Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pengaduan Sukab*


Pengaduan Sukab*
Seno Gumira Ajidarma












Saya adalah tukang ketik pada Lembaga Bantuan Hukum Kerajaan Amarta. Pekerjaan saya mengetik pengaduan orang-orang yang merasa diperlakukan tidak adil. Pada suatu hari, duduk di hadapan saya seorang pemuda. Wajahnya memelas. Ia hanya bersandal jepit. Suaranya gemetar. Pakaiannya lusuh sekali.

Pemuda itu bernama Sukab bin Duryat asal Wonogiri. Saya ceritakan peristiwa yang dialaminya kepada Anda:

Dunia dalam Berita baru saja berakhir. Musik penutupnya terdengar sayup-sayup di telinga Sukab yang berdarah. Tapi ia sudah keburu dihajar lagi. Tangan-tangan terkepal dengan jari-jari berbatu akik besar menempeleng wajahnya bertubi-tubi.

Kepala Sukab tersentak-sentak, seperti mau copot dari batang lehernya yang kurus. Darah mengalir dari telinganya. Darah mengalir dari mulutnya. Wajah Sukab sudah bengap.

“Ayo mengaku!” teriak seseorang. Sukab menengadah. Matanya hanya melihat bayang-bayang yang baur. Sosok-sosok kekar dalam remang 15 watt. Ia mau mengatakan sesuatu, namun mulutnya tak bisa dibuka, licahnya macet, bibirnya lengket. Dari matanya yang menyipit karena bengkak, terlihat cahaya kata hati. Namun orang-orang kekar yang jari-jari tangannya dihiasi batu akik itu tak melihatnya dalam kesuraman lamput 15 watt. Sebuah sepatu lars menghajar rahang Sukab, entah untuk beberapa kali. Dari mulutnya hanya terdengar bunyi-bunyi tak jelas. Sukab meludah. Giginya menggelinding di lantai.

“Gigi lagi! Apa mulutmu cuma bisa memuntahkan gigi? Bicara!”
“Iya! Bicara! Seperti kalau kamu membakar massa!”

Setiap kalimat diiringi tendangan. Enam pasang sepatu lars yang masih juga berkilat dalam kesuraman 15 watt bergiliran mendepak Sukab. Sesekali Sukab berteriak kesakitan tapi suaranya tersekat di tenggorokan yang penuh ludah bercampur darah sehingga orang-orang bersepatu lars bercincin akik dan berbaju seragam itu tidak mendengarnya. Orang-orang itu mungkin berpikir tendangan mereka tak cukup keras untuk membuat Sukab mengaduh kesakitan. Maka mereka pun meningkatkan hajarannya.

Beberapa jam sebelum peristiwa ini, Sukab masih asyik merokok di tepi jembatan. Ia berjongkok di atas buk dan mencuci matanya memandang gadis-gadis yang lewat. Sukab selalu berjongkok dan merokok di atas buk pada jembatan kali kecil itu sehabis mandi sore dan rambutnya masih basah karena guyuran air. Gadis-gadis kampung yang juga baru selesai mandi dan lewat di hadapannya membuat pikiran Sukab segar. Kadang-kadang ada di antara gadis-gadis itu, babu-babu dari daerah, berhenti dekat Sukab dan mengobrol sebentar sambil menggendong bayi majikannya. Saat-saat seperti itulah yang dinantikan Sukab, ketika ia mengaduk-aduk semen pada ketinggian seratus meter di atas laut di gedung-gedung tinggi yang belum jadi. Secuil sorga di tengah kehidupan melata. Warni oh Warni, betapa aku selalu menunggumu di jembatan itu. Bau bedakmu yang murahan, kaos oblongmu yang kampungan, dan hidungmu yang pesek menggiurkan, betapa aku rindu padamu Warni, batin Sukab selalu, ketika mengangkut tanah galian, dalam terik matahari membara.

Namun, senja itu bukan Warni yang datang. Sebuah mobil dengan bak belakang terbuka dan ada kursinya yang menyamping tiba-tiba berhenti di hadapannya. Beberapa orang berseragam  mendekati Sukab, langsung memborgol kedua tangannya. Belum sempat Sukab bicara, tubuhnya sudah terangkat dan terbanting di bak mobil itu dalam keadaan tertelungkup. Lantas ada sepatu menekan kepalanya dan popor senapan menekan punggungnya. Pada tengkuknya terasa dingin sepotong besi.

