang telah kupelajari ketika mengamati angkasanya Cate, dengan angkasanya Ilda.
Tetapi harus kuakui bahwa kebebasan memilih di antara dua macam perbuatan bukanlah lagi suatu pilihan: dengan Cate aku telah berlatih untuk bertindak satu hal dan dengan Ilda bertindak hal yang lainnya; aku dikondisikan, dalam hal apa pun, oleh pasangan yang tengah berada bersamaku, bahkan hingga tingkat di mana preferensi serta tingkah laku naluriahku pun akan berubah. Dua kepribadian berganti-ganti di dalam diriku; dan aku takkan bisa mengatakan mana aku yang benar-benar aku.
Apa yang telah kukatakan berlaku baik bagi jiwa sebagaimana bagi tubuh: kata-kata yang kuucapkan kepada yang satu tak bisa kuulangi kepada yang lainnya, dan segera saja kusadari bahwa aku harus mengubah-ubah juga cara berpikirku.
Ketika aku merasakan suatu dorongan untuk menceritakan kembali dan membangkitkan salah satu dari banyak lika-liku kehidupan petualangku, biasanya aku memanfaatkan versi terbaik yang telah kukembangkan untuk helatan-helatan sosial, dengan keseluruhan kalimat serta lebih banyak mengulangi kata demi kata, efeknya dihitung hingga ke penyimpangan dan jeda cerita. Tetapi beberapa petualangan tertentu yang tak pernah gagal menarik pujian dari sekelompok orang yang tak mengenalku, atau yang tak pernah berhubungan denganku, harus disesuaikan sedapat mungkin seandainya aku menceritakan ihwal mereka kepada Cate atau Ilda sendiri. Pernyataan-pernyataan tertentu yang lazim diucapkan saat aku bersama Cate, terdengar keliru saat aku bersama Ilda; senda gurau yang Ilda bisa dengan serta-merta menerima dan menanggapinya dengan penuh minat, harus kujelaskan kepada Cate dengan setiap huruf ‘i’ dihiasi titik dan huruf ‘t’ diconteng, meskipun ia memahami lelucon-lelucon lainnya yang membuat Ilda tak tertarik; kadang pernyataan itu adalah kesimpulan yang bisa ditarik dari sebuah cerita, yang berubah dari Ilda ke Cate, hingga aku bisa memberikan akhir yang berbeda-beda terhadap cerita-ceritaku. Dengan cara ini secara bertahap aku tengah membangun dua versi berbeda tentang hidupku.
Setiap hari aku akan menceritakan kepada Cate dan Ilda apa yang kulihat dan kudengar pada malam sebelumnya ketika aku berkeluyuran ke tempat-tempat yang sering kukunjungi dan ketika aku berkumpul di kota: gosip-gosip, pertunjukan-pertunjukan, para selebriti, pakaian-pakaian modis, eksentrisitas. Di hari-hari awal ketakmampuanku dalam membeda-bedakan, aku akan mengulangi kata demi kata kepada Ilda di sore hari apa pun yang telah kukatakan di pagi hari kepada Cate: aku berpikir tindakan ini akan menyelamatkanku dari suatu upaya imajinatif yang secara konstan harus dilakukan agar orang-orang tetap tertarik. Segera kusadari bahwa cerita yang sama pun bisa menarik bagi yang satu dan tidak bagi yang lain, atau, jika itu menarik bagi keduanya, maka detil-detil yang mereka tanyakan akan berbeda dan berbeda pula komentar serta pendapat yang mereka kemukakan.
Yang harus kulakukan kemudian adalah menyusun dua cerita yang cukup berbeda dari materi yang sama: dan ini tak jadi soal; kecuali pada tiap-tiap malam ketika aku harus juga menjalani berbagai hal dengan dua cara yang berbeda yang sejalan dengan cerita yang akan kusampaikan keesokan paginya; aku akan melihat semua hal dan semua orang dari sudut pandang Cate dan dari sudut pandang Ilda, dan aku akan menilai segala sesuatunya sesuai dengan dua kriteria mereka yang berlainan; di dalam percakapan, aku akan sampai pada dua jawaban untuk satu pertanyaan yang sama dari orang lain, satu yang diinginkan Ilda, yang lainnya yang diinginkan Cate; setiap jawaban menghasilkan jawaban-tandingan yang harus kujawab sekali lagi dengan dua cara. Aku tidak menyadari kepribadian terbelah ini pada saat aku sedang bersama salah satu atau yang lainnya dari mereka, tetapi sering kali kusadari pada saat mereka tidak sedang bersamaku.
