Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Zaman Sunyi yang Mengerikan

Zaman Sunyi yang Mengerikan
(Agus Salim)


Malam itu saya mengistirahatkan mata saya dari layar komputer dengan membawanya ke jalan raya, memandangi lanskap kota. Dengan sepeda motor saya mengelingi jalanan sekitaran kota. Mata saya senang ketika melihat sekumpulan remaja atau anak-anak yang masih sekolah berkumpul di kafe-kafe. Itu menandakan mereka senang bersosialisasi. Tetapi, rasa senang itu berganti menjadi sedih setelah kemudian saya tahu mereka berkumpul tanpa aktivitas komunikasi. Mereka diam seperti tidak punya mulut dan hanya jari-jemari mereka saja yang sibuk bergerak-gerak di layar ponsel. Mereka sibuk mencuci otak mereka dengan segala informasi yang ada di ponsel itu.
Tetapi, bukan baru kali itu saya melihat manusia-manusia pendiam. Di kantor, di jalan raya, di warung, dan di rumah-rumah (termasuk rumah saya), bahkan di mobil, juga ada. Mengerikan, pikir saya. Sungguh sangat mengerikan zaman sunyi seperti itu. Yang lebih mengerikan lagi, saya melihat satu keluarga (bapak, ibu, dan dua anaknya) duduk di beranda saling diam dan memfokuskan mata mereka pada ponsel. Mereka seperti orang asing yang tidak saling mengenal. Dan hanya akan bicara ketika butuh sesuatu. Misalnya, Ma, ambilkan rokok Papa di laci. Ma, ambilkan minum, aku haus. Nak, tolong matikan kompor. Hanya seperti itu. Dan waktu diam mereka bukan hanya sebentar, tetapi lama. Sungguh disayangkan, kesempatan yang diberikan “waktu” untuk berinteraksi dibuang percuma. Setelah capek main ponsel mereka masuk dan tanpa suara lagi.
Apakah mereka sadar, bahwa waktu yang terbuang tidak bisa diminta kembali? Apakah sudah tidak ada yang penting lagi untuk dibicarakan? Misalnya bertanya, Nak, bagaimana hasil ulanganmu? Nak, apakah ada pejalaran sulit yang tidak kau mengerti? Pa, apakah kau ada masalah di kantor? Ma, apakah uang belanja masih cukup? Ma, bagaimana perkembangan sekolah anak-anak? Dan bla-bla-bla. Sekali lagi, mengerikan. Bayangkan, jika semua manusia di dunia ini seperti itu, apa yang terjadi? Bisa-bisa bumi ini menjadi kuburan megah bagi suara-suara. Bisa-bisa rumah hanya jadi tempat bersarang untuk tidur, makan, berak dan sisanya hanya menjadi sarang kesunyian yang pekat.
Lama-kelamaan kegandrungan pada ponsel menjadi sangat mengkhawatirkan. Bukan hanya soal kesunyian yang diciptakan. Tetapi juga pada perkembangan psikologi manusia. Saya pernah melihat anak melawan sama ibunya karena ibunya dianggap mengganggu saat dia lagi serius main game. Saya pernah melihat istri melawan sama suaminya gara-gara suaminya mengganggu kekhusyukan dia saat nonton drama Korea. Saya pernah melihat suami membentak istrinya gara-gara istrinya tak sengaja menyenggol tangan suaminya yang sedang fokus pada ponsel. Intinya, seolah ada warning tak tertulis, bahwa tidak boleh ada yang mengganggu kesunyian di saat mata, pikiran, jari-jemari sedang terkonsentrasi pada ponsel. Duh, ini sangat menyeramkan.
Saya yakin, Martin Cooper, saat menciptakan ponsel, memiliki keinginan untuk memudahkan manusia dalam hal komunikasi jarak jauh. Menjadikan yang jauh agar dekat, seolah-olah sedang bicara saling berhadap-hadapan dan komunikansi bisa dilakukan di mana saja selama ada signal.  Penemuan Martin Cooper terus dikembangkan demi menyempurnakan sesuatu yang telanjur ada dengan tujuan: demi memudahkan manusia dalam segala hal. Sehingga semuanya terasa ada digenggaman. Kita tentu merasakan kemudahan apa saja yang dirasakan ketika sudah menggenggam ponsel pintar. Semuanya ada. Mau ini mau itu, tinggal pencet. Apa yang diinginkan datang tanpa harus dijemput. Ketika kita ingin nonton film, tidak harus ke bioskop, tinggal duduk di kursi dan buka aplikasi youtube. Ketika kita ingin tahu sesuatu, kita tinggal masukkan kata kunci di mesin pencari Mbah Google, terpampanglah banyak pilihan yang bisa dipilih sesuai kebutuhan. Bukankah ini sangat menyenangkan? Satu benda bisa mengambulkan (anggap) semua permintaan?
Kesalahan manusia pengguna ponsel hanyalah kurang bisa mengendalikan diri dan tak menyisakan waktu untuk membangun komunikasi di dunia nyata. Budaya silaturahmi menjadi berkurang (hampir tidak ada) karena orang tinggal bilang, “Maafkan saya jika ada salah, kosong-kosong ya,” atau “kita bicarakan di ponsel saja, saya sedang capek keluar rumah.” Lebih gilanya lagi adalah membiarkan anak-anak yang tidak cukup umur memegang ponsel sendiri. Alasan orangtua seragam, biar “kaprah”. Apa jadinya? Sejak dini mereka sudah membangun dunia kesunyian di sekitar mereka. Saya sering melihat anak-anak yang masih berstatus murid sekolah dasar berkumpul di depan rumah saya. Jumlah mereka banyak, tetapi saling menyimpan suara. Mereka sibuk mengatasi permainan game di ponsel. Saya pun bertanya-tanya dalam hati saya, jika ini terus dibiarkan, maka jangan disalahkan jika mereka tumbuh sebagai manusia individualistik  yang egois.
Tentu kita semua tidak ingin membiarkan anak-anak kita tumbuh menjadi seperti yang saya sebut. Masih ada waktu untuk mengubah pola hidup anak-anak kita. Dan tentunya harus dimulai dari kita sendiri. Saya tidak perlu merinci apa yang harus kita lakukan dan silakan cerna sendiri. Toh ada Mbah Google yang bisa menjawab apa yang tidak kita tahu. Benar, bukan?  

Asoka, 2019.