Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Yang Dipanggil Bos


Yang Dipanggil Bos*
(Yanusa Nugroho)







Kemarin hujan deras dan banjir menggempur kota. Mobil-mobil menjadi bangkai, tak berdaya. Pohon-pohon terjungkal menghalangi jalan raya. Tapi, masih saja tak ada tanda-tanda yang ditunggunya akan datang.  

Hari ini, langit biru bersih. Awan-awan putih kapas tertempel tak beraturan. Sirus dan kumulus menjadi hiasan tak serius. Dia ingin membidikkan anak panahnya ke awan-awan itu. Dia ingin menulis surat atau kode—entah apa—dengan media langit dan cat awan berarak. Dia ingin menyampaikan pesan kepada entah siapa, namun akhirnya, disulutnya sebatang rokok dan dia terbakar.

Angin beringsut, seakan ingin menghindar darinya. Dia kesal. Korek api dinyalakannya. Sengaja, saluran gas itu dibukanya lebar-lebar dan nyala api membesar. Ditiupnya. Udara mulutnya adalah gas sulutan, tersahut api dan dia pun menjadi pemain sirkus yang menyemburkan api dari mulutnya. Panas menaik, angin terbetot tekanan udara. Angin seperti Drupadi yang hanya menjerit ketika kain penutup kemolekannya dilolosi Dursasana.

Laki-laki itu tertawa. Ada kilasan kepuasan yang tak terkira. Dia telah menundukkan angin. Dia telah membuat angin tak berdaya. Tetapi, sesaat kemudian dia muram, yang ditunggunya belum juga tiba.

“Hei ‘bos’, lagi ngapain?” tiba-tiba seseorang membuyarkan apa pun yang dimilikinya saat itu.

Laki-laki itu gugup, mengambil nampan dan lap yang ada di meja, lalu tersenyum basa-basi. Agak terbungkuk-bungkuk dia meminta jalan kepada si penegur dan menghilang ke dapur.

“Bos… tolong bikinkan kopi lima, yang satu tanpa gula, yang satu gulanya sedikit, sisanya, gulanya banyak. Teh manis 3. Tolong ke conferences room, ya.”

Yang dipanggil ‘bos’cangkir-cangkir. Kemudian menyendok kopi dan dimasukkan ke cangkir-cangkir.

“Bos, tolong ini kamu kirimkan ke sini (menunjukkan alamat yang tertera di bungkusan) sebelum jam sembilan, ya.”

Sambil memegang sendok, si bosa membaca alamat yang ada di bungkusan. Lalu, meletakkan bungkusan itu dan kembali mengisi cangkir-cangkir dengan kopi.

“Bos, tolong meja di loby dibersihkan. Tadi ada tamu yang nggak sengaja numpahin teh, cepet, ya, nggak enak dilihat.”

Laki-laki itu mulai bergegas memasukkan teh, lalu gula, lantas air panas. Bingung sesaat, lalu membuka lemari. Mengambil cairan pembersih kaca dan lap. Lap disampirkannya di pundak, botol penyemprot di saku celana. Dia, saat itu juga, ingin membidikkan anak panah ke awan-awan dan membuyarkannya, meratakannya bagai kanak-kanak memoleskan cat air ke lembaran kertas putih.

Dengan nampan di tangan penuh cangkir kopi dan teh dia bergegas ke conferences room. “Bos, jangan telat, ya, dia nunggu sebelum jam sembilan,” ucapan itu mengingatkannya pada bungkusan yang masih ada di dapur. Kian bergegas dia melangkah.

Pintu conferences room tertutup rapat. Hitam daun pintunya, membuatnya ragu, padahal sudah ratusan kali dia lewati pintu itu. Seandainya saja saat itu dia membawa busur dan anak panah, akan segera dihancurkannya gerbang Selamatangkep1di depan matanya itu.

Tepat ketika dia akan mengetuk pintu, meminta izin masuk, seseorang keluar ruangan. Daun pintu terdorong dari dalam dan menyentuh nampan yang hanya disangga satu tangan.

