Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kebahagiaan dari Tuhan





Alkisah, ada sebuah rumah tangga beranggotakan 4 orang manusia. Sepasang suami istri dan dua anaknya. Si suami bekerja sebagai PNS. Si istri menjadi ibu rumah tangga dan sekaligus menjadi penjahit rumahan untuk bantu-bantu keuangan rumah tangga. Si suami adalah PNS yang disiplin dan etos kerjanya tinggi. Dia selalu masuk kantor tak pernah terlambat. Kadang pulangnya malam karena harus lembur. Dan dia sangat menikmati pekerjaannya.

Ketika sudah ada di rumah, suami tidak pernah keluar rumah lagi, sampai esok harinya. Kalau pun harus keluar rumah pasti hanya untuk kepentingan yang memang dianggap penting. Menurut dia, waktu yang tersisa tidak boleh disiakan-siakan untuk sesuatu yang tidak penting. Kalau di dalam rumah, suami kerjanya, setelah melakukan ibadah, rajin membaca buku dan bercengkerama dengan istri dan dua anaknya. Suami tidak pernah menolak ketika dua anaknya meminta ditemani main ini dan itu. Walau sesungguhnya tubuhnya lelah, dia tetap berusaha tampak segar di depan anak-anaknya. Dan dia selalu merasa bahagia ketika berada di tengah-tengah mereka.

Suatu ketika, suami dan istri bercekengkrama di dalam kamar sebelum tidur. Istri mengajukan banyak pertanyaan yang berhubungan dengan pekerjaan suami di kantor. Hingga akhirnya istri bertanya tentang kenapa suami tidak seperti teman-teman sekatornya, yang suka keluar kota, melakukan perjalanan dinas dan mendapatkan uang. Suami pun menjawab begini:

“Aku lebih tenang hidup begini. Aku lebih bahagia ketika ada di kantor dan di rumah. Aku tidak perlu membebani negara lagi karena harus membiayai perjalanan dinas yang sebenarnya tidak benar-benar untuk kepentingan kantor. Mereka yang suka keluar kota dengan alibi tugas kantor, padahal cuma jalan-jalan dan menghabiskan uang negara, hanyalah penipu yang membuat negara ini merugi. Mereka pulang hanya bawa oleh-oleh dan cerita-cerita yang berisi kebahagiaan sementara. Bukan kebahagiaan yang sebenarnya seperti yang aku rasakan. Aku lebih suka kebahagiaan yang diberikan Tuhan kepadaku, bukan kebahagiaan yang menipu. Aku bahagia ketika melihat wajahmu dan wajah anak-anakku. Aku bahagia ketika berada di tengah-tengah kalian di sisa waktu yang aku miliki setelah seharian bekerja di kantor. Aku bahagia menamani anak-anak bermain. Itulah kebahagiaan yang diberikan Tuhan, dan aku tidak mau menyia-nyiakan, apalagi meninggalkannya hanya untuk mengerjakan sesuatu yang tidak penting dan tidak bermanfaat. Kalian adalah kebahagiaan yang diberikan Tuhan untukku. Aku berterima kasih pada Tuhan karena diberi kesempatan untuk menikmati kebahagiaan yang Dia sediakan untukku.”

Mendengar jawaban itu, istri menitikkan air mata, sambil berkata begini:

“Aku akan selalu membahagiakanmu selama kau ada di rumah. Karena kau juga adalah kebahagiaan yang diberikan tuhan untukku—suami yang tahu kebahagiaan itu berasal dari siapa. ”