Pikiranku telah menjelma suatu medan perang bagi dua wanita. Cate dan Ilda, yang tak saling mengenal satu sama lain di luar kepalaku, terus-menerus bertikai dan bertarung demi teritori di dalam diriku, saling menghantam, saling mengoyak satu sama lain. Satu-satunya tujuan keberadaanku adalah menjadi tuan rumah bagi pergulatan sengit di antara dua rival yang tak tahu apa pun tentang pertarungan tersebut.
Itulah alasan sebenarnya yang mendesakku untuk meninggalkan ——— dalam keadaan tergesa-gesa, takkan pernah kembali lagi.

2
AKU tertarik kepada Irma karena ia mengingatkanku kepada Dirce. Aku duduk di sebelahnya: ia hanya harus memutar badannya sedikit ke arahku dan meletakkan tangannya di wajahnya (aku akan berbisik kepadanya; ia akan tertawa) dan ilusi berada dekat dengan Dirce menohokku. Ilusi itu membangkitkan kenangan-kenangan, kenangan yang dihasratkan. Demi menjalarkan hasrat itu kepada Irma entah bagaimana, kugenggam tangannya. Sentuhannya dan caranya mulai mengungkapkan diri kepadaku tentang siapa dirinya, terasa berbeda. Sensasi ini lebih kuat dari yang lainnya, tetapi tanpa menghapuskannya, dan, dengan sendirinya, sensasi itu terasa menyenangkan. Kusadari bahwa aku akan bisa memperoleh kesenangan ganda dari Irma: bahwa melalui dirinya aku bisa mencari Dirce yang telah hilang, dan membiarkan diriku dikejutkan oleh suatu kehadiran yang tak biasa.
Setiap hasrat membekaskan garisnya di dalam diri kita, seruas jalan yang menanjak, berkelap-kelip, kadang berpendar. Garis wanita yang tak hadir itu membangkitkan daya di dalam diriku, sedetik sebelum garis itu mulai menurun, bersilangan dengan garis keingintahuanku terhadap wanita yang hadir pada saat ini, dan menjalarkan daya dorongnya ke atas ke arah segala jalan yang masih belum diketemukan ini. Rencana itu patut dicoba: aku melipatgandakan perhatianku terhadap perhatian Irma, hingga aku membujuknya untuk datang ke kamarku di malam hari.
Ia datang. Ia membiarkan mantelnya tanggal. Ia mengenakan blus putih terang berbahan muslin hingga angin (saat itu musim semi dan jendela terbuka) melambai-lambaikan gaunnya itu. Saat itulah aku menyadari bahwa suatu mekanisme yang berbeda dan tak terduga mengambil alih perasaan dan pikiranku. Irma-lah yang mengambil alih seluruh bidang perhatianku, Irma sebagai sosok, kulitnya dan suaranya dan matanya, yang unik dan tak tergantikan, sementara kemiripan-kemiripannya dengan Dirce yang sesekali timbul dalam benakku tak lebih dari sekadar gangguan, begitu banyak hingga aku ingin sekali menyingkirkannya.
Karenanya pertemuanku dengan Irma menjadi suatu pertempuran dengan bayang-bayang Dirce yang terus menyelinap masuk di antara kami, dan setiap kali aku merasa ingin menangkap esensi Irma yang tak terkatakan, setiap kali aku merasa bahwa aku telah menciptakan suatu keintiman di antara kami yang meniadakan setiap kehadiran atau pikiran yang lain, datanglah kembali Dirce, atau pengalaman masa lalu yang Dirce wujudkan untukku, untuk merentakkan pengaruhnya terhadap apa yang tengah kualami tepat pada saat itu dan mencegahku untuk merasakannya sebagai sesuatu yang baru. Pada titik ini Dirce, ingatannya, tanda yang telah ia terakan bagiku, tidak membawa apa-apa kepada diriku selain kejengkelan, ketakleluasaan, dan kejemuan.
Fajar masuk melalui kisi-kisi jendela dalam helai-helai cahaya kelabu tipis, ketika kusadari tanpa keraguan sedikit pun bahwa bukan malamku bersama Irma yang akan segera berakhir, melainkan malam yang lain yang seperti malam ini, sebuah malam yang masih akan datang ketika aku akan mencari-cari kenangan tentang Irma pada wanita lain, dan akan menderita pada mulanya ketika aku menemukannya kembali dan ketika aku kehilangannya kembali, dan kemudian ketika aku tak bisa melepaskan diriku darinya.