“Sialan, lu, ‘bos’!”
“Selamat pagi,” balas bos.

Maka, genangan darah itu pun meresap ke dalam tanah. Warnanya hitam kecoklatan, menodai karpet abu-abu di lantai 45, tepat di depan gerbang Selamatangkep. Pintu yang terkuak, sempat menyemprotkan bersitegang  yang mendadak reda  oleh makian seseorang yang membuka pintu. Bos kita hanya mematung, tak tahu harus bagaimana menelan kenyataan. Matanya tak melihat awan-awan putih yang ingin dibidiknya, tetapi….

Sesaat kemudian dia memunguti cangkir-cangkir yang bergelimpangan dan memuntahkan seluruh isi perutnya ke karpet, dan mencoba menutup gendang telinganya dari makian dan semburan kesal campur amarah dan dia memilih diam saja.

Dengan nampan yang sama, disusunnya cangkir-cangkir itu sedemikian rupa an dibawanya kembali ke dapur. Lalu, dia pun melakukan ritual itu dari awal lagi. Sementara itu, detik jam dinding tak kenal kompromi dan tak mau tahu masalah siapapun. Detik punya tugas rutin, menggeser waktu tanpa henti.

Mata si bos tergenang cairan. Dia meraba punggungnya, memasang anak panah di busur dan membidik jam dinding. Aku tak peduli, kau mengerti atau tidak soal perasaanku. Aku tak mau tahu, apakah kau menganggapku gila atau waras. Yang penting, saat ini juga kau hancur di tanganku.

Jam itu sekarat. Jarum detiknya berkejut-kejut di tempat. Si bos tertawa sendirian dengan puas.

Baterai jam itu kehabisan daya.

Mampus kau sekarang. Ayo, sekaratlah yang panjang. Nikmati siksa nerakamu saat ini. Aku akan menikmati sisa rokokku ini dan mengisapknya pelan-pelan. Aku akan semburkan asap kreteknya di matamu. Aku akan kulum rokokku, persis seperti  Roro Mendut mengulum cerutu para petinggi Mataram… hahahahahahaha…. Maaf, ya, mungkin kau mengira aku homo, sori, ya, hehehehe. Aku masih lebih baik daripada kamu yang tak berkelamin.

Laki-laki itu, yang entah mengapa selalu dipanggil ‘bos’ oleh orang sekantor, kemudian duduk dan menyalakan rokoknya. Tiba-tiba dia ingat radio transistor kecil yang ada di lemari, di antara cangkir-cangkir dan piring-piring. Dicarinya. Ketemu. Dinyalakannya. Dan dia pun ndangdutansendirian. Berpesta dia bersama impiannya. Melenggang dan melenggok, meng-Inul dia, menikmati detik yang terhenti.

Bersama Ntin dia pernah goyang di warung remang-remang. Bersama Ntin juga, dia pernah berkeringat. Ntin terbang seperti kumbang, dan dia seperti kembang yang kehilangan rupiah. Memang, Ntin mata duitan, tetapi tubuhnya hanya bisa dijamah dengan duit. Ntin tak butuh impiannya, karena Ntin adalah impian itu sendiri. Asap mengepul memenuhi ruang sempit. Suara penyiar menyemangati pagi di ruang ber-AC. Masa bodoh dengan itu semua. Detik ini dia menikmati jam yang sekarat. Di ruangan ini, yang sudah lima belas tahun menjadi kerjaannya, baru kali inilah dia menikmati terbang bersama impiannya.

“Boss!”

Laki-laki itu tersenyum menerima bentakan. Rokok masih terselip di antara bibirnya. Di antara kabut asap, dia menatap orang yang membentaknya.

“Lu, sudah gila, ya?”
“Emang kenapa, Pak?” jawab si bos, tenang.
“Ini jam kerja dan lu banyak kerjaan. Lihat, sekarang jam berapa?”