“Jangan bergerak, nanti kutembak!” kata seseorang.

Mobil itu segera meluncur. Jalanan yang tidak selalu rata membuat mobil berguncang-guncang. Dan guncangan-guncangan mobil membuat wajah Sukab terantuk-antuk lantai bak mobil dan sepatu di atas kepala Sukab bagaikan godam yang memukulnya bertalu-talu. Rupanya si penginjak kepala itu memang tidak cuma menginjak, ia sesekali menghentakkan kepala Sukab ke lantai setiap kali terangkat ke atas karena guncangan mobil. Wajah Sukab dengan begitu berkali-kali mencium lantai bak mobil.

Pengalaman Sukab selanjutnya, saya ketik seperti ini:

17. Bahwa setelah beberapa lamanya Penggugat dibawa berputar-putar di Jalan Dewa Baruna dan daerah Madukara, Kapten Kemala Atmojo kedengaran oleh Penggugat berbicara lewat walkie talkie dengan Komandan Kodim Amartapura, untuk melaporkan bahwa “muatan” sudah dapat dan menanyakan harus dibawa ke mana.

18. Bahwa oleh Penggugat terdengar jawaban yang memerintahkan, “Ke kamar enam,” dan setelah itu mobil pun meluncur menuju kantor Koramil Jalur Gaza.

19. Bahwa sesampai di depan kantor Koramil, Penggugat langsung diseret keluar mobil oleh Letda Sulebar, Komandan Koramil Jalur Gaza yang berpakaian dinas lengkap, hingga Penggugat terjatuh dan sandalnya lepas.

Berikutnya, Penggugat ditarik dan siku kiri Penggugat dipegangnya dalam posisi akan dipatahkan. Dalam keadaan demikian Penggugat ditarik masuk ke dalam kantor, dan dibanting duduk di kursi tamu, sambil dihujani pukulan tinju, pada muka, kepala, telinga, rahang kiri-kanan. Ditambah tendangan sepatu ke kepala, perut dan dada. Pemukulan ini dibantu beberapa orang berseragam yang Penggugat tidak kenal. Disaksikan oleh Komandan Kodim Letkol Sri Atmo, yang berpakaian dinas tapi bajunya dilepas.

Apa yang dialami Sukab selanjutnya, Anda sudah tahu. Namun, Sukab juga menceritakan adanya orang-orang lain yang bernasib sama dengannya. Karena bahasa Amarta yang diucapkan Sukab kacau, lebih baik Anda membaca yang saya ketik:

20. Bahwa kemudian Penggugat mendengar Letkol Sri Atmo memerintahkan anak buahnya menghadapkan pengurus Masjid Syuhada. Kemudian, masuklah Haji Syubah, Haji Salim, Haji Abdurrahman, dan Haji Nur Fachry. Mereka langsung ditempeleng dan ditendang oleh Letkol Sri Atmo. Khusus Haji Salim, ia ditendang begitu keras sampai terguling-guling dan berteriak-teriak kesakitan.

21. Bahwa kemudian Penggugat dipukuli lagi oleh Letda Sulebar dan orang-orang berseragam yang lain. Kali ini, penganiayaan diiringi “humor”. Letda Sulebar memaksa Penggugat meminum sisa teh botol yang ada di atas meja, sambil menusuk-nusukkan sedotan ke dalam mulut  Penggugat. Akhirnya sisa-sisa minuman itu habis diguyurkan ke muka, ke kepala, dan ke badan Penggugat.

22. Bahwa selama Penggugat dipukuli, ia mendengar Haji Salim yang juga dipukuli mengucapkan “Allahu Akbar”, meskipun Letda Sulebar melarang Haji Salim mengucapkan itu.

23. Bahwa kemudian semua orang yang dipukuli itu disuruh pidato, menurut Letda Sulebar, harus sehebat waktu pidato membakar massa.

24. Bahwa Penggugat tidak mengerti sama sekali, yang dimaksud pidato apa dan di mana.

25. Bahwa kopiah yang dipakai Haji Salim dipertukarkan dengan kopiah yang dipakai Haji Syubah, dan letaknya dimiringkan.

26. Bahwa setelah disiram air dua ember, dan dipukuli lagi beramai-ramai, Penggugat disuruh mengaku bersalah. Dan Penggugat tidak bisa menjawab karena rahangnya tidak bisa digerakkan.