3
AKU bertemu kembali Tullia dua puluh tahun kemudian. Kesempatan, yang dulu telah membawa kami bersama hanya untuk memisahkan kami tepat ketika kami sadar bahwa kami saling menyukai satu sama lain, kini pada akhirnya memungkinkan kami untuk menjumput benang hubungan kami pada titik di mana ia telah putus. ‘Kau sama sekali tidak berubah,’ kami berdua saling bercerita. Apakah kami berbohong? Tidak sepenuhnya: ‘Aku tidak berubah,’ adalah apa yang ia dan aku kehendaki agar yang lainnya mengerti.
Kali ini hubungan itu berkembang sebagaimana yang kami berdua harapkan. Mula-mula, kecantikan Tullia yang telah mendewasalah yang menarik seluruh perhatianku, dan baru kemudian kukatakan kepada diriku sendiri untuk tidak melupakan Tullia muda, berusaha menemukan kembali kesinambungan di antara keduanya. Karenanya, memainkan permainan yang datang secara spontan ketika kami bercakap-cakap, kami akan berpura-pura bahwa perpisahan kami baru terjadi dua puluh empat jam yang lalu dan bukan dua puluh tahun, dan bahwa ingatan kami terhadap berbagai hal baru terjadi sehari sebelumnya. Hal itu sungguh menyenangkan, tetapi itu tidak benar. Jika aku memikirkan diriku sendiri sebagaimana aku pada saat itu dengan dirinya sebagaimana ia pada saat itu, aku dihadapkan dengan dua orang asing; mereka menimbulkan kehangatan, kasih sayang, sedemikian rupa, juga kelembutan, tetapi apa yang bisa kubayangkan berkaitan dengan hal itu tak ada hubungannya dengan Tullia dan aku pada saat sekarang.
Tentu saja kami masih menyesali betapa begitu singkatnya segala sesuatu pada pertemuan kami yang terdahulu. Apakah itu suatu penyesalan yang lazim terhadap masa muda yang telah hilang? Tetapi kepuasan yang kurasakan saat ini tak memberiku alasan untuk menyesal; dan Tullia juga, kini aku berusaha memahami dirinya, adalah wanita yang juga menerima saat ini demi membebaskan dirinya sendiri dari nostalgia. Menyesali apa yang tak bisa kami miliki pada saat itu? Mungkin sedikit, tetapi tidak sepenuhnya: sebab (sekali lagi semata-mata karena antusiasme atas apa yang diberikan saat ini kepada kami), aku merasa (mungkin keliru) bahwa seandainya hasrat kami terpenuhi serta-merta, hal itu mungkin akan menghilangkan sesuatu dari kebahagiaan kami pada masa kini. Jika ada penyesalan berkaitan dengan apa yang telah hilang dari sepasang anak muda yang malang itu, dua orang ‘lain’ itu, dan ditambahkan ke dalamnya jumlah dari seluruh kehilangan yang diderita dunia ini untuk setiap saat yang takkan pernah kembali. Dari puncak kepenuhan kami yang serta-merta, kami berkenan untuk memberi pandangan penuh kasih terhadap hal-hal yang berada di luar kami itu: suatu perasaan yang nyaris tak memihak, karena hal itu memungkinkan kami untuk menikmati keleluasaan kami dengan lebih baik.
Dua kesimpulan yang berlawanan dapat ditarik dari hubunganku dengan Tullia. Seseorang mungkin mengatakan bahwa menemukan kembali satu sama lain telah menghapuskan perpisahan dua puluh tahun sebelumnya, menghapus kehilangan yang telah kami derita; dan seseorang mungkin mengatakan yang sebaliknya bahwa hal itu telah membuat kehilangan tersebut menjadi tegas serta menyedihkan. Keduanya (Tullia dan aku sebagaimana kami pada saat itu) telah saling kehilangan satu sama lain untuk selama-lamanya, takkan pernah bertemu kembali, dan dengan sia-sia mereka memanggil-manggil Tullia dan aku pada saat ini untuk meminta pertolongan, karena kami (keegoisan sepasang kekasih yang tengah berbahagia itu tak ada batasnya) telah sepenuhnya melupakan mereka.

