Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pintu yang Selalu Dibiarkan Terbuka


Pintu yang Selalu Dibiarkan Terbuka

(H. H. Munro, 1914)








“Bibi saya akan segera pulang, Pak Nuttel,” ucap gadis berusia 15 tahun itu dengan amat tenang, “sementara itu biarlah saya yang menemani Bapak.”
Framton Nuttel mencari-cari jawaban yang sekiranya dapat meyenangkan gadis itu, perkataan yang tidak akan membuat sang bibi jengkel. Seharusnya ia sedang menjalani pengobatan untuk penyakit sarafnya. Ia ragu apakah kunjungan ramah-tamah pada sejumlah orang yang tak dikenalnya ini akan dapat meringankan penyakitnya.
“Aku mengerti kesulitanmu,” begitu kata kakaknya sewaktu lelaki itu sedang mempersiapkan kepindahannya ke pedesaan. “Kau akan kesulitan mengendalikan diri dan tak bicara pada siapapun, namun penyakitmu malah akan memburuk kalau terus-terusan menyendiri. Akan kubuatkan surat pengantar untuk semua orang yang kukenal di sana. Seingatku, beberapa di antaranya cukup baik.”
Framton bertanya-tanya dalam hati apakah gerangan Nyonya Sappleton termasuk di antara yang baik itu. Sekarang ini perempuan itulah yang hendak ditemuinya dan diberinya surat pengantar.
“Bapak sudah kenal dengan penduduk di sekitar sini?” tanya si keponakan itu lagi ketika dipikirnya mereka telah cukup lama duduk dalam keheningan saja.
“Hampir tak seorangpun,” ujar Framton. “Kakak saya dulu tinggal di sini, sekitar empat tahun lalu. Dia yang membuatkan surat pengantar ini untuk beberapa warga di sini.”
Perkataan itu diucapkannya dalam nada yang muram.
“Kalau begitu, Bapak juga tidak begitu kenal dengan bibi saya, ya?” lanjut si gadis anteng itu.
“Cuma nama dan alamatnya,” Framton mengakui. Dalam hati ia bertanya-tanya apakah Nyonya Sappleton sudah menikah. Mungkin saja perempuan itu sudah menikah sedang suaminya sudah meninggal. Namun masih terasa adanya hawa lelaki di ruangan itu.
“Kesedihan bibi saya dimulai sejak tiga tahun yang lalu,” sekonyong-konyong anak itu berkata lagi. “Berarti pada waktu itu kakaknya Bapak sudah pindah.”
“Kesedihan?” ulang Framton. Entah bagaimana, dalam suasana pedesaan yang menenteramkan ini kesedihan terasa jauh sekali.
“Bapak mungkin ingin tahu kenapa pintu di belakang sana dibiarkan terbuka lebar. Padahal sekarang sudah sore. Sudah bulan Oktober pula,” gadis itu berkata seraya menunjuk pintu besar yang mengarah pada rerumputan di luar.
“Sepanjang tahun ini udaranya cukup hangat,” ujar Framton,” tapi apakah ada hubungannya antara pintu itu dan bibimu?”
“Tepat tiga tahun yang lalu, lewat pintu itu suami Bibi dan kedua adiknya pergi untuk berburu. Mereka tidak pernah kembali. Dalam perjalanan menuju tempat berburu itu mereka semua tenggelam dalam lumpur isap. Waktu itu hujan kadang turun biarpun sedang musim panas, dan tempat-tempat yang biasanya aman untuk dilewati pun tahu-tahu menjadi rawan bahaya. Tubuh mereka tidak pernah ditemukan. Menyedihkan sekali.” Ketenangan dalam suara anak itu berangsur-angsur melemah. “Bibiku yang malang itu selalu merasa mereka akan kembali suatu hari nanti. Juga si anjing cokelat kecil yang hilang bersama mereka. Lalu mereka akan masuk lewat pintu itu seperti biasanya. Itulah sebabnya pintu itu dibiarkan terbuka setiap sore sampai larut malam. Kasihan bibiku sayang. Bibi sering bercerita padaku mengenai kepergian mereka waktu itu. Suami Bibi menyampirkan mantel putih di lengannya. Dan Ronnie, adiknya yang paling kecil, mendendangkan lagu yang biasa dinyanyikannya untuk mengganggu Bibi. Bibi bilang lagu itu membuatnya gelisah. Kadangkala pada sore yang tenang seperti ini, entah kenapa saya merasa mereka akan datang melalui pintu itu—“
