Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

TULANG BELULANG TUHAN

TULANG BELULANG TUHAN*
(Yanusari Kawabata)



(Gambar by Agussalim)


Tn. Kasahara Seiichi, direktur sebuah perusahaan angkutan trem pinggiran kota; Takamura Takijuro, aktor film berseting sejarah; Tsuji Morio, mahasiswa kedokteran di sebuah universitas; Tn. Sakuma Benji, pemilik sebuah restoran Kanton—masing-masing menerima sepucuk surat yang sama dari Yumiko, pelayan Kafe Blue Heron.


Kukirimkan untuk Anda tulang-belulang. Itu adalah tulang-belulang Tuhan. Bayi saya hidup selama satu setengah hari. Dia tak punya kekuatan apa pun sejak lahir. Saya hanya menatap ketika si perawat memegang kedua kaki, menelungkupkan, lalu mengguncang tubuhnya. Akhirnya dia menangis. Kemarin siang, kata perawat, dia menguap dua kali lalu mati. Kami terbaring di ranjang yang berdampingan—oh ya, baru tujuh bulan dia sudah lahir, dan setelah terlahir ia pipis banyak sekali lalu mati.

Dia tidak mirip siapa pun. Ia bahkan tidak mirip saya sedikit pun. Dia kelihatan hanya seperti boneka kecil yang cantik. Bisakah Anda bayangkan seorang bayi dengan wajah paling mempesonakan di dunia? Dia tidak punya tanda pengenal dan tidak pula cacat. Pipinya montok, bibirnya terkatup rapat, dan setelah dia mati ada selapis darah melekat di sana. Selain itu, tak ada yang saya ingat lagi. Si perawat memujinya sebagai anak yang mempesonakan, kulitnya bening.

Jika memang dia dilahirkan sebagai anak yang malang, jika ia harus hidup sebagai anak lemah, saya kira memang lebih baik dia mati sebelum mulai mengisap susu saya atau tertawa. Saya menangisi anak ini, yang lahir tidak mirip siapa pun. Tidakkah bayi ini, dalam hatinya, ketika ia masih ada dalam rahim, berkata pada diri sendiri betapa dirinya tidak bisa mirip siapa pun? Dia datang ke dunia bersama pikiran menyedihkan ini. Dan tidakkah ia meninggalkan dunia sambil berpikir: aku harus mati sebelum dia jadi mirip sesesorang?

Anda—ah, lebih baik saya katakan ‘Anda semua’—Anda semua, sampai sekarang, bahkan jika saya tidur dengan seratus atau seribu orang pria, akan memasang wajah tak tahu, seolah hal semacam itu tidak lain hanyalah sedikit keganjilan di tengah jalan. Tapi ketika saya  hamil, wah, betapa resahnya kalian semua. Anda semua ini—memang sudah dasar kalian—datang membawa mikroskop maskulin untuk mengamati rahasia seorang wanita.

Konon kisahnya zaman kuno dulu, Hakuin, sang pendeta, menggendong di lengannya bayi seorang gadis yang tidak menikah dan berkata: “Inilah anakku.” Tuhan telah menyelematkan anakku pula. Pada si bayi dalam rahim, ketika dia sedang sedih berpikir ‘aku harus mirip siapa’, Tuhan berkata: “Anakku yang sangat kusayangi, miriplah denganku. Lahirlah sebagai tuhan. Karena kamulah anak Tuhan.”

Karena terlalu memikirkan anak ini dengan hati remuk, saya tak bisa bilang anak saya harus mirip siapa di antara kalian ini. Maka kukirimkan pada kalian semua satu bagian abunya.

Tadi sang direktur buru-buru memasukkan kotak kertas putih kecil itu ke dalam saku, dan kini di dalam mobil ia membukanya. Kembali ke kantor, setelah memanggil seorang juru ketik yang cantik agar menuliskan apa yang ia diktekan, ia memutuskan untuk merokok. Ketika ia merogoh sakunya, kotak berisi abu itu keluar bersama satu bungkus rokok Happy Hits.

Pemilik restoran mendengus abu itu, membuka koper dan menaruh kotak abu di dalamnya. Ia keluarkan tanda terima kemarin dan mengirimkannya ke bank.
Si mahasiswa kedokteran sedang naik kereta api ketika kotak abu di dalam sakunya itu penyok terkena paha seorang gadis sekolah yang seputih bunga lila. Gadis itu naik troli dan terpeleset. Ia berpikir, “Kukira aku akan menikahi gadis ini.” Ia digerakkan oleh dorongan nafsu.

Si aktor film memasukkan kotak abu itu ke dalam tas rahasia tempat ia menaruh kulit-kulit ikan dan lalat Spanyol, dalam perjalanan hendak syuting.
Sebulan kemudian, Kasahara Seiichi datang ke Blue Heron dan berkata pada Yumiko, “Seharusnya kamu kuburkan abu itu di kuil. Untuk apa kau bawa-bawa?”
“Aku? Kuberikan semua abunya pada kalian. Untuk apa aku menyimpannya?”





*Cerpen ini dikutip dari buku kumpulan cerita sangat pendek Yanusari Kawabata: CERITA-CERITA TELAPAK TANGAN, terbitan DIVA Press, 2016. Jika kalian penasaran dengan cerita-cerita lainnya di dalam buku itu, silakan hubungi DIVA Press untuk membeli buku itu.