4
DARI wanita yang lain, aku mengingat sebuah isyarat, suatu ekspresi yang berulang, suatu perubahan nada suara, yang secara intim terikat erat dengan esensi dari seseorang dan membedakannya seperti sebuah tanda tangan. Tidak demikian halnya dengan Sofia. Atau lebih tepatnya, aku mengingat banyak hal tentang Sofia, boleh jadi terlalu banyak: kelopak mata, betis, ikat pinggang, parfum, sekian banyak kesukaan dan obsesi, lagu-lagu yang ia hafal, pengakuan yang samar-samar, beberapa mimpi; segala macam hal yang tetap tersimpan di dalam gudang ingatanku dan menghubungkannya dengan dirinya, tetapi yang pasti akan hilang sebab aku tidak dapat menemukan benang yang mengikat ingatan-ingatan itu secara bersamaan dan aku tidak tahu yang mana di antara ingatan-ingatan itu yang memuat Sofia yang sebenarnya. Di antara setiap detil terdapat celah; dan diambil satu per satu, hal-ihwal itu mungkin lebih baik dilekatkan kepada orang lain seperti halnya kepada dirinya. Sedangkan untuk percintaan kami (kami bertemu secara rahasia selama berbulan-bulan), aku mengingat bahwa hal itu berbeda-beda setiap kalinya, dan meskipun ini seharusnya menjadi suatu kualitas positif bagi seseorang seperti diriku yang takut akan efek penumpulan dari kebiasaan, hal itu kini berubah menjadi suatu kesalahan, karena aku tidak ingat apa yang mendorongku untuk pergi menemuinya dibanding siapa pun yang lainnya setiap kali aku pergi. Singkatnya, aku tidak mengingat apa pun sama sekali.
Mungkin yang ingin kupahami tentang dirinya pada awalnya adalah apakah aku menyukainya atau tidak: itulah sebabnya mengapa saat pertama kali melihatnya aku menghujaninya dengan pertanyaan-pertanyaan, beberapa di antaranya adalah pertanyaan-pertanyaan yang tidak bijak. Alih-alih mengelak, yang mungkin bisa dilakukannya dengan baik, untuk menjawab setiap pertanyaan, ia melimpahiku dengan berbagai macam penjelasan, penyingkapan dan kiasan, dengan segera secara terpisah-pisah dan tak agresif, sementara aku, dalam perjuanganku untuk mengikutinya dan bertahan pada apa yang sedang ia katakan kepadaku, semakin banyak dan semakin banyak lagi yang hilang. Hasilnya: seolah ia sama sekali tidak menjawab apa pun dari pertanyaan-pertanyaanku.
Demi menciptakan komunikasi dalam suatu bahasa yang berbeda, aku memercayakan hal itu kepada belaian tangan. Sebagai tanggapan, gerak-gerik Sofia sepenuhnya dimaksudkan untuk menahan dan menunda seranganku, jika tidak benar-benar menolaknya, hingga pada momen ketika satu bagian tubuhnya terlepas dari tanganku, jari-jemariku merayap ke bagian tubuhnya yang lain, pengelakkannya membawaku pada suatu penjelajahan atas kulitnya serta-merta secara terpencar-pencar namun menyeluruh. Singkatnya, fakta yang terhimpun melalui sentuhan itu tak kurang berlimpah dibandingkan yang terekam oleh pendengaran, meski sama-sama tidak utuh.
Tak ada yang tersisa kecuali untuk melengkapi pengetahuan kami dalam setiap tingkatan dan dengan selekas mungkin. Tetapi apakah ada satu wanita unik, sosok yang tengah menanggalkan pakaiannya di hadapanku ini, melepas pakaian yang kasat dan tak kasat mata dengan cara yang telah ditentukan dunia kepada kami, atau apakah ada banyak wanita di dalam dirinya? Dan yang mana yang membuatku tertarik, yang mana yang membuatku tertolak? Takkan pernah ada kesempatan ketika aku tidak menemukan sesuatu yang tak kuduga-duga di dalam diri Sofia, dan semakin sedikit serta semakin sedikit lagi yang bisa kujawab ihwal pertanyaan pertama yang kutanyakan kepada diriku sendiri: apakah aku menyukainya atau tidak?
