Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Cerpen: Malam Basah (Y.B. Mangunwijaya)






SEKARANG ia tak membutuhkan lagi bukti. Lega hatinya, namun lega dalam arti  hampa.  Seperti anak ingusan yang ditarik kasaroleh pelacur tua yang jengkel melihatnya ragu-ragu, lalu digemboskansegala ingin-tahunya  yang sudah  lama  menggelembung  di bawah pusar,  dan  kini  kosong  menghadapi  kenyataan yang mengecewakan. Tetapi lebih baik mengecewakan daripada tertimbun terus tanpa kepastian. Sudah separoh musim kemarau, dari sebutir kata yang jatuhtak disengaja di lantai warung, atau dari ejekan yang seperti bunga alang-alang kebetulan terbawa angin dari sungai, Wagiyo dihinggapi kecurigaan: debu kemarau lewat telinga mengatakan, ayahnya main serong dengan isteri muda Pak Tamping. Tetapi tadi baru klesik-klesik di rumput lumuran, sekarang sudah jelas kadalnya. Wagiyo tidak tahu, lalu apa terusan kesimpulan malam tanpa bulan itu, lagi apa yang akan dilakukan. Tentang Mbok Tamping ia tak perduli. Seorang Tamping menduduki jabatan pembantu lurah, dan isterinya, paling sedikit diandaikan, harus memberi teladan hidup terhormat. Tetapi seandainya tidak demikian, ini bukan dunia namanya. Seandainya ia berani, atau lebih tepat tidak ingat pada Sri tunangannya, barangkali ia mau juga meniduri kucing Tamping terlalu betina itu; hanya untuk mengatakan di muka mulutnya yang merah mesum, bahwa tubuhnya kasur busuk yang sudah teramat kerap dikencingi tanpa pernah dijemur. Wagiyo tidak bisa marah pada ayahnya dan ia tak dapat juga menerangkan mengapa ia tak marah. Hanya ia tidak mengerti dari mana ayahnya yang selalu saleh dan tekun tak mudah terpengaruh itu dapat bersandiwara sejelek itu.

Sudahlama Wagiyo merencanakan pengintaian malam seperti malam ini. Boleh dipastikan ayahnya memilih malam tanpa bulan. Itu pertama. Kedua, jelas ia akan memilih waktu ketika Pak Tamping tidak di rumah. Anak kecil pun tahuitu, sebab semua anak Pak Tampingsudah menikah dan pergi sesudah sang isteri muda-nya naik tahta. Waktu ada penataran sepekan di kabupaten seperti sekarang ini misalnya. Yang sulit diatur ialah bagaimana ayahnya dibuat agar mengira si Giyo sedang bepergian jauh, lalu menyusup lagi masuk desa selama beberapa malam. Tanpa ada anjing menggonggong, ini sulitnya. Paling celaka kalau ia sampai dipergoki orang, bahkan dikira  maling.  Menghadapi  kesulitan  teknis  segunung itu Wagiyo semakin kehilangan selera. Tidak, tidak. Ia tidak akan memakai cara-cara pencuri untuk menangkap pencuri. Dan apa baiknya mengintai ayahnya sendiri? Apakah itu perilaku seorangksatria? Dan seandainya pun akanterbukti ayahnyabersalah, tertangkapbasah, lalu apa untungnya? Mengapa kesedihan dan kenyataan-ke- nyataan (seandainya nyata) yang memalukan masih perlu digelontori kesedihan baru dan lebih dipermalukan lagi? Tetapi semakin dipikir dan dinilai percuma, semakin ia haus mencari jawabannya yang tuntas.

