Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Tanda Seru di Tubuh


Tanda Seru di Tubuh*
(Deasy Tirayoh)






Persis ketika bulan menggantung dan pintu rumah terbuka menghadap ke sunyi. Isi kepala Kamga mengendap di masa mereka pernah bercakap—dengan Riu. Dilepasnya kalimat-kalimat penuh kesan dari ingatan.

“Seperti apa kau menggambarkan tubuhmu?”
“Tanda seru.”
“Alasannya?”
“Filosofis.”

Saat itu Kamga enggan menafsir, pun sampai sekarang dibiarkannya tanda seru milik pikiran Riu itu berdiam sebagai misteri yang filosofis. Sebagaimana ia membiarkan pikirannya terpasung teka-teki, manakala Riu, pada satu ketika mengejutkannya dengan sebuah piringan hitam yang lama diidamkan, “Kamga, tahukah mengapa album A Night at Operabegitu melejitkan Queen?” –suara Riu terkenang. “Karena ada misteri di dalamnya,” sahut Riu menyambut kening Kamga yang mengerut.

Malam merembang, lamat harmoni bait pembuka Bohemian Rhapsody dari piringan hitam yang berotasi konstan,

__is this a real life? Is this just fantasy?
              Caught in a landslide
                        No escape from reality
                                 Open your eyes look up the sky…___

Kamga meresapi, terhenyak pada koor lagu kesayangannya, lantas bola matanya menyusur ke pintu kamar, arah jam tiga dari duduknya. Telak. Di sana terpampang poster tanda seru seperti tanda lalu lintas untuk berhati-hati. Entah kenapa Riu menyukai tanda seru dan menempelkan benda itu di sana, bukankah ia terlalu ceroboh untuk ukuran pecinta simbol berhati-hati?

Sekali lagi Kamga mencerca, tak habis pikir dengan ulah Riu yang sebegini tega. Pergi tanpa berkabar dan meninggalkannya dengan sekumpulan teka-teki yang bersilang sengkarut. Tiap kali Kamga mencoba memahami dengan menjumlahkan ingatan hasilnya selalu sama. Misteri.

Angin bertiup kecut. Malam makin jatuh.

Esok hari dimana mestinya ada Riu, yang akan menghabiskan malam dengan bincang-bincang dan hujan ciuman. Maka getir sudah terasa ketika membayangkan malam pergantian tahun tanpa Riu, napas Kamga tertarik panjang, dilepasnya kepada angin yang memilih diam menemani kesunyian Kamga.

“Jika tubuhmu dirajah, apa kau akan menorehkan tanda seru juga?” kembali percakapan mengiang di sela suara Freddy Mercury.

“Gambar segaris vertikal membelah perut sampai di atas pusar.” Saat itu Riu serius memeragakan telunjuknya.

Bentuk tanda seru yang lagi-lagi jadi favorit Riu, tetapi Riu tak merajah tubuhnya, hanya meminta Kamga menoreh garis memakai spidol ke perutnya. Kala itu, seusai malam pergantian tahun yang panjang tanpa sekejap pun terlelap—setahun lalu.

Sampai kemudian Kamga terbagun di sore yang hangat. Riu sudah tak ada di sampingnya, ditinggalkannya sebuah garis vertikal di atas pusar Kamga, seperti yang digambar Kamga di perut Riu. Bahkan mengenangnya saja, membuat Kamga memegangi perutnya sendiri.

Malam pun jatuh, sejatuh-jatuhnya ke dasar rindu yang dimiliki sekujur Kamga pada seorang Riu, perempuan dengan seluruh kekejaman yang telah merampok hati Kamga. Perempuan yang sudah meletakkan standar baru dalam pikiran Kamga, perempuan yang dengan enteng meletakkan rahasia-rahasianya. Oh, bukankah setiap rahasia memiliki harga? Pada suatu masa yang lain, Riu pernah berujar, sesuatu yang membuat kita bertahan menjalani hidup adalah rasa penasaran dari waktu ke waktu. Kamga tersenyum getir mengingat hal itu. Ya, rasa penasaran itulah harga yang tak kunjung lunas kubayarkan.

Kamga dirubung cemas, lebih dari biasa, sebab esok genap setahun Riu pergi. Pergi begitu saja. Seenaknya.

**

Jelang siang terakhir di penghujung tahun, sebuah paket tiba teruntuk Kamga. Buku bersampul retro bergambar sketsa tubuh perempuan dengan segaris vertikal membelah perutnya, tepat di atas pusar yang menjadi titik.

TANDA SERU DI TUBUH

Nama di bawah judul itu tertera menohok—Riu.

Pada lembar pertama:
Selamat tahun baru, buku ini kutulis setahun penuh dengan rindu yang meriap-riap membakar tubuhku. Terimakasih telah menjadi inspirasi. Ini kali kujawab resahmu, melalui buku.
Percayalah, bagian terbaik dari mencintai dengan bijak ialah saat bersama kita tak mabuk, dan berpisah pun kita tetap baik-baik saja.
Rindu ini terasa tegas, selayak tanda seru.

Yang barangkali masih kekasihmu:

Riu.

*

Di luar, langit malam menggantungkan bulan dengan kembang api menyelingi sinarnya. Tahun segera berganti. Benar kata Riu, semua akan baik-baik saja dalam kebijaksanaannya, namun sunyi tak bisa ditampik, meski tampaknya Kamga berseringai saat menghabiskan sepenuh malam dengan membaca tanda seru di tubuh Riu.

Lantas diputarkannya kembali Bohemian Rhapsody untuk menemani membaca buku. Mengapa Riu begitu misterius? Lagi, pertanyaan menyelipi hati Kamga. Tapi setidaknya, Kamga akhirnya mempunyai jawaban: Kami saling mencintai. Itu saja

___Ah, bukankah cinta juga adalah rasa yang misterius? Kamga terlelap.



 -------------------------------------------------------------------------------------------------------

*Diambil dari buku kumpulan cerita pendek Deasy Tirayoh: Titimangsa, terbitan Garudhawaca Jogjakarta bekerjasama dengan Rumah Bunyi Publishing Kendari, 2018. Dalam buku tersebut ada 41 cerita pendek yang unik dalam pengisahannya dan macam-macam ide cerita yang disuguhkan. Sangat mengesankan. 41 cerita dalam satu buku. Tertarik? Silakan beli bukunya.