Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

TUHAN PARA LALAT

TUHAN PARA LALAT*
(Marco Denevi, Agentina)





Lalat-lalat membayangkan Tuhan mereka, yang lalat juga. Tuhan para lalat adalah seekor lalat hijau, hitam dan kuning emas, merah jambu, putih, ungu; lalat yang tak terpahami, lalat yang maha indah, lalat yang mengerikan, lalat yang keji, lalat yang pemurah, lalat yang pendendam, lalat yang adil, lalat muda, lalat tua, tapi selalu lalat. Ada yang melebih-lebihkan ukuran-Nya sampai sebesar lembu, yang lain membayangkannya begitu mikroskopis sampai tak kelihatan. Dalam beberapa agama ia tak bersayap (“Dia terbang,” kata mereka, “tapi tak perlu sayap”). Sementara menurut yang lain jumlah sayap-Nya tak berhingga. Di sini dibilang ia punya sungut serupa tanduk, dan di sana punya mata yang mengitari seluruh kepala. Menurut sebagia ia mendengung terus menerus, menurut yang lain ia diam membisu, tapi tak kesulitan berkomunikasi. Dan untuk semuanya, saat para lalat mati, Dia mengangkat mereka ke surga. Surga adalah onggokan daging busuk, bacin dan tengik, yang bisa dimamah oleh arwah lalat sampai selama-lamanya tanpa pernah habis, dan bahwa kotoran surgawi  itu akan terus menerus terbarui dan terlahir kembali di bawah kerumunan lalat. Hanya untuk lalat-lalat baik. Sebab ada juga lalat-lalat jahat, dan bagi mereka tersedia neraka. Neraka bagi lalat-lalat yang kena azab adalah tempat tanpa tinja, tanpa sampah, tanpa limbah, tanpa bau, tanpa apa pun, tempat yang mengilap bercahaya saking bersihnya dan dipendari sinar putih cemerlang; dengan kata lain, tempat yang sungguh najis. (*)

-----------------------------------------------------------------------------------------------------







*Cerpen sangat pendek di atas diambil dari buku kumpulan cerita sangat pendek: Matinya Burung-Burung, yang diterbitkan Moka Media. Bila ingin tahu semua cerita-cerita di dalam buku tersebut, yang sangat menarik meski singkat, yang memiliki kedalaman makna meski bahasanya sederhana, bisa membeli bukunya.