Dan tahu-tahu, eee… kesempatan tak terduga begitu gampang memanggilnya, ya bahkan menculiknya; untuk menyaksikan dengan mata-telinga sendiri, bagaimana manusia saleh yang oleh tata petunjuk Tuhan menjadi ayahnya itu menipu keluarganya. Pada malam gelap-gulita, seperti terkena sasmita gelap, Wagiyo tidak bisa tertidur sampai larut malam. Mungkin karena malam itu hujan rintik-rintik, padahal di tengah musim kemarau (“hujan kiriman” kata orang desa),sehingga seolah seribu pertanyaan yang menggelinding terdengar dipanahkan. Tetapi mungkin juga karena perasaaan tertusuk selalu menggelepar di malam tanpa bulan. Entah bagaimana caranya, tanpa bunyi sekelesik ayahnya telah mening- galkan ranjangnya di kamar seberang soko-guru, lalu masuk dapur. Telinga Wagiyo setajam anjing kampung “melihat” ayahnya  mengambil  cangkul  di  sudut  luar ruang tidurnya dan pura-pura batuk-batuk sambil bergumam. Gumamnya disengaja, agar seandainya ada warga rumah yang masih belum tidur betul-betul, kata- katanya jelas: Ah, mengalirkanair ke sawah sebentar. Ah, memang berat jadi tani. Wagiyo tersenyum pahit di dalam gelap. Kalimat terakhir seperti dalam lakon sandiwara  radio.  Mana ada  tani  tulen  omong  seperti itu. Lagi malam ini bukan giliran sawah ayahnya. Itu ia benar-benar membuka pintu dapur yang menciyet se- bentar engselnya, dan Wagiyo menunggu sejenak (selisih waktunyadiukur tepat); ia hati-hatiturun dari ranjang dan pelan-pelan membuka pintu dapur. Kepalanya yang menongol masih melihat sebayangan gelap yang lebih gelap dari sekitarnya menuju ke utara. Tetapi ilham alam gelapnya mengatakan itu tipu muslihat belaka. Seolah musang Wagiyo pergi justru ke selatan dan menunggu di dekat jendela kamar yang menurut perkiraannya dipakai untuk tidursi perempuan busukitu. Berselimutkansarung ungu gelap ia berjongkok, terlindung oleh kegelapan dan hujan kiriman yang pelotokpelotok tok peletokmemukul- mukul daun-daun lumbudan kimpul dan pisang. Di balik rumahada anjing menggonggong. Lalu diam.

Anjing pun akan malas bergentayangan dalam hujan, begitu pikir si pengintai agak gembira. Tetapi tiba-tiba melonjaklah dalam kalbunya rasa kasihan pada ayahnya. Sehina inikah ayahnya sudah jatuh? Sampai diinginkan tertangkap basahanaknya sendiri? Suatubayangan muncul dan berhenti di muka pintu dapur Mbok Tamping. Wagiyo bernapas melalui mulut, sangat teratur dan tertahan iramanya. Bayangan tadi meletakkan sesuatu di muka pintu, lalu pelan-pelan membuka pintu yang dari dalam tak terkunci. Wagiyo mendekat pada dinding bambu agar tidak basah kuyup, dan betul dari dalam terdengar suara- suara yang sebenarnya terlalu percaya pada pertolongan hujan kiriman. Suara bernada rendah itu jelas berasal dari ayahnya. Terpaku di tempatnya, Wagiyo tidak tahu akan berbuat apa. Tetapi ketika sejurus kemudian ia mendengar Mbok Tamping terkikik-kikik, ia tidak tahan dan pulang seperti musang yang dilempar batu. Ia masih kembali meraba-raba benda di luar pintu dapur Mbok Tamping. Betul, tangkainya agak luka-luka di dekat pegangan baja dan bagian tajam pacul menunjukkan lengkungan khas yang  sangat  ia  kenal. Di ranjangnya Wagiyo ingin menangis, tetapi kerongkongannya bocor tidak mengaruskan bunyi sedikitpun dan matanyakering seperti kelereng. Pada saat seekor anjing menggonggong yang diperkirakan di arah selatan,Wagiyo mulai pura-pura mendengkur. Tetapi telinganya “melihat” lagi bagaimana ayahnya pulang,meletakkan pacul sambilbergumam gaya sandiwara radio lagi: “Sialan. Ingin mengairi sawah, tak tersangka hujan turun. Ah, celaka jadi petani.Jengkel Wagiyo bertanya diri, apakah ayahnya tidak punya ilham kalimat lain yang lebih meyakinkan. Sekali lagi rasa iba hati terhadap ayahnya itulah yang membuatnya diam tak mendengkur lagi.