Sambil tersenyum menikmati kemenangan, ia memandang jam dindingnya dan berkata, “lihat saja sendiri.”

Laki-laki berdasi itu melangkah masuk dan menutup hidungnya. Matanya perih dan melihat jam dinding yang jarum detiknya masih berkejut-kejut di tempat.

“Jam lu mati, goblok!”
“Artinya, jam kerja saya juga mati…. Makanya saya nggak kerja. Saya lagi menikmati cuti,” jawab si bos dengan entengnya.

Laki-laki berdasi itu kemudian keluar dengan muka menahan marah. Gelak tawa girang si bos mengiringinya. Musiik!

Bos mendorong vacuum cleaner-nya. Sebagian lampu sudah dimatikan. Beberapa saja yang masih menyala. Sebagian AC sudah mati dan udara jadi agak pengap. Dengung monoton mengisi sunyi. Bos diam. Debu-debu terisap. Dimatikannya mesin dungu itu. Bos menyapu pandang. Meja-meja rapi. Tak ada gelas atau piring. Komputer-komputer yang terduduk seperti tawanan perang, beku tak bercahaya. Dinding kaca 8 mili membentang tertutupi langit malam. Lantai 45 seperti kuburan.

Bos lima belas tahun menjai raja di lantai itu, di malam-malam seperti itu. Dia yang selalu ditanya orang-orang sekantor yang lebih suka menggunjingkan ‘penunggu’ kantor, hanya tertawa. Ada yang, suatu kali, mengatakan pernah melihat perempuan berambut panjang, berkelebat dari ruang fax ke meeting room 5. Dan untuk itu, bos menjawab bahwa cewek itu bernama Ntin. Bahkan bos pernah mengembangkan cerita bahwa dia pernah tidur dengan Ntin. Dia menggambarkan bahwa tubuh Ntin hangat seperti pisang goreng baru diangkat dari penggorengan, manakala lagi ‘on’.

Tentu saja semua tertawa, seolah tak percaya, tapi si bos tahu benar bahwa ceritanya dimakan mentah-mentah oleh pendengarnya. Buktinya, banyak yang diam-diam bertanya soal ‘penunggu’ lantai 45 itu.  

Dia terdiam. Matanya masih menyapu ruang. Semuanya akan tertinggal di sana, entah sampai kapan. Lima belas tahun berjalan tanpa arti. Lima belas tahun dia terjajah oleh detik jam dinding. Kini, setelah peristiwa siang tadi, dia memproklamirkan kemerdekaan dirinya.

Tadi sore, dia dipanggil ke HRD-room. Lima orang berdasi duduk berjajar dan dia jadi tertuduh. Setelah mendengarkan gumam berat dan terasa dibuat-buat, dia pun tahu apa arti semuanya. Ketika kepala HRD membacakan puisi angka-angka yang bisa menjadi modal usaha, dia pun sudah bisa menduga, ke mana kata putus akan bermuara.

“Saya juga minta maaf,” ucapnya menjawab permintaan maaf kepala HRD mewakili perusahaan. “Saya minta maaf karena… tidak bisa membantu bapak-bapak memerdekakan diri dari penjajahan.”

Mata si bos menangkap kebingungan di wajah kelima orang berdasi itu. Tapi, apalah artinya berbelas kasihan kepada orang yang tak tahu bahwa dirinya menderita? Bos tak menjelaskan kalimatnya. Dia kantongi cek dan menandatangani berlembar surat yang tak perlu dibacanya lagi. Dia hanya berjanji bahwa akan menyelesaikan tugasnya hari itu sebaik mungkin.

Ditatapnya ruang-ruang staf yang gelap. Lampu-lampu duduk yang mati dan tak berdaaya. Dan di dinding, dilihatnya para penjajah menatapnya tajam.

