Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Suatu Hari di Surga


Suatu Hari di Surga
(Ryunosuke Akutagawa)









PADA SUATU hari Sang Budha berjalan-jalan sendirian di tepi kolam teratai di taman surga. Bunga-bunga teratai bermekaran di kolam itu berwarna putih bagaikanmutiara dengan putik bunga keemasandan benang sari di tengah- tengahnya yang menebarkan aroma memenuhi udara. Saat itu hari masih pagi di surga. Sejenak Sang Budha berdiridi tepi kolam, melalui celah terbuka di antara dedaunanyang menutupi permukaan air tiba-tiba terpampang sebuah pemandangan. Karena dasar neraka terhampar di bawah kolam teratai surga, sungai bercabangtiga yang menuju kegelapan abadi dan puncak Gunung Jarum dapatterlihat melalui kristalpermukaan air, bagaikan sebuah teropong.

Lalu matanyatertumbuk pada seoranglelaki bernama Kandatayang berada di dasar neraka bersama para pendosa lainnya.

Kandata semasahidupnya adalah seorangperampok kelas berat yang telah berbuatbanyak kejahatan; membunuh,menjarah, dan membakarrumah-rumah. Namun,ia memiliki sebuah perbuatan baik. Suatu kali saat ia berjalan di tengah hutan belantaradilihatnya seekor laba-labasedang merayap di tepi jalan. Dengan cepat ia mengangkat kakinyabermaksud hendak menginjakmakhluk itu sampai lumat, tetapi tiba-tiba ia berpikir, “Ah, tidak, tidak. Sekecilini pun dia mempunyai nyawa. Alangkah memalukannya bila aku membunuhnya tanpa alasan.” Dan dia pun membiarkan laba-labaitu tetap hidup.

Ketika memandangke neraka, Sang Budha teringatbagaimana Kandata telah menyelamatkan kehidupan seekor laba-laba. Dan sebagai balasanatas perbuatan baiknya itu, dia ingin membantunya keluardari neraka. Untunglah, saat dia menatap sekelilingnya, tampak seekor laba-labasurga sedang membuat sarang indah keperak-perakan yang terbentang di antara dedaunanbunga teratai.

Sang Budha dengan tenangmengambil seutas jaringlaba-laba dengan tangannya. Dijatuhkannya benang itu ke dasar nerakayang terhampar di antara bunga-bunga teratai yang berwarna seputihmutiara.

