Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Cerpen: Pengelana Mati dalam Hikayat Kami (Benny Arnas)






Kepada mereka, ingin kukenalkan dirimu. Karena kau adalah mula segala cerita dan hikayat di atas hikayat. Ini tentang raibnya tukang kawin yang paling kerap menghampiri punggung Bukit Siguntang yang kehilangan pita suara sejak pertama kali Tuhan onggokkan di tanah lahir kami. Tukang kawin itu pada mulanya bukan tukang kawin, melainkan seorang pujangga yang dicinta-gilai oleh rerimbun kecubung dan semak-semak yang kehilangan nama. Dan pujangga itu, bukan seorang pengarang atau perawi sajak-sajak dari Tanah Melayu, melainkan pengelana yang paling tangguh setelah nabi-nabi. Tentu saja bukan pengelana sembarang pengelana, melainkan pengelana cinta. Dan pengelana cinta itu adalah kau!


PADA SUATU HARI kau mengunjungi tanah kelahiranku.

Orang-orang bilang, kau sudah dua kali mati. Kematian keduamu disebabkan kiamat yang hanya terjadi di tempat tinggalmu—menimpa kau dan keluargamu di rumah kayu mahapanjang dan tentu saja sangat megah. Dan aku tak peduli dengan cerita itu.

Itulah sebabnya kuceritakan ini.

***

ENTAH BAGAIMANA, KAU singgah di sebuah rimba ka- ret di Belalau, daerah di tepi Jalan Lintas Sumatera. Kau masuk ke dalamnya. Apakah begini tabiat seorang penge- lana? Kaususuri rimbun ilalang dan rumput kanji, semak putri malu dan batang-batang buah pena yang menyeru- pai kerimunting merangas, dan cendawan-cendawan yang menumpang bernaung di tunggul-tunggul yang kehilangan nyawa. Kau menebas-terabas semuanya seolah kau hafal seluk-beluk rimba itu, padahal paha hingga kakimu hanya dilapisi jins belel dan sepatu jelajah dari kulit buaya.

Memasuki rimba adalah mengarungi hidup, ujarmu su- atu hari ketika beberapa orang menanyakan kegemaranmu mengelana. Tak usah banyak berpikir untuk menjalaninya. Saya sudah diembuskan ke bumi ini, pun kalian. Tak ada alasan untuk memikirkan banyak hal. Bukankah kecakap- an paling didambakan adalah ketika melakukan banyak hal tanpa harus berpikir lebih dulu; seperti mengikat tali se- patu, seperti menebas semak, seperti menginjak rumput- rumput yang berpelukan, seperti menginjak jamur-jamur yang seolah tak punya bilik yang layak untuk berkembang- biak?







Ya, kau tampak sangat cuek, sekilas. Namun begitu, tak banyak yang tahu kalau kau juga memiliki sisi kehidupan yang lain; perasaan yang halus dan selalu sarat filosofi.

Setiap bunga yang kautemui, kau pandang dengan sorot mesra, seolah mereka adalah para bidadari yang terperangkap dalam mahkota. Ah, bahkan kepada bebunga pun nalu ri liarmu tak bisa kausembunyikan. Kau juga merasa perlu memejamkan mata ketika menciumnya demi menunjukkan betapa kau melakukannya dengan sepenuh jiwa. Lalu sorot matamu meredup. Kau bagai menyampaikan permintaan maaf yang mendalam. Begitulah yang kaulakukan ketika akan memetik bunga-bunga, termasuk bunga kecubung.

Bunga kecubung memang selalu menarik perhatianmu. Menurutmu, kecubung adalah bunga yang paling rendah hati. Ketika bunga-bunga lain berlomba memamerkan cer- lang warna dan lekuk mahkota kepada matahari, ia malah sebaliknya; lingkar mahkotanya yang bergelombang adalah rok noni Belanda yang landung, mekar menunduk mencari tanah yang terselimuti daun-daunnya yang gugur.

Bagimu, kecubung juga teladan yang paling indah un- tuk kebersamaan dan kesetia—kawan—an. Lihatlah, batin- mu entah kepada siapa, kecubung tak pernah mekar sen- diri-sendiri. Mereka melakukan banyak hal bersama-sama. Menguncup bersama. Mekar bersama. Gugur pun begitu. Hebatnya, batangnya tak pernah sepi dari bunga. Selalu saja, bila segerombol bunga sudah luruh, payung-payung hijau bening yang dibuka terbalik sudah bergelantungan di cabang-cabangnya yang berair pada esok paginya.

