Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Episode Seekor Burung


Episode Seekor Burung
(Pangerang P. Muda)







Tidak pernah terpikir sebelumnya bila kelak, dalam hidupku, seekor burung akan ikut campur.

Aku sedang lari pagi ketika ada yang menabrak punggungku. Aku mengira seseorang baru saja melempar sesuatu dan mengenai punggungku. Saat menoleh, ternyata ada seekor burung menggelepar di belakang sepatuku. Burung itu telentang, kedua kakinya teracung seakan menunjuk-nunjuk diriku.

Karena kasihan, aku mengambilnya dan membawa pulang. Entahlah, apakah burung itu memang sudah sakit, atau justru semaputnya akibat menabrak punggungku. Kubayangkan serupa pesawat yang menabrak tebing.

Tidak ada luka di tubuhnya. Kondisinya hanya lemah, seperti kurang makan. Aku bukan pecinta burung, aku merawatnya lebih karena rasa bersalah. Tiga-empat hari berikutnya, saat kondisinya sudah mulai kuat, matanya telah pula cerah dan berseri-seri, kutawarkan burung itu ke teman-temanku. Namun, seperti diriku, mereka pun tidak ada yang punya hobi memiara burung.

Penolakan mereka rata-rata dengan alasan, “Bikin repot. Salah urus lalu mati, malah berdosa.”

Saat mulai lincah, coba kuterbangkan saja burung itu. Melepas ke mana ia suka. Ia hanya terbang setinggi atap lalu hinggap di bubungan. Bahkan kemudian turun kembali, meniti bagian atas pagar, mirip anak kecil yang berjinjit belajar berjalan.

Kucoba tak acuh. Mungkin burung itu serupa perempuan yang minta diperhatikan. Kubiarkan saja di luar rumah. Walau pintu tidak kututup, tapi kukesankan dan semoga burung itu mengerti, bahwa ia boleh saja terbang ke mana saja ia suka. Aku tidak akan peduli.

Sejam kemudian, burung itu malah kutemukan di dapur, mencangkung di atas pegangan tabung gas.

***

Bila terus berada di rumah kami, burung itu bisa terlantar. Kesibukan pekerjaanku tidak menyisakan waktu untuk mengurusi seekor burung. Demikian pula aktivitas istriku, dan dia malah bisa sewot bila diminta membantu memelihara burung itu.

Aku berpikir, bila burung itu tak terurus lalu mati di rumahku, sama saja akuk yang membunuhnya. Kuputuskan membelikannya sangkar. Di dalam sangkar burung itu bisa hidup lebih nyaman, tidak lagi hinggap di mana saja ia mau. Aku pun tinggal menaruh pakannya di situ. Tidak serepot bila terus menyodorinya makanan.

Sangkarnya kugantung di atas sudut teras. Pintu sangkar kubirkan terbuka, agar burung itu tahu aku membebaskan ia memilih hidup yang disukainya. Ia bisa tinggal di sangkar sama bebasnya bila ia ingin terbang lepas ke mana pun ia mau.

Suatu hari, sepulang kerja, kulihat sangkarnya kosong. Bagi penyuka burung, menemukan burung peliharaannya menghilang dari sangkarnya pasti langsung kelabakan dan uring-uringan. Aku sebaliknya, justru senang melihat sangkar itu kosong. Berarti burung itu telah pergi, memilih jalan hidupnya sendiri, dan tidak lagi membuatku repot dan terus memikirkannya.

Kegembiraanku tidak bertahan lama. Burung itu kutemukan mengkerut di bawah kursi teras, kakinya berkelejot dan di bulu-bulunya ada bercak darah. Saat kuperiksa dengan lebih teliti, kutemukan pula luka-luka di tubuhnya. Tuduhanku langsung tertuju ke kucing peliharaan tetangga yang memang suka menyelinap ke sini mencari sisa-sisa makanan.

Tanpa sadar kupekikkan umpat, “Kucing sialan!” Jelas sekali kucing itu tidak ingin menghabisi burung. Ia hanya memain-mainkan, mungkin serupa anak-anak yang memainkan dan menendang bolanya ke sana kemari, dan cakar-cakar tajam membuat luka di tubuhnya.

Burung malang ini kembali kurawat. Mendadak terbit di pikiranku: andai kucing itu sekalian saja membunuhnya, dan memakannya, urusannya tentu sudah selesai. Dengan meninggalkan dalam kondisi sekarat begini, jelas aku lagi yang direpotkan. Aku tidak sampai hati membiarkannya mati, sebelum nyawanya memang benar-benar lepas. Serasa aku juga selalu diingatkan, bagaimana riwayat burung ini bisa hadir dan menjadi penghuni di rumah kami; yang kali ini, entah kenapa, mulai kupikirkan jangan-jangan memang sengaja dikirim dari langit untukku.

Setelah mengobati lukanya, burung itu kumasukkan kembali ke dalam sangkar. Pintu sangkar tidak lagi kubiarkan terbuka. Kusesali sikapku tempo hari yang membiarkan pintu sangkar terbuka, yang malah membuatnya terjatuh alih-alih terbang ke alam luas. Kondisinya belum sekuat yang kuduga.

Beberapa hari kemudian, melihat kondisinya kembali membaik, kuulang lagi menawari teman-teman sekantorku untuk memiliki burung itu. Kali ini dengan promosi, “Lengkap dengan sangkarnya, sekalian dengan pakan untuk persediaan beberapa bulan ke depan.” Melihat belum ada yang berminat, segera kutambahkan, “Burung itu berbakat sangat setia pada yang memeliharanya. Dia mulai pula belajar memperdengarkan kicau yang merdu.”