Hari ini, melampaui hal itu di dalam ingatanku, keraguan lain muncul: apakah ketika seorang wanita tak menyembunyikan apa pun dari dirinya sendiri, hal itu membuatku menjadi tak bisa memahaminya; atau apakah Sofia, dalam mengungkapkan dirinya dengan begitu berlebihan, tengah melakukan suatu strategi cerdik untuk tidak membiarkanku memahami dirinya? Dan kukatakan kepada diriku sendiri: dari semuanya, ialah yang berhasil lolos, seolah-olah aku tak pernah memilikinya. Tetapi apakah aku benar-benar memilikinya? Kemudian aku bertanya kepada diriku sendiri: dan siapa yang sebenarnya kumiliki? Dan kemudian lagi: memiliki siapa? Memiliki apa? Apa artinya hal itu?

5
AKU bertemu Fulvia pada saat yang tepat: sejauh kesempatan memungkinkan hal itu, aku adalah orang pertama dalam kehidupan masa mudanya. Sayangnya, perjumpaan mujur ini ditakdirkan untuk menjadi singkat; keadaan mengharuskanku untuk pergi meninggalkan kota itu; kapalku telah merapat di pelabuhan; keesokan paginya kapal itu akan berangkat berlayar.
Kami berdua sadar bahwa kami takkan saling bertemu lagi, dan sama-sama sadar bahwa ini adalah bagian dari serangkaian hal yang telah ditetapkan dan tak terelakkan; karenanya, kesedihan yang kami rasakan, meski dengan kadar yang berbeda, telah ditetapkan, sekali lagi dengan kadar yang berbeda, oleh suatu alasan. Fulvia telah merasakan kekosongan yang akan dirasakannya ketika keakraban kami yang masih hangat dan baru saja dimulai tiba-tiba terputus, tetapi juga kebebasan ini akan terbuka dan sekian banyak kesempatan itu akan tersedia baginya; di sisi lain, aku memiliki kebiasaan untuk menempatkan peristiwa-peristiwa dalam hidupku di dalam suatu pola di mana masa kini menerima cahaya dan bayang-bayang dari masa depan, masa depan yang lintasannya dalam kasus ini tak bisa kubayangkan sampai pada kemundurannya; apa yang kuramalkan terhadap Fulvia adalah suatu kerja penuh kasih yang berbunga sepenuhnya, yang mana aku telah membantu untuk membangkitkannya.
Karenanya, pada saat-saat menghabiskan waktu yang terakhir kali sebelum perpisahan kami, aku tak bisa menahan diri untuk tidak melihat diriku sendiri hanya sebagai orang pertama dari sederet kekasih Fulvia yang tak diragukan lagi akan dimilikinya, dan ia akan menaksir kembali apa yang telah terjadi di antara kami dalam terang cahaya pengalaman-pengalaman masa depannya. Kusadari bahwa setiap detil terakhir dari hasrat di mana Fulvia telah menyerahkan dirinya dengan keterputusan total akan diingat dan dinilai oleh wanita yang ia akan menjadi dirinya dalam waktu beberapa tahun saja. Seiring dengan segala sesuatunya pada saat sekarang, Fulvia menerima segala sesuatu tentang diriku tanpa menghakimi: tetapi hari itu takkan lama lagi ketika ia bisa membandingkanku dengan laki-laki lain; setiap ingatan tentangku akan mengalami penjajaran, pembedaan, dan pertimbangan. Di hadapanku aku memiliki seorang gadis yang belum berpengalaman, yang merepresentasikan segala sesuatu yang bisa kuketahui, tetapi tetap saja aku merasa diawasi oleh Fulvia hari esok, yang menuntut dan merasa kecewa.
