Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Cerpen: Nabo [Gabriel Garcia Marquez]

Cerpen: Nabo  
Oleh: Gabriel Garcia Marquez




Pria kulit hitam yang membuat malaikat menunggu….

Cerpen: Nabo oleh Gabriel Garcia MarquezNabo berbaring tengkurap di atas jerami. Dia mencium aroma pesing kandang kuda yang menyelubungi tubuhnya. Di kulitnya yang cokelat dan berkilau, dia merasakan bara hangat dari tendangan kuda terakhir, tetapi dia tidak dapat merasakan kulitnya sendiri. Nabo tidak merasakan apa-apa. Seolah-olah dia pergi tidur dengan pukulan terakhir tapal kuda di dahinya dan sekarang itulah satu-satunya perasaan yang dia miliki. Dia membuka matanya. Dia menutupnya lagi dan kemudian diam, meregang, kaku, karena dia sudah sepanjang sore, merasa dirinya tumbuh tanpa kenal waktu, sampai seseorang di belakangnya berkata: “Ayo, Nabo. Kau sudah tidur cukup lama.” Dia berbalik dan tidak melihat kuda-kuda; pintunya tertutup. Nabo pasti membayangkan bahwa hewan-hewan itu ada di suatu tempat dalam kegelapan meski faktanya dia tidak bisa mendengar entakan mereka yang tergesa. Dia membayangkan bahwa orang yang berbicara kepadanya sedang melakukannya dari luar kandang, karena pintu tertutup dari dalam dan terhalang. Sekali lagi suara di belakangnya berkata: “Benar, Nabo, kau sudah tidur cukup lama. Kau telah tertidur selama hampir tiga hari.” Baru setelah itu Nabo membuka matanya sepenuhnya dan ingat: “Saya di sini karena seekor kuda menendang saya.”

Dia tidak tahu jam berapa yang dia hidupi kini. Hari-hari telah banyak berlalu. Seolah-olah Sabtu ketika dia biasa pergi ke alun-alun kota itu adalah hari-hari yang asing. Dia lupa tentang kemeja putih. Dia lupa bahwa dia memiliki topi hijau yang terbuat dari jerami muda dan celana panjang gelap. Dia lupa bahwa dia tidak punya sepatu. Nabo akan pergi ke alun-alun pada Sabtu malam dan duduk di sudut, diam, tidak mendengarkan musik, tetapi menonton seorang lelaki kulit hitam. Setiap hari Sabtu dia melihatnya. Orang Negro yang memakai kacamata berbingkai tanduk, diikat ke telinganya, dan dia memainkan saksofon di salah satu tribun musik belakang. Nabo melihat pria kulit hitam itu tetapi pria kulit hitam itu tidak melihat Nabo. Setidaknya, jika ada yang tahu bahwa Nabo pergi ke alun-alun pada Sabtu malam untuk melihat si Negro dan telah menanyainya (tidak sekarang, karena dia tidak dapat mengingat) apakah lelaki kulit hitam itu pernah melihatnya, Nabo akan mengatakan tidak. Itu satu-satunya hal yang dia lakukan setelah memandikan kuda-kuda: menonton si pria kulit hitam.

Pada suatu hari Sabtu, orang Negro itu tidak berada di tempatnya di paduan suara. Awalnya mungkin Nabo berpikir bahwa ia tidak akan bermain lagi di konser publik terlepas dari fakta bahwa stan musiknya masih ada di sana. Meskipun untuk alasan itu justru, mengingat bahwa stan musik masih ada di sana, dia kemudian berpikir bahwa orang Negro itu akan kembali pada hari Sabtu berikutnya. Tetapi pada hari Sabtu berikutnya dia tidak kembali dan stan musik tidak lagi ada di tempatnya.

