Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Duma Menunggu

Duma Menunggu*
(Jeli Manalu)








Sedang jadi mimpi di tidurmu yang demam. Kita bertemu di luar.

“Jadi, kapan kamu akan mati, Tur?”
“Kau masih kelihatan seperti itu.”
“Dan kamu sudah semakin tua. Kamu tidak takut, jika saja ada yang menyukaiku?”
“Yang penting kau hanya mencintaiku.”
“Tapi menunggumu sangat melelahkan, Atur! Kamu, apa tidak kasihan kepadaku?”

Sementara aku menangis sesenggukan, kamu hanya tertegun dalam diam.

“Orang-orang hidup, bukankah hanya memikirkan diri sendiri, Atur?”
“Orang-orang hidup juga memikirkan orang-orang mati.”
“Justru orang-orang mati yang lebih memikirkan orang-orang hidup. Semakin lama kehidupan orang-orang hidup, semakin lama kematian orang-orang mati. Aku merasa, orang-orang hidup sangat egois, Tur.”
“Kau berkata begitu, karena….”

Sambil menunggu ujung kalimatmu, kukisahkan cerita yang telah lama hilang dari ingatanmu. Kita pernah melarikan diri dan berancana punya bayi. Katamu, kamu ingin dua puluh empat anak. Dua puluh dua laki-laki: dua regu pemain bola. Sedang dua perempuan cukup menjadi wasit dan hakim garis saja. Lalu, katamu, kita akan duduk di barisan penonton sambil mengemil.

Kuhambur tubuhmu, “Kurasa, aku bisa melahirkan anak melebihi jumlah itu untukmu.”

Kamu tersenyum tapi tak mengucap apa pun. Kedua tanganmu menjambak rambutmu. Lalu aku menggigit mulutmu, “Kamu kira melahirkan anak manusia semudah melahirkan anak hewan?” Kali ini kamu tertawa. Dan bahagia.

Kita sama-sama mabuk kepayang. Namun, berjam-jam dalam pelarian itu, kita tak kunjung bertemu rumah. Malam tiba. Di bawah hariara (Pohon Beringin), kita melihat sebuah titik bergerak menyerupai kunang-kunang.

“Itu bintang timur,” katamu.
“Jangan konyol. Bintang timur hanya ada di kitab.”
“Tapi itu bintang.”
“Bukan. Bintang tidak turun ke arah manusia.”
“Apa mungkin meteor?”

Ranting-ranting patah oleh angin yang berkesiur. Bukan hanya dari hariara, melainkan dari pinus-pinus gagah yang kita temui sewaktu putih langit. Kamu menangkap rambutku yang terlempar ke hidungmu, lalu mengumpulkannya ke leher bagian kirimu. Lengan kananku bersandar di lengan kirimu. Telapak tanganku di telapak tanganmu.

Akan tetapi, dua hal yang melekat di kepala kita, pikiran dan penglihatan, selalu awas kepada kunang yang tadinya tampak seekor, kini menjadi dua, tiga, empat, mungkin dua kali lipat. Sosok-sosok yang membuat kita paham pada takut semakin cepat menuruni perbukitan, dan semakin cepat pula dentam jantung kita. Lalu derap langkah itu semakin dekat ke arah kita bersembunyi. Kita gemetar.

“Apa mereka kawanan perampok?”
“Itu derap kaki kuda!” desisku dari belakangmu.

Tangan kirimu memeluk pergelangan tangan kananku. Tangan kanan kita yang lain mengarahkan semak ke masing-masing tubuh kita.

“Itu suruan ayahmu, Tur.”
“Kau yakin?”

Hubungan keluargamu dan keluargaku tidak baik. Suatu hari, raja yang juga adalah kakekmu, mengadakan pesta panen di istana. Orang-orang berdatangan. Ketika itu putra raja, Batara, dan anak hulubalang, Sahala, baru dewasa. Di satu momen di ucapara itu, Batara terkesima melihat seseorang gadis jelita. Sahala, karibnya itu, ia mintai merangkai surat. Hanya saja, perempuan itu justru jatuh cinta kepada Sahala. Batara murka. Ia meminta raja untuk menghukum Sahala. Namun, raja tak mau mencampuri urusan yang bukan urusannya, apalagi hanya perihal perasaan. Sejak saat itu bagi Batara, Sahala ada pengkhianat. Pengkhianat adalah bapakku.

Kamu tak berbantah saat orang-orang kekar menemukanmu dari balik semak belukar tak jauh dari tempatku bersembunyi. Mereka menginterogasimu penuh amarah. Lima orang melakukan pencarian ke utara. Empat orang berjaga-jaga kepada setiap kemungkinan munculnya tanda-tanda keberadaanku di sekitar tempat persembunyian.

“Di mana anak gadisku?” gertak bapakku yang tiba-tiba saja muncul.

Aku yang telah berpindah sembunyi di balik hariara, gemetar merasakan celanaku hangat. Aku terkencing. Kurapatkan paha agar air amis tak terjun membuat curiga.