Reaksi pertamaku adalah suatu rasa takut diperbandingkan. Para lelaki Fulvia di masa depan, pikirku, akan mampu membuatnya jatuh cinta sepenuhnya kepada mereka, sebagaimana ia tak pernah jatuh cinta sepenuhnya kepadaku. Cepat atau lambat Fulvia akan menganggapku tak layak atas nasib baik yang menimpaku; hal itu akan menjadi kekecewaan dan sarkasme yang terus menghidupkan ingatannya terhadapku: aku cemburu kepada para penggantiku yang anonim itu, aku merasa bahwa mereka tengah berbaring menunggu, siap untuk merenggut Fulvia, aku membenci mereka, dan aku pun telah membenci Fulvia karena Nasib telah menakdirkannya untuk mereka…
Demi melepaskan diri dari rasa sakit ini, aku memutar-balik jalan pikiranku, melepaskan diri dari mencela-diri-sendiri demi memuji-diri-sendiri. Itu tidak sulit: karena temperamen, aku agak cenderung membentuk opini tinggi alih-alih rendah mengenai diriku sendiri. Fulvia telah mengalami suatu sentakan keberuntungan yang tak ternilai karena bertemu denganku terlebih dulu; tetapi menjadikanku sebagai suatu model akan menyingkapkan kepadanya kekecewaan yang keji. Laki-laki lain yang akan ia temui akan tampak semenjana, lemah, tumpul dan bodoh, setelah diriku sendiri. Dalam keluguannya, ia tidak diragukan lagi membayangkan kualitas-kualitas baikku menjadi sifat yang cukup lazim di antara kaumku; aku harus memperingatkannya bahwa mencari dari orang lain apa yang telah ia temukan di dalam diriku hanya akan menimbulkan kekecewaan. Aku gemetar ketakutan membayangkan bahwa setelah awal yang sungguh membahagiakan, Fulvia mungkin akan jatuh ke tangan yang tak pantas, yang akan menyakitinya, melukainya, merendahkannya. Aku membenci mereka semua; dan akhirnya aku membencinya juga sebab takdir telah merenggutnya dariku, menghukumnya dengan masa depan yang terdegradasi.
Dengan satu atau lain cara, gairah yang telah merenggutku dalam cengkeramannya, kukira, adalah yang selalu kudengar digambarkan sebagai ‘kecemburuan’, suatu gangguan mental yang kubayangkan telah membuatku kebal. Setelah memperlihatkan bahwa aku cemburu, yang bisa kulakukan hanyalah berperilaku seperti seseorang yang cemburu. Aku kehilangan kesabaran kepada Fulvia, mengatakan kepadanya bahwa aku tidak tahan melihatnya begitu tenang sesaat sebelum kami berpisah; aku menuduhnya nyaris tak bisa menunggu untuk mengkhianatiku; aku bersikap kasar dan kejam kepadanya. Tetapi ia (tak diragukan lagi karena kurang berpengalaman) tampaknya merasakan perubahan suasana hatiku sebagai sesuatu yang wajar dan tak terlalu marah karenanya. Dengan amat bijak ia menasehati agar aku tidak menyia-nyiakan sedikit waktu yang telah kami lewatkan bersama dengan tuduh-menuduh yang tak berkesudahan.
Kemudian aku berlutut di kakinya, aku memohon kepadanya untuk memaafkanku, untuk tidak menyinggung perasaanku dengan getir ketika ia menemukan kawan yang layak baginya; aku tak mengharapkan kesabaran yang lebih besar dari yang seharusnya dilupakan. Ia memperlakukanku seolah-olah aku orang gila; ia takkan membiarkanku mengatakan ihwal apa yang telah terjadi di antara kami dalam hal apa pun kecuali ucapan-ucapan yang penuh sanjung-puji; jika tidak, katanya, itu akan merusak akibatnya.
Ini berguna untuk menentramkan hatiku atas citraku, tetapi kemudian aku mendapati diriku bersimpati terhadap Fulvia atas takdir masa depannya: laki-laki lain itu tak berharga; aku harus memperingatkannya bahwa kesempurnaan yang ia dapatkan bersamaku takkan pernah terjadi lagi bersama yang lain. Ia menjawab bahwa ia juga merasa kasihan kepadaku, sebab kebahagiaan kami berasal dari kesamaan kami, sekali berpisah kami berdua akan kehilangan kebahagiaan itu; tetapi demi menjaga kebahagiaan itu untuk beberapa saat lebih lama, kami harus menenggelamkan diri kami sepenuhnya ke dalamnya tanpa membayangkan bahwa kami bisa mendefinisikan kebahagiaan itu dari luar.
Kesimpulan yang kudapatkan dari luar, sambil melambai-lambaikan saputanganku kepadanya dari atas kapal ketika jangkar dinaikkan, adalah ini: pengalaman yang telah sepenuhnya tinggal dalam diri Fulvia sepanjang waktu ketika ia bersamaku bukanlah suatu penemuan atas diriku dan bahkan bukan penemuan atas cinta atau seorang lelaki, melainkan penemuan atas dirinya sendiri; bahkan dalam ketakhadiranku, penemuan ini, sekali bermula, takkan pernah berakhir; aku hanyalah sebuah instrumen.[]

(Terj. Lutfi Mardiansyah)