Nabo berguling ke satu sisi dan dia melihat pria itu berbicara dengannya. Pada awalnya dia tidak mengenalinya, terhalang oleh kegelapan kandang. Pria itu duduk di atas balok yang menjorok, berbicara dan menepuk lututnya. “Sebuah kuda menendang saya,” kata Nabo lagi, mencoba mengenali pria itu. “Itu benar,” kata pria itu. “Kuda-kuda tidak ada di sini sekarang dan kami menunggumu di paduan suara.” Nabo menggelengkan kepalanya. Dia masih belum mulai berpikir, tetapi sekarang dia pikir dia pernah melihat pria itu di suatu tempat. Nabo tidak mengerti, tetapi dia tidak merasa aneh bahwa seseorang harus mengatakan itu kepadanya, karena setiap hari ketika dia memandikan kuda, dia menciptkan lagu untuk mengalihkan perhatian mereka. Kemudian dia akan menyanyikan lagu-lagu yang sama yang dia nyanyikan untuk kuda-kuda itu di ruang tamu untuk menghibur si gadis bisu. Jika seseorang mengatakan kepadanya bahwa dia akan dibawa ke paduan suara ketika dia masih menyanyi, itu tidak akan terlalu mengejutkannya. Sekarang dia lebih terkejut karena dia tidak mengerti apa-apa lagi. Dia lelah, tumpul, carut marut. “Saya ingin tahu di mana kuda-kuda itu berada,” katanya. Dan pria itu berkata: “Sudah saya katakan, kuda-kuda itu tidak ada di sini. Yang kami cari sekarang adalah suara seperti milikmu.” Dan mungkin, menghadap ke bawah di atas jerami, Nabo mendengarnya, tetapi ia tidak dapat membedakan rasa sakit yang ditinggalkan tapal kuda di dahinya dari sensasi lain yang tidak teratur. Dia memalingkan kepalanya di atas jerami dan tertidur.

Nabo masih pergi ke alun-alun selama dua atau tiga minggu meski orang Negro itu tidak lagi berada di dalam paduan suara. Mungkin seseorang akan memberikan jawaban jika Nabo bertanya tentang apa yang terjadi pada pria kulit hitam itu. Tetapi dia tidak bertanya dan terus pergi ke konser sampai pria lain dengan saksofon lain datang untuk menggantikan si Negro. Kemudian Nabo yakin bahwa orang Negro itu tidak akan kembali dan dia memutuskan untuk tidak kembali ke alun-alun. Ketika dia terbangun dia mengira dia telah tidur dalam waktu yang sangat singkat. Bau jerami basah masih terbakar di hidungnya. Kegelapan masih ada di sana di depan matanya, mengelilinginya. Dan lelaki itu masih berdiam di sudut kandang. Suara tidak jelas tapi lembut dari orang yang menepuk lututnya, berbunyi: “Kami menunggumu, Nabo. Kau telah tertidur selama hampir dua tahun dan kau masih saja menolak untuk bangun.” Kemudian Nabo menutup matanya lagi. Dia membukanya lagi, terus melihat ke sudut, dan melihat pria itu sekali lagi, bingung, bingung. Baru kemudian dia mengenalinya.

Jika orang-orang di rumah tahu apa yang Nabo lakukan di alun-alun pada Sabtu malam, mereka akan berpikir bahwa ketika dia berhenti pergi ke sana itu mungkin karena sekarang dia punya musik di rumah. Saat itulah kami membawa gramofon untuk menghibur si gadis bisu. Karena benda itu membutuhkan seseorang untuk dapat disetel sepanjang hari, tampaknya sangat wajar jika orang itu seharusnya adalah Nabo. Dia bisa melakukannya ketika dia tidak harus merawat kuda-kuda. Gadis itu tetap duduk, mendengarkan rekaman. Kadang-kadang, ketika musik sedang diputar, gadis itu akan keluar dari kursinya, masih melihat ke dinding, meneteskan air liur, dan akan menyeret dirinya ke beranda. Nabo akan mengangkat jarum dan mulai bernyanyi. Pada awalnya, ketika dia pertama kali datang ke rumah dan kami bertanya apa yang bisa dia lakukan, Nabo mengatakan bahwa dia bisa bernyanyi. Tapi itu tidak menarik minat siapa pun. Yang kami butuhkan adalah anak laki-laki untuk menggosok tubuh kuda-kuda. Nabo tetap tinggal, tetapi dia terus bernyanyi, seolah-olah kami telah menyewanya untuk bernyanyi dan usaha mengolah kuda-kuda itu hanyalah kerja sampingan yang membuat pekerjaan itu terasa lebih mudah. Itu berlangsung selama lebih dari setahun, sampai kami di rumah itu terbiasa dengan gagasan bahwa gadis itu tidak akan pernah bisa berjalan, tidak akan pernah mengenal siapa pun, akan selalu menjadi gadis kecil yang kesepian dan mati yang mendengarkan gramofon, memandang dingin ke dinding sampai kami mengangkatnya keluar dari kursinya dan membawanya ke kamarnya. Kemudian dia berhenti menyakiti kami, tetapi Nabo masih setia, tepat waktu, menghidupkan gramofon. Itu adalah saat-saat ketika Nabo masih pergi ke alun-alun pada Sabtu malam. Suatu hari, ketika bocah itu berada di kandang, seseorang di samping gramofon berkata: “Nabo!” Kami berada di beranda, tidak begitu peduli pada suara itu. Tapi ketika kami mendengarnya untuk kedua kalinya: “Nabo!” Kami mengangkat kepala kami dan bertanya “Siapa yang bersama gadis itu?” Dan seseorang berkata: “Saya tidak melihat siapa pun masuk.” Dan yang lain berkata: “Saya yakin mendengar suara memanggil-manggil Nabo.” Tapi ketika kami pergi untuk melihat, semua yang kami temukan adalah si gadis yang terduduk di lantai, bersandar ke dinding.