Dari ruang  tidur  seberang  soko-guru  terdengar lagi gumam: Air sawah kalau tidak diperiksa malam, selalu saja dicuri orang.Pahit Wagiyo bertanya diri, apakah ayahnyasinis ingin menyindir diri sendiri dan Mbok Tamping, ataukah karena memang kurang cerdas mengatur adegan-adegan ketoprak.Apakah ibunya sudah tahu tentang kelakuan serongsuaminya? Tetapitak terasa Wagiyo sudah tenggelam dalam tidur yang nyenyak.

Tahu-tahu matahari sudah tinggi menusukkan sinar- sinarnya menembusdinding bambu. Spontan ia duduk bersila dan berdoapagi seperti yang ia pelajaridari Gereja: “Bapa kami yang ada di surga. Dimuliakanlah namaMu… Baru pertama kali ini Wagiyo menaruh pertanyaan terhadap istilah BAPA  itu.  Jika  ayahnya  main  serong dan  menipu  isteri  dan  anak-anaknya,  patutkah  Allah Yang Mahakudus dipersembahi sebutan Bapa? Ya, untuk pertama kali ia disusupi semacamketakutan menjadiayah. Ayahnya bukan tani kaya, akan tetapi terkenal tekun dan terhormat perilakunya, dan sering-sering bila Pak Lurah lewat sawah ayahnya, ayahnya dimintai beberapa nasehat. Pandangannya sederhana, tetapi bijaksana dan seimbang, begitu pernah Romo Wahyususanta, yang sekali dalam tiga bulan mempersembahkan misa di rumah ayahnya, mengatakan padanya. Apakah Simbok sudah atau belum tahu tentangrahasia suaminya? Kalau sudah, kedua orang tuanya memang pandai menyimpan rahasia. Tetapi apa yang ia sendiri lakukan tadi malam? Mendengkur segala? Bukankah itu menutupi rahasia juga?

Ahh, sekarang Wagiyo menangkap hikmah rahasia kaum dewasa. Hikmah pertama sudah sangat pagi ia temukan bersama teman-teman gembala, yang secara kasar namun nalar memperbincangkan perilaku manusia “dewasa” yang mirip dua ekor kerbaudi hadapan mereka yang memanjat dan dipanjati. Hikmah kedua ditemukan tadi malam di bawah jendela si Tomat busuk itu: orang “dewasa” dapat menghayati dua kehidupan yang sama sekali bertentangan pada saat yang sama. Dan ketiga: bahwa manusia “dewasa” seringwajib berpura-pura tidak melihat dosa orang lain.Boleh jadi itu pun sebentuk cinta dan hormat pada orang lain. Hanya manusia biadab telanjang dan menelanjangi diri di muka anak-anak. Biadab dan kejam. Namun Wagiyo pagi itu memohon, agar jangan sampai membenci ayahnya. Untuk ibunya ia taktahu sebaiknya memohonapa. Saat mati penuh damai pengampunan? Ternyata ayahnya sudah pergi ke sawah pada dini pagi. Wagiyo beruntung tidak perlu omong basa-basi.

Tadi malam kau mengigau dalam tidurmu.” kata ibunya di pintu. Wagiyo terperanjat:“Mengigau?”

Ya. Tetapi tak dapat ditangkapomonganmu, jawab ibunya lekas-lekas.

Ada seusapan warna dalam cara ibunya berkatayang membuat Wagiyo diam.Sering orang diam pada saat yang keliru.  Berpura-purakah  Simbok?  demi  cinta  khusus yang berbentuk rahasia-yang-harus-terjaga-terpendam? Tiba-tiba datang ilham alam pagi yang mendorong Wagiyo berkata dibuat-buat riang:

“Simbok suka apa? Nanti saya bawakan oleh-oleh.” “Kau aneh…” Hanya begitu jawaban ibunya.
“Tidak aneh. Hari ini saya gajian. Suka apa Mbok?” Namun ibunya duduk lunglai di kursi sudut.

Hujan kiriman membasahi bumi yang kering kersang.
September 1980

 ----------------------------------------------------------------------------
*Cerpen tersebut diambil dari buku kumpulan cerita pendek Y . B . Mangunwijaya: RUMAH BAMBU, terbitan Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), 2012. Ada 20 cerpen di dalam buku tersebut. Penasaran dengan cerpen-cerpen lainnya? Silakan membeli bukunya.