Sebetulnya, sore tadi dia ingin mengatakan bahwa mereka, para laki-laki berdasi yang jumlahnya lima orang itu, sedang dijajah dan dikendalikan oleh jarum detik yang bahkan cuma bisa berputar pada porosnya. Tetapi, niat itu urung diucapkannya, karena si bos yakin, ucapannya tak akan dipahami. Bahkan, besar kemungkinannya, kata-katanya akan dianggap sebagai ceracau orang gila.

Bos hanya menggeleng tak jelas, seakan menepis udara aneh di sekitarnya.

Mereka dikendalikan oleh detik yang mereka ciptakan sendiri, namun mereka tak memahaminya. Setiap saat mereka dipacu oleh waktu yang jelas-jelas tak memiliki batas waktu. Jantung mereka berlomba dengan detik dan banyak yang akhirnya berletupan tak mampu memompa darah lagi.

Bos tersenyum. Padahal, dengan mencungkil baterainya, jam laknat itu sudah sekarat dan kemenangan berada di tangan si pencungkil. Tapi, apa yang dilakukan orang-orang yang terjajah itu? Mereka malah mengganti setiap baterai sekarat yang ada di setiap jam dinding itu dengan baterai baru. Mereka memperpanjang usia para penjajah itu, haha… jajahlah aku, wahai sang maha penjajah… hahahahah.

Si bos tertawa sendirian. Setelah mengembalikan mesin bodoh yang hanya bisa mengisap debu itu, si bos merentangkan busurnya. Anak-anak panah dibidikannya ke arah jam-jam dinding yang hanya melotot tanpa pikiran itu. Satu demi satu, baterainya terpental dan beberapa saat kemudian semua jarum detiknya beku.

Sambil mengunci pintu, si bos tersenyum menimati hari pertama kemerdekaannya. Uang pesangonnya akan dibelikan kaset dangdut dan campursari, lalu dia buka lapak di pasar. Kalau laku dapat untung, kalau tak laku dia, toh, masih bisa menikmati goyangan dirinya sendiri.

Di ruang security dia menyerahkan semua kunci kantor. Sambil tersenyum dia berpamitan. Namun, Supangkat—salah seorang petugas keamanan, berusaha menggeledah tubuhnya.

“Untuk apa, Kat?” tolak si bos.
“Maaf, ini tugas saya.”
“Iya, tapi untuk apa? Apa kamu pikir saya mencuri?”
“Bukan begitu, Pak. Tapi ini tugas saya.”
“Kalau bukan karena tugas?”

Pangkat diam sesaat, lalu, “…ya, tidak digeledah, tapi apa gunanya saya dipekerjakan di sini kalau tidak ada tugas yang harus saya lakukan, Pak?”

Si bos diam, hatinya tersentuh. Padahal, Pangkat hanya sekadar bicara dan tak bermaksud curhat. “Baiklah, demi tugasmu, geledahlah. Lakukan tugasmu dengan baik.”

Pangkat malah ragu.

Bos bingung, “Kok, diam? Aku bawa busur panah dan anak panahnya, lho. Aku membawa senjata berbahaya, lho. Ayo, geledahlah.”

Pangkat tersenyum dan mempersilakan bos lewat begitu saja. “Selamat malam, Pak.”

Laki-laki yang dipanggil bos itu pun tersenyum, menyalami Pangkat dan melangkah dengan tenang. Pangkat memandangi punggung laki-laki yang sudah bertahun-tahun dikenalnya itu. “…kasihan, setelah hilang ingatan, hari ini dia kehilangan pekerjaan.”




----------------------------------------------------------------------------------

*Cerpen tersebut diambil dari buku kumpulan cerita pendek Setubuh Seribu Mawar, yang ditulis oleh Yanusa Nugroho. diterbitkan Penerbit Buku Kompas, 2013. Ada 27 cerita pendek di dalam buku tersebut yang ditulis dengan apik dan sangat layak dijadikan referensi dalam dunia sastra. Ketika membaca cerita pertama, pasti akan terus penasaran untuk membaca cerita yang lainnya. Silakan memburu buku tersebut, dan bacalah.