***

KANDATA TENGAHterpuruk di dasar neraka bersamapara pendosa lainnya. Di sana gelap gulita menyelimuti sekeliling. Kalaupun ada yang berkilau dalam kegelapan, itu berasal dari kilauan puncak Gunung Jarum yang menakutkan. Kesunyian mencekam di mana-mana. Satu-satunya yang terdengarhanyalah ratapansamar-samar para pendosa. Mereka telah mengalamisiksaan hebat di neraka sehinggatak mampu lagi menjerit dengansuara nyaring. Perampokulung itu terbenam dalam genangan darah, tak bisa berbuat apa-apaselain berjuang  agartak tenggelam di kolam itu seperti seekor kodok sekarat.Namun, saatnya telah tiba. Hari ini, ketika Kandata mengangkat kepalanya secara kebetulandan menatap langit di atas Kolam Darah, ia melihat seutas jaring laba-lababerwarna keperakan menjulurke arahnya dari arah surga yang tinggi, berkilat-kilat dalam kegelapanyang sunyi, seolah-olah menakut-nakuti mata manusia.Saat ia melihat benda itu, Kandata bertepukkegirangan. Jika ia bisa bergantung pada jaring itu dan memanjatsetinggi mungkin maka ia bisa membebaskan diri dari neraka.Jika semuanya berjalanlancar, ia bahkan bisa mencapai surga. Itu berarti ia akan terbebasdari Gunung Jarum dan Kolam Darah. Secepatpikiran itu melintas di benaknya, diraihnyajaring itu dan digenggamnya erat-erat dengan kedua tangannya. Ia mulai memanjatdengan segenap kemampuannya. Bagi seorang mantanperampok ulung, pekerjaansemacam itu bukanlahhal asing. Namun, tak seorang pun tahu berapa jarak antara neraka dan surga. Walaupunia telah berusaha sekuat tenaga,tidak mudah baginya meloloskan diri. Setelah memanjat selamabeberapa waktu akhirnyaia kelelahan dan tak mampu beranjak lebih tinggi lagi, biarpunhanya seinci. Ia berhenti memanjatdan beristirahat, bergantungpada jaring itu seraya memandangjauh ke bawah. Setelah memanjat setinggi itu Kolam Darah tampak tersembunyi di balik kegelapandan Gunung Jarum hanya berpendarsamar-samar di bawahnya. Jika ia bisa memanjat lebih tinggi lagi, ia pasti akan terbebas dari neraka. Dengantangan tergantungpada jaring laba-laba, Kandata tertawa dan berteriak nyaring,pertama kalinya setelah bertahun-tahun sejak ia terpurukdi tempat itu. “Berhasil!” teriaknya. Namun, saatia memandang ke bawah jaringitu, dilihatnya para pendosa lainnya berduyun-duyun memanjatpenuh semangat mengikutijejaknya, naik dan terus naik, bagaikan upacara para semut. Saat melihathal itu, Kandataterbelalak sejenak dengan mulutternganga. Bagaimana mungkinjaring laba-laba yang tipis itu dapat menahan beban sebanyakitu, sementara untuk menahan beban tubuhnya sendiri pun nyarisputus? Jika jaringitu sampai putus,ia akan jatuh kembali ke dasar nerakasetelah berhasil mencapaititik sejauh itu. Namun, sementara itu, ratusan bahkan ribuanpendosa merayap naik dari kegelapan Kolam Darah dan memanjat sekuat tenaga. Jika ia tak melakukan sesuatudengan cepat, jaring itu pasti akan putus dan jatuh, pikirnya. Maka, Kandata menghardik dengan suara lantang. “Hei, para pendosa!Jaring laba-laba ini milikku! Siapa yang memberiizin kalian naik? Turun! Turun!” Tepat pada saat itu, seutas jaring tipis yang sejauh ini tak menunjukkan tanda-tanda akan putus itu tiba-tibaputus tepat di titik Kandata tengahbergantung. Tanpa sempat menjerit, ia meluncur deras ke arah kegelapan, terus melayang, berputardan berputar. Setelah semuanya usai, hanya sisa jaring laba-laba surga itu saja yang tampak bergoyang berkilat-kilat, tergantung di langit tak berawan.

***

BERDIRI DI tepi kolam terataidi surga, Sang Budha menatap dari dekat semua kejadian tadi. Saat Kandataterpelanting bagai sebuah batu ke dasar Kolam Darah, dia meninggalkan tempat itu dan berjalan denganmimik muka sedih.

Tak diragukan lagi, hati dingin Kandata yang hanya ingin cari selamatsendiri dan kejatuhanorang itu kembalike neraka menyedihkan hati Sang Budha. Namun,bunga-bunga teratai di kolam surga tak ambil peduli pada semua yang baru saja terjadi.

Bunga-bunga putih bak mutiara itu bergoyang-goyang di dekat kaki Sang Budha. Saat mereka bergoyang perlahan,dari putik bunga berwarna keemasandi tengah-tengahnya, meruaparoma memenuhi udara.

Saat itu hari telah menjelangsiang di surga. (*)

-------------------------------------------------------------

RYUNOSUKE AKUTAGAWA (1892-1927) adalahpengarang terkemuka Jepang.Karya legendarisnya, sebuah cerpen berjudulRashomon, sukses difilmkanoleh sutradara ternamaAkira Kurosawa. Ia lahir di Tokyo dan kemudian meraihgelar sarjana dalam bidang sastra Inggris. Sebelummenjadi penulis sepenuhmasa, ia sempat berprofesi sebagai guru. Karya-karya Akutagawa telah diterjemahkan ke berbagai bahasa. Akutagawa yang tewas bunuh diri, kini diabadikan namanyasebagai hadiah sastra tahunanpaling bergengsidi Jepang.