27. Bahwa kemudian Penggugat mendengar semua orang yang dipukuli sesudah Penggugat dimasukkan ke dalam sel, dan bahwa mereka tidak boleh membawa kita suci Alquran.

28. Bahwa kemudian Penggugat dipukuli  lagi dan disebut sebagai Haji Rustam.

29. Bahwa setelah Penggugat cukup lama dikeroyok dan dipukuli, kedengaran suara Kapten Kemala Atmojo mengacungkan pistol dan berkata: “Sudah! Sudah!” Lantas para pemukul itu bubar.

30. Bahwa kemudian Penggugat diseret ke ruangan lain, dan bahwa keadaan Penggugat saat itu antara sadar dan tidak.

31. Bahwa kemudian di ruangan itu dihadapkan enam orang yang dijejerkan. Lantas Kapten Kemala Atmojo berkata: “Inilah orang-orang yang memukul dan mengeroyok Pak Rustam, yang baru saja kami tangkap.” Orang-orang itu diperlihatkan masuk dalam sel. Tapi orang-orang ini badannya kecil dan kurus, sedang yang mengeroyok dan memukuli badannya besar-besar dan kekar-kekar.

32. Bahwa kemudian Penggugat mendengar pemukulan terhadap orang-orang itu dalam kamar tahanan. Tapi anehnya, bunyinya seperti tembok dan terali yang dipukul-pukul. Sedangkan jeritan-jeritan yang terdengar, bunyinya seperti dibikin-bikin.

33. Bahwa kemudian Penggugat mendengar Kapten Kemala Atmojo melapor melalui telepon kepada seseorang yang disebut komandan, bahwa terjadi pengeroyokan masyarakat pada Haji Rustam. Dan Haji Rustam sakit parah.

34. Bahwa kemudian Penggugat mendengar dari Kapten Kemala Atmojo, bahwa atasannya meminta Penggugat, yang disebut Haji Rustam, agar mengaku bersalah telah menghasut orang banyak dan merongrong kewibawaan pemeritah Kerajaan Amarta.

35. Bahwa Penggugat tidak bisa menjawab apa-apa, karena mulutnya tidak bisa bergerak. Dan karena itu ia dipukuli lagi.

Saudara, laporan resmi saya ketik, sebagai tugas saya setiap hari itu sebetulnya tidak bisa menampung segala hal yang dirasakan Sukab. Saya tahu karena ini pekerjaan saya setiap hari, mendengar cerita-cerita malang sampai saya bosan. Saya cuma tukang ketik, bukan pembela hukum. Namun saya bisa membayangkan, seterusnya dari cara bercerita Sukab yang gemetar, ketakutan, terbata-bata, dan pasrah. Sukab mengalami kejadian ini: kepala Sukab kembali tersentak-sentak seperti mau copot dari batang lehernya yang kurus. Otaknya berguncang-guncang mengacaukan kesadarannya. Tendangan dan pukulan yang begitu sering itu akhirnya membuat Sukab kehilangan rasa sakit. Ia hanya merasa ada sejumlah benda melanda dirinya dan membuatnya merasa mengambang. Ia merasa kehilangan tempat berbijak dan tidak berada di dunia nyata. Kadang-kadang ada juga sedikit rasa sakit, bila ujung sepatu lars itu menggasak ulu hatinya, namun tendangan-tendangan lain saling mengalihkan rasa sakit dan Sukab lama-kelamaan bisa menikmati penderitaan dihajar seperti itu.

“Mengaku!”

Tapi Sukab bahkan tidak bisa lagi menggerakkan lidah. Bibirnya menyatu. Seluruh giginya goyah dan rompal sebagian. Beberapa di antaranya bahkan berserakan di lantai. Ia tak bisa mengatakan pada orang-orang bersepatu lars bercincin akik berseragam dan badannya besar-besar itu—beberapa di antaranya juga berkumis melintang—bahwa ia orang yang keliru.

Di luar, malam masih merambat. Sepotong lagu dangdut menghibur orang-orang papa. Dan Sukab masih digasak.

“Mengaku!”

Begitulah pengakuan Sukab kepada saya.

Jakarta, 1986   

-------------------------------------------------------------------------- 


*Cerpen tersebut diambil dari buku kumpulan cerita pendek Seno Gumira Ajidarma: Dunia Sukab, terbitan Noura, 2017. Ada 17 cerpen di dalam buku tersebut yang menyuguhkan ide-ide dan gaya cerita yang menarik. Penasaran? Silakan membeli bukunya.