Nabo pulang lebih awal dan pergi tidur. Pada hari Sabtu berikutnya dia tidak kembali ke alun-alun karena orang Negro telah digantikan posisinya. Dan tiga minggu kemudian, pada hari Senin, gramofon mulai dimainkan sementara Nabo berada di kandang. Tidak ada yang khawatir pada awalnya. Baru kemudian, ketika kami melihat bocah kulit hitam itu datang, bernyanyi dan masih meneteskan air dari sisa-sisa pemandian kuda-kuda, kami bertanya kepadanya: “Bagaimana kau bisa keluar?” Dia berkata: “Melalui pintu. Saya sudah berada di kandang sejak siang hari.” “Permainan gramofon. Tidak bisakah kamu mendengarnya?” Kami bertanya kepadanya. Dan Nabo berkata dia bisa. Dan kami bertanya kepadanya: “Siapa yang menyetelnya?” Dan dia, mengangkat bahunya: “Gadis itu, lah. Dia sudah lama bisa menghidupkannya.”

Begitulah yang terjadi sampai kami menemukan dia tergeletak tengkurap di atas jerami, terkunci di kandang dan dengan ujung tapal kuda bertatahkan di dahinya. Ketika kami berusaha mengangkatnya, Nabo berkata: “Saya di sini karena seekor kuda menendang saya.” Tapi tidak ada yang tertarik dengan apa yang mungkin dia katakan. Kami malah tertarik dengan tatapannya yang dingin dan mulutnya yang penuh dengan buih hijau. Dia menghabiskan seluruh malam dengan menangis, terbakar oleh demam, mengigau, berbicara tentang sisir yang telah hilang dalam jerami di kandang. Itu hari pertama. Pada hari berikutnya, ketika dia membuka matanya dan berkata: “Saya haus,” dan kami membawakannya air, dia meminumnya dalam sekali teguk dan meminta lagi sedikitnya dua kali. Kami bertanya bagaimana perasaannya dan dia berkata: “Saya merasa seolah-olah seekor kuda telah menendang saya.” Dan dia terus berbicara sepanjang hari dan sepanjang malam. Dan akhirnya dia duduk di atas tempat tidur, menunjuk dengan jari telunjuknya, dan mengatakan bahwa kuda-kuda itu telah membuatnya terjaga sepanjang malam. Tapi dia tidak demam sejak malam sebelumnya. Dia tidak lagi mengigau, tetapi dia terus berbicara sampai mereka menaruh sapu tangan di mulutnya. Kemudian Nabo mulai bernyanyi di balik saputangan itu, mengatakan bahwa di samping telinganya dia bisa mendengar napas kuda-kuda buta mencari air di atas pintu yang tertutup. Ketika kami melepaskan saputangan sehingga dia bisa makan sesuatu, dia berbalik ke arah dinding dan kami semua berpikir bahwa dia tertidur dan bahkan mungkin dia tertidur untuk sementara waktu. Tetapi ketika dia terbangun dia tidak lagi di tempat tidur. Kaki dan tangannya kemudian diikat ke balok penyangga di dalam kamar. Diikat kencang, Nabo mulai bernyanyi.

