Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Gandum Sebesar Telur


Gandum Sebesar Telur

(Leo Tolstoy,1886)






Pada suatu hari beberapa anak menemukan, di dalam suatu jurang, sebuah benda yang begitu mirip biji gandum, dengan rekahan memanjang membentuk alur di bagian tengahnya. Namun bentuknya jauh lebih besar, serupa telur ayam. Seorang pelancong yang kebetulan melintas melihat benda unik itu, lantas membelinya dengan harga lima kopek*. Ia kemudian membawanya ke kota dan menjualnya kepada Tsar** sebagai benda langka.
Tsar memanggil para penasihatnya dan memerintahkan mereka untuk memeriksa benda aneh itu—apakah sebutir telur atau gandum? Orang bijak itu kemudian menimbang-nimbang dan merenungkannya, namun ia tak dapat memastikan benda macam apa itu. Hingga suatu waktu ketika benda itu tergeletak di pinggir jendela, seekor ayam menyeruak masuk dan mematukinya; menciptakan sebuah lubang yang, bagi siapa pun yang melihatnya akan segera mengetahui dengan pasti bahwa itu adalah sebutir gandum. Dengan tergesa sang penasihat menemui Tsar dan berkata:
"Ini adalah biji gandum."
Tsar merasa takjub atas kenyataan tersebut, ia lantas mengeluarkan titah untuk menyelidiki lebih dalam tentang kapan dan di mana gandum jenis itu pernah ditanam. Sang penasihat berfikir keras, berusaha mengingat-ingat, membolak-balik berbagai literatur, tetapi ia tidak menemukan petunjuk apapun. Jadi, mereka kembali menghadap raja dan berkata:
"Kami tak berhasil mendapatkan jawaban. Benda seperti ini tidak pernah tercatat dalam buku-buku kami. Bila Tuan berkenan, baik kiranya jika mengumpulkan para petani; mungkin ada diantara mereka pernah mendengar dari ayah mereka tentang kapan dan dimana biji-bijian seperti ini pernah tumbuh.”
Tsar langsung menugaskan pelayannya untuk membawakan kehadapannya seorang petani yang sudah sangat tua; tidak berselang lama, para abdi itu pun berhasil menghadirkan seorang petani sesuai kehendak Tsar. Ia sudah sangat renta dan bungkuk. Wajahnya pucat dan tak lagi memiliki gigi. Lelaki tua itu berjalan terhunyung-hunyung menghadap Tsar dengan bertumpu pada dua buah tongkat.
Tsar menunjukan kepadanya biji aneh itu. Meskipun sebenarnya lelaki tua itu tak mampu melihat dengan jelas, ia tetap memeriksanya; meraba-raba seluruh tekstur menggunakan jemari tangannya.
Raja kemudian bertanya:
“Dapatkah kau ceritakan, wahai pria tua, dimanakah benda seperti ini tumbuh? Apakah kau pernah menabur benih serupa ini di ladang mu? Atau setidaknya kau pernah membelinya di suatu tempat ketika kau muda dulu?”
Petani tua itu tuli, sehingga sulit baginya untuk mendengar tiap kata yang keluar dari mulut sang Raja, hanya dengan bersusah payah akhirnya ia mampu memahami maksudnya.
"Tidak," akhirnya ia berkata. Dengan terbata ia meneruskan, "Hamba tidak pernah menabur ataupun menuai gandum seperti ini di ladang hamba, begitu juga tak pernah membelinya di manapun. Jika kami membeli gandum, maka bentuknya selalu kecil, persis seperti gandum yang tumbuh saat ini. Sebaiknya tuan bertanya pada Ayah hamba. Mungkin dia pernah mendengar dimana gandum semacam ini ditanam.”
Kemudia Tsar menyuruh lelaki tua itu untuk memanggil Ayahnya. Setelah melalui pencarian singkat, Ayah dari pria tua itu berhasil ditemukan. Ia datang menghadap sang Raja dengan tergopoh menggunakan sebilah tongkat. Tsar memperlihatkan butiran gandum itu pada orang tua yang, rupanya masih dapat melihat dengan jelas. Lalu Tsar bertanya kepadanya:
“Apakah kau mengetahui, wahai Pak tua, dimana kiranya gandum seperti ini ditanam? Apakah kau pernah membeli gandum serupa ini di suatu tempat? Pernahkah kau menanamnya?