Karena reaksi teman-teman lelaki tidak ada yang menyambut, akhirnya, merasa putus asa, kutawarkan pada teman perempuan, “Mau burung?”

“Maaf, Pak, burung yang di rumah saja tidak habis-habis, malah mau ditambah satu lagi,” jawabnya genit sambil berlalu.

***

Saat kebingungan, aku teringat tempat di mana aku membeli sangkarnya. Di sana juga dijual burung. Kupikir lebih baik menitipkan di sana. Burung itu bisa berkumpul dengan sesama spesies burung lainnya, sekalian terus melatih kicaunya. Syukur-syukur bila ada pecinta burung membelinya.

Sempat terpikir untuk memberikan saja, tapi kuurungkan karena merasa risih dan terkesan sombong. Jadi aku mengaku saja dititip jual.

 “Mau dijual berapa?” tanya penjual itu.
“Terserah berapa saja. Kalau laku, potong saja komisinya, ongkos titip dan sekalian harga pakannya selama di sini,” kataku, amat lega penjual burung itu bersedia menerimanya.

***

Nasib burung itu sebenarnya mulai kulupakan. Sudah berhari-hari sejak kutitip di penjual burung itu. Namun, di suatu pagi menjelang berangkat kerja, aku dikagetkan dengan telepon penjual itu. Baru teringat aku dulu memberikan nomor ponselku agar bisa menghubungiku bila burung itu sudah laku.

Aku mengira penjual itu akan mengabarkan burung titipanku telah laku. Namun kira-kiraku terjungkir. “Pak, burungnya diambil saja, deh. Tidak ada yang minat beli, padahal sudah saya kasih harga terendah,” telepon penjual itu menguik di kupingku. Dia juga menambahkan, “Bila terus dititip, ongkos pakannya bisa lebih mahal dari harga burungnya nanti.”

Karena penjual itu terus mendesak, dan tidak mau tahu lagi, aku jadi tidak enak juga. Akhirnya burung itu kujemput da kubawa pulang ke rumah.

***

Sepertinya nasibku, dan nasib burung itu, memang harus bersama. Kucoba berdamai saja dengan keberadaannya. Kicaunya di pagi hari mulai coba kunikmati. Kala membuka pintu sangkarnya untuk menyodori pakan dan minum, kucoba pula menikmati sensasi lonjak-lonjak dan angguk-angguk gembiranya menyambut uluran tanganku. Mengingat kembali episode perjalanan nasibnya, agaknya ia memang berjodoh di rumah ini. Mungkin saja hatinya telah tertambat di hati tuannya.

Hari-hari bersamanya terus kujalani, sampai di suatu pagi yang bergerimis, kurasakan ada yang tidak seperti biasanya. Tidak terdengar ada kicau merdu dari sudut teras.

Kusangka burung itu sedang sakit, atau ikut kedinginan sampai tidak enak badan. Kodongakkan kepala melihat sangkarnya. Sangkar itu kosong, tapi pintu sangkar tidak dalam keadaan terbuka. Tidak mungkin terjadi lagi insiden seperti tempo hari, terjatuh lewat pintu sangkar yang terbuka lalu menjadi bola mainan kucing tetangga. Kondisinya sekarang jauh berbeda, sudah sangat sehat dan lincah.

Ketika kuperiksa dan kulihat pengunci pintu sangkar ternyata terpasang, jelaslah apa yang tejadi. Burung itu telah dicuri!

Kupastikan pencuri itu sengaja meninggalkan sangkarnya, hanya mengambil burungnya, karena membawa-bawa sangkar yang ada burungnya di tengah malam pasti langsung dicurigai. Kubayangkan saja pencuri itu hanya memegangnya, atau mungkin menyurukkan ke balik jaketnya.

Yang terus kupikirkan, bahkan berhari-hari kemudian, kenapa pula ada pencuri yang meminati burung itu? Sudah kutawarkan ke mana-mana tidak ada yang mau, sudah dipajang berhari-hari di kios penjual burung juga tidak ada yang menawar, lalu malah repot-repot mencurinya? Apa istimewanya burung kecil yang, sampai hari ketika cerita ini kutulis, tidak juga kuketahui jenisnya itu?

Yang membuatku bersedih, justru ketika aku mulai menyukainya, mulai merasa sehati dan sejodoh dengannya, malah nasibnya harus berakhir di tangan pencuri! Ada saat ketika aku mulai kangen kicaunya, yang menyambutku bila keluar ke teras, demikian pula bila aku pulang kerja. Aku kangen gerak gembira dan patukan-patukannya yang bersemangat bila aku menyodorinya makanan. Aku merasa ada yang kurang, karena kebiasaanku buru-buru ke teras bila bangun pagi lalu bersiul-siul bersamanya, kini mendadak hilang.

Tidak pernah terpikir sebelumnya bila kelak, dalam hidupku, ternyata seekor burung ikut campur. Kali ini, aku benar-benar merasa kehilangan.

Parepare, Januari 2018

--------------------------------------------------------------------------------- 
*Diambil dari buku kumpulan cerita pendek Pangerang P. Muda: Tanah Orang-Orang Hilang, terbitan Basabasi, 2019. Dalam buku kumpulan cerita tersebut ada 20 cerpen yang kesemuanya, dengan gaya kisahan dan bahasa indah, sangat menarik untuk dibaca sampai selesai. Penasaran, jangan pikir panjang lagi, silakan buru dan beli buku itu. Bisa langsung ke penerbit atau ke penulisnya. Oke!