Ketika dia mengenalinya, Nabo berkata kepada lelaki itu, “Aku pernah melihatmu sebelumnya.” Dan lelaki itu berkata: “Setiap Sabtu kau biasa menontonku di alun-alun.” Dan Nabo berkata: “Benar, tapi kupikir aku melihat Anda dan Anda tidak melihat saya.” Dan pria itu berkata: “Saya tidak pernah melihat Anda, tetapi kemudian, ketika saya berhenti datang, saya merasa seolah-olah seseorang telah berhenti menonton saya pada hari Sabtu.” Dan Nabo berkata: “Anda tidak pernah kembali, tapi aku terus datang selama tiga atau empat minggu.” Dan pria itu, masih tidak bergerak, menepuk lututnya: “Aku tidak bisa kembali ke alun-alun meskipun itu satu-satunya hal yang pantas kulakukan.” Nabo mencoba duduk, menggelengkan kepalanya di atas jerami, dan masih mendengar suara dingin, keras kepala, sampai dia tidak lagi punya waktu untuk mengetahui bahwa dia tertidur lagi. Selalu, sejak kuda menendangnya, itu terjadi. Dan dia selalu mendengar suara: “Kami menunggumu, Nabo. Sudah tidak ada cara lagi untuk mengukur waktu yang kau habiskan untuk tertidur.”

Empat minggu setelah Negro itu berhenti datang ke paduan suara, Nabo menyisir ekor salah satu kuda. Dia tidak pernah melakukan itu. Dia hanya akan mengeringkan mereka dan bernyanyi untuk sementara waktu. Tapi pada hari Rabu itu dia pergi ke pasar dan melihat sisir dan berkata pada dirinya sendiri: “Sisir itu untuk menyisir ekor kuda.” Saat itulah semuanya terjadi, seekor kuda memberinya tendangan dan meninggalkannya dalam keadaan tak menentu, ingatan tentang hidupnya lima sampai sepuluh tahun lalu semuanya bercampur aduk. Seseorang di rumah itu berkata: “Akan lebih baik jika dia meninggal hari itu dan tidak terus-terusan seperti ini, berbicara omong kosong selama sisa hidupnya.” Tapi tidak ada yang pernah melihatnya lagi sejak hari kami mengurungnya. Hanya kami yang tahu bahwa dia ada di sana, dikurung di kamar, dan sejak itu gadis itu tidak memindahkan gramofon lagi. Tetapi di dalam rumah kami memiliki sedikit ketertarikan untuk mengetahui tentang hal itu. Kami mengurungnya seolah-olah dia seekor kuda, seolah-olah tendangan itu telah mengirimkan semacam sifat kebinatangan melalui dahinya, kebodohan seekor kuda. Kami meninggalkannya dalam ruangan empat dinding seolah-olah kami memutuskan dia harus mati di sana mengingat kami tidak cukup berdarah dingin untuk membunuhnya dengan cara lain. Empat belas tahun berlalu seperti itu sampai salah satu dari anak-anak tumbuh dan berkata dia memiliki keinginan untuk melihat wajahnya. Dan dia membuka pintu.