Meskipun indra pendengaran orang tua itu sudah sangat lemah, namun ia masih dapat menangkap arah pembicaraan Tsar, bahkan jauh lebih baik dari anaknya.
"Tidak," ia berkata, "Hamba tak pernah menabur maupun menuai gandum seperti ini di ladang hamba. Begitu pula hamba tidak pernah terlibat penjualan atau pembelian benda serupa ini. Sebab, uang belum lagi digunakan pada masa hamba dulu. Setiap orang menghasilkan gandum dari tangannya sendiri. Jika ada barang lain yang kami butuhkan, maka kami akan saling berbagi. Hamba tidak tahu di mana biji seperti ini pernah di tanam. Meskipun gandum yang kami hasilkan jauh lebih besar dan menghasilkan tepung lebih banyak dibanding gandum yang ada sekarang, namun sungguh hamba tak pernah melihat yang sebesar ini. Akan tetapi hamba pernah mendengar dari ayah hamba bahwa gandum pada masa ia menanam dulu jauh lebih baik daripada ketika hamba masih berladang. Ukurannya lebih besar dan menghasilkan tepung lebih banyak. Sebaiknya Tuan menanyakan langsung kepadanya.”
Kemudian Tsar memerintahkan agar ayah dari pria tua itu datang menghadap. Petani tua itu masuk ke Istana dengan leluasa, tanpa bantuan sebatang tongkat pun. Matanya terlihat jernih dan bersinar terang, pendengarannya tajam, dan ia berbicara dengan begitu lancar. Sang Raja lantas memperlihatkan gandum ajaib itu kepadanya.
"Ooh...sudah begitu lama aku tak melihat gandum sebagus ini," kakek tua itu berkata sembari menjatuhkan mulutnya menuju biji gandum. Menggigit bagian ujung, menggoyang-goyangkan lidah dan bibirnya. Setelah mencecap selama beberapa saat, ia memekik. "Persis."
"Katakanlah wahai Kakek," Tsar bertanya kembali. "Kapan dan di mana gandum seperti ini pernah di tanam? Pernahkah kau menaburnya? Atau, mungkin kau pernah membelinya dari orang lain?”
Kakek itu menjawab:
"Pada masa hamba, gandum seperti ini tumbuh dimana-mana. Gandum seperti inilah yang hamba tabur, tanam, dan tumbuk; serta hamba makan untuk keperluan hidup."
Raja kembali bertanya:
"Ceritakanlah kepadaku, apakah kau membelinya di suatu tempat atau kau menanamnya di ladang mu sendiri?"
Kakek tua itu tersenyum.
"Pada masa hamba," ia berkata. "Tidak seorang pun pernah berpikir untuk melakukan dosa besar seperti menjual atau membeli gandum. Kami tidak tahu apapun tentang uang. Setiap orang memiliki gandum sebanyak yang ia butuhkan."
"Ceritakan padaku, duhai Kakek, di manakah letak ladangmu itu? Dimana tempat kau berhasil menanam gandum serupa ini?"
"Ladang hamba adalah tanah Tuhan. Di mana saja Hamba membajak, maka di situlah ladang hamba. Tak ada harga yang harus dibayar untuk sebidang tanah dan tidak ada seorang pun yang menyebut sepetak lahan sebagai miliknya. Tenaga, adalah satu-satunya hal yang menjadi milik pribadi."
"Jelaskan padaku dua hal lain," ujar Tsar antusias. Pertama, kenapa gandum seperti ini berhenti tumbuh? Kedua, mengapa cucumu berjalan dengan dua tongkat dan putramu dengan satu tongkat, sementara kau sendiri dapat melangkah dengan begitu mudah tanpa memerlukan penopang. Lagi pula penglihatanmu masih begitu baik, gigimu kuat, dan bicaramu jelas serta lugas."
Kakek itu menjawab:
Hal ini bisa terjadi karena orang-orang sudah berhenti untuk hidup dari keringatnya sendiri, dan bergantung pada kerja keras sesama mereka. Di masa kami dulu, manusia hidup menurut Firman Tuhan. Kami berdiri di atas kaki kami sendiri dan tidak berhasrat merampas apa yang bukan menjadi hak kami.

Catatan:

*Uang tembaga Rusia (100 Kopek setara 1 Rubel)
**Gelar pemimpin Kekaisaran Rusia

Cerpen “Gandum Sebesar Telur” merupakan alih bahasa dari versi bahasa Inggris yang berjudul “A Grain As Big As A Hen's Egg” (sumber: online-literature.com). Versi Asli berbahasa Rusia dapat dilihat di tolstoy.ru/