Gadis itu terdiam dan bergidik. Framton merasa lega ketika tahu-tahu sang bibi muncul di ruangan itu dan meminta maaf karena datang terlambat.
“Sepertinya Vera sedang menghibur Anda,” ucapnya.
“Dia gadis yang sangat menawan,” ujar Framton.
“Saya harap Anda tidak keberatan pintu di sebelah sana dibuka,” kata Nyonya Sappleton dengan ringannya, “suami saya dan adik-adiknya akan segera pulang dari berburu. Mereka selalu masuk lewat sana. Hari ini mereka berburu burung di dekat area yang berlumpur, oh, mereka akan mengotori karpetku yang malang ini. Kalian para lelaki menggemari kegiatan yang semacam itu, kan, ya?”
Dengan riang perempuan itu terus membicarakan soal berburu, langkanya burung, dan harapan untuk dapat melanjutkan perburuan pada musim gugur. Framton sendiri merasa ngeri. Ia berusaha keras mengalihkan pembicaraan pada topik yang lebih ceria, namun tidak sepenuhnya berhasil. Ia menyadari bahwa sang nyonya rumah tidak begitu menaruh perhatian kepadanya. Mata perempuan itu berkali-kali terarah pada pintu yang terbuka itu, dan hamparan rerumputan di sebelah luarnya. Sungguh apes nasib Framton. Berkunjung pada hari yang tidak tepat.
“Dokter menyuruh saya untuk banyak-banyak beristirahat yang tenang, dan tidak banyak gerak,” ujar Framton. Ia mengira orang yang belum mengenalnya akan berminat untuk mengetahui soal penyakitnya hingga detail, termasuk penyebab dan pengobatannya. “Untuk makanan, pantangannya tidak banyak,” lanjutnya.
“Begitu, ya?” Nyonya Sappleton terdengar jemu. Mendadak perhatiannya tertarik kembali namun bukan pada perkataan Framton.
“Akhirnya mereka datang juga!” serunya. “Pas dengan waktunya minum teh. Aduh, mereka kelihatannya kotor sekali!”
Framton merasa agak merinding. Ia berpaling pada keponakan perempuan itu. Tatapannya menunjukkan simpati. Namun anak itu tengah memandang ke arah pintu yang terbuka itu. Matanya memancarkan ketakutan. Serta-merta Framton memutar posisi duduknya dan melihat ke arah yang sama dengan terkejut.
Dalam suasana senja yang kian temaram, tampak tiga sosok melintasi rerumputan menuju pintu. Ketiganya memegang senapan. Salah seorang di antara mereka menyampirkan mantel berwarna putih di bahunya. Seekor anjing berwarna cokelat yang tampak kelelahan berlari-lari kecil di dekat kaki mereka. Tanpa banyak suara mereka semakin mendekat ke arah rumah. Lalu dari dalam kegelapan itu terdengar suara seorang lelaki muda menyanyi.
Seketika Framton menjangkau topi dan tongkatnya, lalu terbirit-birit ke luar melalui pintu depan dan gerbang. Hampir saja ditabraknya orang yang sedang bersepeda.
“Kami sudah sampai, sayangku,” ujar lelaki yang menyandang mantel putih itu sembari masuk melewati pintu, “agak becek, tapi selebihnya kering. Siapa yang barusan lari sewaktu kami datang?”
“Orang yang sangat aneh, Pak Nuttel itu,” kata Nyonya Sappleton, “dia cuma membicarakan soal penyakitnya saja, terus lari tanpa pamit atau permisi dulu begitu kalian sampai. Seperti yang melihat hantu saja.”
“Mungkin karena anjingnya,” ujar keponakannya dengan kalem, “tadi orang itu bercerita padaku kalau dia sangat takut pada anjing. Pernah sewaktu berada di India—entah India sebelah mana—dia dikejar-kejar sampai kuburan oleh sekumpulan anjing liar. Akibatnya dia harus bersembunyi semalaman di dalam kuburan yang baru digali sementara anjing-anjing itu mencarinya. Sarafnya jadi terganggu.”
Memang gadis itu sangat pandai mengarang cerita.[]

Diterjemahkan dari cerpen H. H. Munro “The Open Window” (pertama kali diterbitkan dalam kumpulan Beasts and Super-Beasts, 1914) yang telah disederhanakan oleh G. C. Thornley, M. A., Ph. D. dalam Longman’s Simplified English Series: British and American Short Stories (Longmans, Green and Co Ltd, 1969)