Nabo melihat pria itu lagi. “Seekor kuda menendang saya,” katanya. Dan lelaki itu berkata: “Kamu telah mengatakan itu selama berabad-abad dan sementara itu kami telah menunggumu di dalam paduan suara.” Nabo menggelengkan kepalanya lagi, menenggelamkan dahinya yang terluka ke dalam jerami sekali lagi, dan berpikir dia tiba-tiba teringat bagaimana hal-hal itu bisa terjadi. “Waktu itu pertama kalinya aku menyisir ekor kuda,” katanya. Dan pria itu berkata: “Kami menginginkan semuanya terjadi seperti itu sehingga kau bisa datang dan bernyanyi dalam paduan suara.” Dan Nabo berkata: “Saya seharusnya tidak membeli sisir.” Dan pria itu berkata: “Semuanya, toh juga akan terjadi kalau memang harus. Kami telah memutuskan bahwa kau memang sudah ditakdirkan membeli sisir dan menyisir ekor kuda itu.” Dan Nabo berkata: “Saya tidak pernah berdiri di belakang mereka sebelumnya.” Dan pria itu, masih tenang, masih belum menunjukkan ketidaksabaran: “Tapi kau sudah melakukannya, berdiri di sana dan kuda itu menendangmu. Itulah satu-satunya cara bagimu untuk masuk ke dalam paduan suara.” Dan percakapan yang keras kepala itu berlanjut setiap hari sampai seseorang di rumah berkata: “Ini pasti sudah lima belas tahun semenjak siapa pun membuka pintu itu.” Gadis itu (dia tidak tumbuh, sudah berusia tiga puluh tahun dan mulai menampakan kesedihan di kelopak matanya) sedang duduk melihat ke dinding ketika mereka membuka pintu. Dia membalikkan wajahnya ke arah lain, mengendus. Dan ketika mereka menutup pintu, mereka berkata lagi: “Nabo damai. Tidak ada yang bergerak di dalam lagi. Suatu hari nanti dia akan mati dan kita tidak akan tahu kecuali dari baunya.” Dan seseorang berkata: “Kita bisa tahu dari makanan. Dia tidak pernah berhenti makan. Dia baik-baik saja seperti itu, terkunci dengan tidak ada yang mengganggunya. Dia mendapat cahaya yang baik dari sisi belakang.” Dan semuanya tetap seperti itu; kecuali bahwa gadis itu terus melihat ke arah pintu, mengendus uap hangat yang disaring melalui celah-celah. Dia tetap seperti itu sampai pagi, ketika kami mendengar suara logam di ruang tamu dan kami ingat bahwa itu adalah suara yang sama yang telah kami dengar lima belas tahun sebelumnya ketika Nabo memutar gramofon. Kami bangkit, menyalakan lampu, dan mendengar irama awal lagu yang terlupakan itu; lagu sedih yang telah mati di dalam rekaman untuk waktu yang lama. Suara terus berbunyi, semakin dan semakin keras, sampai suara seret terdengar pada saat kami mencapai ruang tamu, dan kami masih bisa mendengar rekaman bermain dan melihat gadis itu di sudut di samping gramofon, melihat ke dinding dan memegangi engkol. Kami tidak mengatakan apa-apa, tetapi kembali ke kamar kami mengingat bahwa seseorang telah memberi tahu kami bahwa kadang-kadang gadis itu tahu cara memutar gramofon. Berpikir begitu, kami tetap terjaga, mendengarkan nada kecil yang usang dari rekaman yang masih berputar pada pegas yang patah.

Sehari sebelumnya, ketika mereka membuka pintu, tempat itu berbau limbah biologis, dari mayat. Orang yang membukanya berteriak: “Nabo! Nabo!” Tapi tidak ada yang menjawab dari dalam. Di samping pintu masuk ada piring kosong. Tiga kali sehari piring itu diletakkan di bawah pintu dan tiga kali sehari piring itu keluar lagi tanpa makanan yang tersisa. Begitulah cara kami mengetahui bahwa Nabo masih hidup. Tidak ada cara lain. Tidak ada lagi yang bergerak di dalam, tidak ada lagi nyanyian. Dan itu pasti setelah mereka menutup pintu ketika Nabo berkata kepada pria itu: “Saya tidak bisa pergi ke paduan suara.” Dan pria itu bertanya mengapa. Dan Nabo berkata: “Karena saya tidak punya sepatu.” Dan pria itu, mengangkat kakinya, berkata: “Itu tidak penting. Tidak ada yang memakai sepatu di sini.” Dan Nabo melihat tapak kaki yang keras dan kuning dari kaki telanjang yang dipegang pria itu. “Aku sudah menunggumu di sini untuk selama-lamanya,” kata pria itu. “Kuda itu baru saja menendang saya beberapa saat yang lalu,” kata Nabo. “Sekarang saya akan menyemprotkan sedikit air ke wajah saya dan mengajak mereka berjalan-jalan.” Dan pria itu berkata: “Kuda-kuda tidak membutuhkanmu lagi. Tidak ada lagi kuda. Kaulah yang harus ikut dengan kami.” Dan Nabo berkata, “Kuda-kuda itu seharusnya ada di sini.” Dia bangkit sedikit, menumpangkan tangannya ke jerami sementara lelaki itu berkata: “Mereka tidak punya siapa-siapa untuk merawat mereka selama lima belas tahun.” Tapi Nabo menggaruk tanah di bawah jerami, mengatakan: “Sisir itu pasti masih ada di sini.” Dan pria itu berkata: “Mereka menutup kandang lima belas tahun yang lalu. Sekarang penuh dengan sampah.” Dan Nabo berkata: “Sampah tidak dikumpulkan dalam satu sore. Sampai saya menemukan sisir itu saya tidak akan keluar dari sini.”