Di bawah rembulan merah, kubu bapakku mengejar kubu ayahmu. Kudengar desing pedang berkali-kali. Darahku mendesir. Aku tahu ada kematian yang sedang turun. Aku berharap bapakku tidak menajiskan pedang dengan darah lelaki yang dicintai putri kesayangannya.

Pada saat yang sama, kelima orang itu kembali dari utara. Seekor anjing mengendus di akar. Ia terus saja mengendus. Lolongannya mencabik malam di jantungku.

Aku berencana pindah ke arah dedaunan yang hebat. Seketika kakiku menggelincir. Saat tersadar, aku hanya ingat mati sebab mendapati diriki bertelanjang badan.

“Maksudmu, kau diperkosa?”
“Bukan hanya diperkosa, Atur!”

Di atas kasur tebal cokelat, kamu sungguh gelisah. Keringat di dahimu sebesar-besar jagung. Tanganmu mengepal-ngepal. Kakimu kejang-kejang. Dengkuran kerasmu mengganggu perempuan dengan satin merah di sebelahmu. Aku cemburu pada tangan halus yang mengguncang tubuhmu dari delirium.

Di tempat lembap yang dingin, telah lama kurindukan matahari. Kamu adalah laki-laki yang selamanya hidup di diriku. Suatu ketika, aku mendengar suara menderu-deru. Naluri di luar kemanusiaanku menyuruhku agar naik ke permukaan. Sebuah besi terbang singgah di atas hariara. Aku membuat ancang-ancang untuk melayang, lalu menembus benda asing itu, lalu mendekati seorang wanita. Sekonyong-konyong, kulihat bayangan jelekku di cermin yang digunakan sang wanita memperbaiki gincunya. Aku sedih hingga dengan sendirinya terjengkal ke bawah.

Pada kesempatan lain, pernah di akar-akar hariara itu singgah sepasang babi hutan gemuk-gemuk. Aku mengintai. Kususun kekuatan agar menyusup ke salah satu tubuh babi itu. Jika nanti aku masuk, aku akan ke desa, membuat kerusuhan, ditangkap orang-orang, dan aku menjadi kabar burung: seekor babi bisa bicara.

Sewaktu sudah berada di satu titik, tiba-tiba mulut babi berdarah-darah. Aku tidak tahu apa yang barusan berhasil mereka pergoki. Kamu tentu masih ingat kepada kulitku yang terserang gatal-gatal seusai menyantap daging ayam yang ketika ditungku pemasakan dikucurkan segelas darah. Bapakku marah. Ia menyuruhku memukuli dada agar muntah.

Tur, perempuan yang sedari tadi bersamamu itu, kini meletakkan handuk basah di keningmu yang demam. Aku tidak tahu sudah berapa kali ia melakukannya. Aku hanya resah dalam mimpimu yang mungkin saja akan berakhir.

“Aku bisa membunuh diriku untuk menyusulmu,” katamu, dengan suara bergetar.
“Apa? Jadi tiga puluh tahun ini, kamu tidak tahu soal kebenaran? Percuma kamu menyusulku, Tur. Aku menyesal jadi mimpimu! Lebih baik aku pergi.”

“Tunggu!”

Perempuan itu mencium bibir keringmu, “Dia mengigau sepanjang malam,” katanya, sedih.

“Apa igauannya?” tanya orang-orang.

Sewaktu memunggungimu sambil menahan sakit di hatiku, seorang wanita tua pembesuk tanpa sengaja menabrakku. Tahu-tahu, aku sudah berada di tubuhnya.

“Tarik orang itu! Dia menjambak istri Atur.”

Rambut perempuan bersatin merah yang mereka sebut sebagai istrimu, acak-acakan. Pakaiannya robek mulai dari lengan sampai pinggang.

“Panggil datu (orang pintar)! Panggil datu!”

Seseorang dengan kain mengikat di kepala langsung tiba. Tubuh wanita tua dengan mata yang besar dan garang segera diriciki. Wajahnya disembur sirih.

“Siapa namamu?”
“Duma.”
“Untuk apa kau kemari!”
“Aku diperkosa! Aku dibunuh!”

Laki-laki berahang keras dan berdahi lebar pun berbisik-bisik. Ia menekan kening wanita yang itu kuat-kuat. Terdengar erangan di udara. Seketika, aku keluar dari tubuh wanita tua. Kamu juga keluar dari tubuhmu. (*)

Riau, Juni 2016


*Diambil dari buku kumpulan cerita pendek Jeli Manalu: Kisah Sedih Sepasang Sepatu, terbitan Basabasi, 2018. Dalam buku kumpulan cerita tersebut ada 23 cerpen yang kesemuanya, dengan gaya kisahan lebih ke arah eksperimentasi, permainan sudut pandang, bahasa mudah dicerna, sangat menarik untuk dibaca sampai tuntas. Penasaran, jangan pikir panjang lagi, silakan buru dan beli buku itu. Bisa langsung ke penerbit atau ke penulisnya. Oke!