Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Puisi-Puisi Warih Wisatsana


Puisi-Puisi Warih Wisatsana
(KOMPAS, MINGGU, 8 SEPTEMBER 2013)




Begitulah Setiap Malam


Begitulah setiap malam kami bertemu
meniru tetes air menembus dinding
membayangkan seekor anak burung
tidur semusim di liang batu

Bila kami jemu berbagi cerita
Ia membujukku mengenakan topeng ibumu
Berulang meyakinkanku
bahwa tubuhmu hanyalan pualam angan
genangan kenangan yang sekejap lenyap
sewaktu tangan menyentuhnya perlahan

Tubuh yang kelak jadi rabuk akar mati
biarlah kini menjelma sebatang pohon tua
di mana sepasang tupai melayang riang
tak peduli siapa pencipta patung di taman ini
tiruan dirimu yang ingin tersipu sepanjang hari

Bila aku berbaring murung di ranjang
dan enggan berbagi pandang
Seketika dirinya berpura gila
bagai seorang ayah yang gelisah
berdiri di ambang pintu hingga petang
menunggu di bungsu yang tak kunjung pulang

Atau jadi seorang kekasih putus asa
serupa tugu batu penyendiri
berdiri di simpang jalan
hingga lampu kamarmu padam

Lalu memekik dari lantai empat
mengejutkan orang-orang lewat
menduga dirinya akan nekat meloncat

Di waktu lain ia tercenung di kamar mandi
semalam membasuh wajah berkali-kali
merasa diri seekor ikan terbang terlupakan
mengigaukan nama-nama sungai dan lautan

Segera kurayu ia mengunjungi rumah piatu
seorang tua dengan langkah ragu tak sampai ke pintu
mengucapkan selamat datang seraya tertawa hampa

Kubisikkan padanya bahwa kelak begitulah nasib kita
ia hanya tersenyum seolah satu hal yang lumrah saja

Bila kami tak kunjung merasa bahagia
ia menari di depanku
menanggalkan satu persatu masa lalunya
sengaja menghalangi jalanku ke pintu
sambil berulang memecahkan piring
agar suara marahku tak terdengar nyaring

Begitulah setiap malam kami bertemu
berkali merayakan hari kelahiran
saling menyalakan lilin di depan cermin
mengecup kening dan meraba wajah masing-masing
yang entah kenapa selalu saja akhirnya serupa

2012




Umang-umang
Kepada Penyair Ketut Suwidja

Genaplah petang ini
Umang-umang yang sendiri
Berenang perlahan menuju tepi
Merelakan rumah raganya
Di kedalaman samudra

Begitulah kusaksikan semuanya dari kejauhan
Seorang pendeta mengayun genta
Penari membisikkan mantra
Tapi seperti biasa
Tak ada yang bisa menduga
Apakah pintu sorga seketika lalu terbuka

Mereka membiarkan petang puing
Melupakan sehelai rambut putihmu
Diterbangkan angin dihanyutkan malam
Di mana tak kutemukan lagi perahu ibu
Yang dulu melayarkan masa kecilmu
Mengarungi palung muasal segala tanya
Di sebalik ganggang dan bayang gelombang

Begitulah hari bermula atau berakhir tak terduga
Seperti sebutir pasir sesat tak sengaja
Ke rumah kerang atau teripang
Bertahun dalam linangan cahaya
Sebelum berkilau sempurna
Bebagai pualam rahasia hidup kita

Namun aku ini hanya orang biasa
Melihatmu dari kejauhan saja

2012



Ode Dini Hari

Seekor cicak mati sedini ini sendirian
Tubuhnya remang membayang
Menggenangi lantai dingin
Tersentuh pendar cahaya dari seberang

Tak ada sekedar sapa duka
Atau doa sederhana yang memberkatinya
Begitu saja hidupnya lintas percuma
Seakan terlupakan tanpa makna

Padahal bermalam sebelumnya
Suara riangnya melipur kita
Menggodamu dengan teka-teki nasib
Bahwa hari esok jauh lebih baik

Apakah bunyi hujan di luar itu
Adalah suara gaibnya
Atau lenguh dan keluh kita
Yang tak bersudah

Seekor cicak mati sedini ini
Harinya telah selesai
Tapi matanya masih saja terbuka
Walau hampa tanpa cahaya
Menatap ke arah gelap
Di mana senyap tak kunjung tersingkap
Sebagaimana hidup ini yang sekejap lenyap

2013



Upacara
Erawan

Berhutang pada siapakah hidup ini?

Di dekat rumahmu, sebelum gang buntu
atau sekelok sajak dari masa kanak
Seperti biasa dengan tekun dan sabar
Para penjaja itu mengacungkan patung budha
Tak peduli torehan kasar, pahatan tak selesai
memodai wajahnya yang hening ini

Melampaui siang hingga petang nanti
Mereka akan menghampiri siapapun
Mengulangi tawaran nasib baik yang sama
Sambil mengingat sebungkus nasi dan seteguk kopi
harga hari tak terganti sebelum mati melunasi janji

Selalu seperti biasa sang welas asih itu
masih terus memejamkan mata
Seakan tak tergoda nyanyian duniawi
Angan sorgawi diri kita yang tak ingin percuma
Tak kuasa menolak bujukan suka dan duka
Selubung bayang yang mengelabui pandang

Berhutang pada siapakah nasib baik ini?

Lihat gantungan kunci kayu itu
Tiruan lingga yoni yang sempurna
Menggoada mata kita hingga ke alam niskala
Merasa diri sudah sungguh wanaprasta
tapi nyatanya tak kunjung jadi pendeta
Padahal telah direntang garis dan warna
Telah dibentangkan segala aksara
Melampaui semua mantra serta seluruh rajahan rahasia

Berkali pula mengiring arakan lembu dan naga banda
Sepanjang doa dirundung kidung juga gamelan
Tikungan demi tikungan tak sampai tujuan
Jauh nian jalan pulang ke kawitan

Setiap waktu bertanya, kuyup hidup menemu jawab
Hutang piutang ini belum juga selesai terlunasi

2013


Warih Wisatsana tinggal di Denpasar, Bali.
Buku puisinya berjudul Ikan Terbang Tak Berkawan (2003)