Pada hari berikutnya, setelah mereka mengunci pintu lagi, mereka mendengar gerakan yang sulit di dalam sekali lagi. Tidak ada yang bergerak sesudahnya. Tidak ada yang mengatakan apa-apa lagi sampai derit pertama terdengar dan pintu mulai memberi jalan di bawah tekanan yang tidak biasa. Di dalam, sesuatu seperti binatang yang terengah-engah terdengar. Akhirnya erangan engsel berkarat terdengar begitu mereka berpisah ketika Nabo menggelengkan kepalanya sekali lagi. “Sampai saya menemukan sisirnya, saya tidak akan pergi ke paduan suara,” katanya. “Pasti ada di sekitar sini.” Dan dia menggali jerami, memecahnya, menggaruk tanah, sampai pria itu berkata: “Baiklah Nabo. Jika satu-satunya hal yang kauperlukan untuk datang ke paduan suara adalah menemukan sisirnya, cari saja kalau begitu.” Dia mencondongkan badan ke depan, wajahnya menjadi gelap karena kesombongan seorang pasien. Dia meletakkan tangannya pada penghalang dan berkata: “Lanjutkan Nabo. Saya pikir tidak akan ada yang menghentikanmu.”

Dan kemudian pintu terbuka, keluarlah seorang Negro bertubuh besar serupa binatang dengan bekas luka yang kasar di dahinya (terlepas dari fakta bahwa lima belas tahun telah berlalu), ia keluar tersandung perabotan, tinjunya terangkat dan mengancam, masih dengan tali yang mengikatnya lima belas tahun sebelumnya (ketika dia adalah seorang anak laki-laki kecil berkulit hitam yang merawat kuda-kuda); dan (sebelum mencapai halaman) dia melewati gadis itu, yang tetap duduk, engkol gramofon masih di tangannya sejak malam sebelumnya (ketika dia melihat kekuatan hitam tak terkendali dia ingat sesuatu yang pada suatu waktu pasti merupakan sebuah kata) dan dia mencapai halaman (sebelum menemukan kandang), setelah merobohkan cermin ruang tamu dengan bahunya, tetapi tanpa melihat gadis itu (tidak di samping gramofon atau di cermin), dan dia berdiri dengan wajahnya menghadap matahari, matanya tertutup, buta (sementara di dalam kebisingan cermin yang pecah masih terjadi), dan dia berlari tanpa tujuan, seperti kuda yang ditutup matanya secara naluriah mencari pintu kandang bahwa lima belas tahun penjara telah terhapus dari ingatannya tetapi tidak dari instingnya (sejak hari yang jauh ketika dia menyisir ekor kuda dan ditinggalkan bingung selama sisa hidupnya), dan meninggalkan bencana, pembubaran, dan kekacauan seperti banteng yang ditutup matanya di dalam ruangan penuh lampu, dia sampai di belakang halaman (masih tanpa menemukan kandang), dan menggaruk tanah dengan kemarahan yang menggelora yang telah dia gunakan untuk merobohkan cermin, berpikir mungkin bahwa dengan menggaruk tanah dia bisa membuat bau urat kuda beterbangan lagi, sampai akhirnya mencapai pintu kandang dan mendorongnya terlalu cepat, jatuh tengkurap dengan wajahnya, dalam kematiannya mungkin sakit, tapi masih bingung dengan binatang buas yang setengah detik sebelumnya telah mencegahnya mendengar gadis itu, yang mengangkat engkol ketika dirinya lewat, meneteskan air liur, tetapi tanpa bergerak dari kursi, tanpa menggerakkan mulutnya tetapi memutar-mutar engkol gramofon di udara, ingat satu-satunya kata yang pernah dia pelajari dalam hidupnya, dan berteriak dari ruang tamu: “Nabo! Nabo!”

(*)