Kecubung adalah bagaimana seharusnya para pemuda dipersiapkan dan dimunculkan dengan penuh perhitungan, gumammu seperti berbisik kepada tumbuhan-tumbuhan lain. Maka, bila mendapati kecubung bermekar, kau bu- kan hanya memetiknya, tapi juga akan kembali esok hari, esok harinya lagi, atau esok harinya lagi, sampai bunganya berganti dengan kecubung-kecubung yang lain. Kau benar- benar ingin belajar menjadi tahu diri, suka berbagi, dan memberi kesempatan kepada yang dini … dari kecubung.
Tidak hanya itu, aroma air yang menguar darinya mem- buat kecubung tampil sebagai bunga yang paling bersahaja di matamu. Seperti teratai, kecubung tak suka mengenakan parfum atau wewangian yang dapat saja membuat kebera- daannya terancam. Kecubung bukannya menyadari tentang bahaya itu, ia hanya memelihara apa yang Tuhan berikan dengan semestinya. Ia pun tumbuh, berputik, mekar, gu- gur, dan begitu seterusnya.

Ah, kau memang pandai mencipta kias, wahai pengelana.

Itulah julukan yang orang-orang sematkan padamu.







Pun ketika orang-orang menemukanmu tergelantung di dahan pohon merbau yang besar di Lubuklinggau pada suatu waktu. Di mulutmu tersembul kepala tupai—seolah- olah kau mengembuskan napas terakhir karena terlalu ber- napsu melumat tubuh tupai itu. Kepalamu yang diikat kain semacam kafieh terjuntai ke bawah dengan dua kaki yang terikat lurus di atas. Posisi matimu yang begitu mengingat- kan orang-orang pada kecubung yang mekar namun tak kunjung luruh. Batang-batang kecubung di sekitarmu tak satu pun yang berbunga, seolah takut dilumat tupai-tupai itu, seolah tak ingin dipetik hantumu, atau seolah meng- hormatimu sebagai raja dari segala raja kecubung karena posisi tubuhmu saat ini, atau seolah memberi kabar kepada sesiapa yang singgah di rimba itu agar tidak menganggap remeh kecubung!

Begitulah kisah hidupmu yang kutahu. Seorang pengela na yang gagah, menyukai tantangan, dan tak takut mati! 

Orang-orang sudah lupa dengan gelar pejuang kemer- dekaan yang pernah kau sandang. Kau adalah seorang pu- jangga, begitu orang-orang menyebutmu akhir-akhir ini. Pujangga, bagi mereka, adalah orang yang mampu meme- nuhi hasrat-bahagianya lewat kata. Dan… meskipun itu adalah masa lalumu sebelum kiamat-sangat-kecil memati- kan dan menghidupkanmu kembali, riwayatmu dengan ba- nyak istri adalah salah satu keberhasilan seorang pujangga.

Bagi pujangga sejati, kata-kata bukan sekadar untuk di- padu-padan atau dilafal saja, tapi lebih dari itu. Kata-kata harus menjelma perbuatan, kebaikan, dan keberhasilan. Un- tuk sampai pada kemampuan itu, mengelana ke mana saja: dari pulau ke pulau, dari hati ke hati (tak harus dari pela- minan ke pelaminan), adalah keniscayaan. Lalu, kalau me- mang begitu, apakah para pujangga yang suka menyendiri di dalam kamar, membujang hingga waktu meninggikan dan menggemukkan pepohonan, hidup dengan pabrik asap yang mengepul dari bibir yang legam, dan berkutbah dari dalam gubuknya yang pesing, benar-benar pujangga—atau mereka sekadar pengelana, yang tak pernah ke mana-mana, yang ta- kut menyusuri rimba?

***

DAN KAU, PENGELANA!

Kedatanganmu ke rimba Belalau yang masih merimba atau ke Jalan Lintas Sumatera yang masih terang atau ke bunga-bunga kecubung yang merunduk karena rasa malu telah gagal menyembunyikan kehilangan yang terlanjur moksa sebelum cerita ini dimaklumatkan … adalah bagian dari gerilyamu untuk menjumpai kawan dan tempat baru, juga merenungi pengalaman, pelajaran, dan cinta yang tak pernah menua.

Mereka, mungkin akan bertanya: setelah ini apakah tu- kang kawin atau pejuang atau pengelana atau pujangga se- perti kau akan hidup lagi?

Mungkin tidak. Mungkin pula iya.

O ya, kematianmu kali ini membuat orang-orang kam- pung berdebat perihal tulisan yang akan diukir di nisanmu.

Entah bagaimana dan siapa yang mengusulkan, keesok- an harinya sudah tertulis saja di nisanmu:

Samin.


Tanpa tanggal lahir. 


Tanpa tanggal wafat.


Tiga ekor tupai sedang bergelayutan di ranting pohon kelor yang tumbuh dua meter dari kuburanmu.(*)

----------------------------------------
*Cerpen tersebut diambil dari buku kumpulan cerita pendek Benny Arnas: CINTA TAK PERNAH TUA, terbitan Gramedia Pustaka Utama (GPU), 2014. Ada 12 cerpen di dalam buku tersebut. Penasaran dengan cerpen-cerpen lainnya? Silakan membeli bukunya.