Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

CERPEN: Pergulatan di Dapur ~ Juan José Millás (2003)

CERPEN:
Pergulatan di Dapur 

Juan José Millás, 2003





Pergulatan di Dapur Juan José MillásSepanjang tahun kemarin ia memperoleh penghasilan yang besar, jadi ia menyewa rumah di pinggir laut untuk menghabiskan liburan. Rumah itu berlantai dua dengan taman di belakang sehingga mereka bisa makan sore sambil menikmati matahari terbenam. Istri dan kedua anaknya sangat gembira saat melihat rumah tua besar berhalaman luas itu dan ia merasa bangga akan dirinya. Hidup memang sulit namun ada saja momen ketika kebahagiaan tinggal sejangkauan tangan. Sementara anak-anak memelesat ke kamar-kamar mencari tempat rahasia, tangga tersembunyi, serta sudut dan celah misterius, ia dan istrinya menurunkan barang dari mobil dan menatanya dengan cermat dan sukaria. Malam telah turun saat barang-barang selesai ditata, lalu mereka melahap roti lapis yang telah disiapkan istrinya sebelum keluar kota. Karena lelah setelah perjalanan panjang, mereka pun menaiki ranjang dan segera tertidur.

Keesokan harinya mereka bangun kesiangan dan mendapati cuaca begitu indah. Ranting pepohonan di taman berayun-ayun ditiup angin sepoi sementara burung-burung, yang acuh tak acuh pada kegiatan keluarga yang baru tiba ini, mematuki buah.

Setelah mengumpulkan handuk, rakit tiup, dan tabir surya, mereka berkendara ke pantai. Ayah dan ibu leyeh-leyeh menjemur diri sementara anak-anak bermain di bibir air. Si istri mengeluarkan novel dari tas dan mulai membaca. Suaminya bergeming saja, berbaring, sembari mengawasi anak-anak dari kejauhan dan menikmati keselarasan antara matahari, laut, dan anak-anaknya yang membentuk bidang segitiga itu. Pada segitiga imajiner itu mendadak tampak sorot yang tajam, dan ia pun tersenyum, mengingat semasa kanak-kanak dianggapnya sosok geometris itu sebagai Tuhan yang muncul di hadapannya.

Ombak menggulingkan rakit tiup dan melemparkan anak-anak ke pasir. Diiringi tawa jenaka yang turut dilontarkan anak-anak lainnya, mereka berusaha untuk menaiki rakit itu lagi. Si ayah terpikir anak-anaknya bisa saja tersapu ke laut oleh arus yang tak diduga-duga dan mendadak merasa gelisah. Ia menyadari bahwa di pantai yang terpencil itu tidak ada sarana penyelamatan. Ia belum tentu bisa berenang sejauh lengan anak-anak menebah, mencari-cari pegangan tanpa daya. Jika petaka semacam itu melanda, pikirnya, ia akan meminta pertolongan dari pengunjung lainnya di pantai itu. Sambil melihat-lihat orang di dekatnya untuk mencari yang mana saja yang tampaknya agak lebih kekar, ia memilih para calon anggota tim penyelamat. Ia menemukan dua-tiga orang yang sepertinya dapat menolong, yang membuatnya merasa sedikit lega. Namun untuk berjaga-jaga, ia pun bangkit dan berjalan ke air, menyuruh anak-anaknya agar berhati-hati. “Pasangnya sedang naik,” jelasnya. “Biarpun kalian tetap di situ, airnya bisa saja jadi dalam.”

Begitu kembali ke sisi istrinya, sekonyong-konyong ia didera pikiran bahwa mobilnya mungkin saja belum dikunci. Ia melangkah ke tempat parkir dan melihat pintu mobil sudah dikunci namun jendela di sisi jok yang diduduki istrinya tadi terbuka sedikit. Ia menaikkan kaca jendela itu dan kembali ke handuk pembaringannya tadi.

“Jendela di samping tempat dudukmu tadi belum naik,” ucapnya.

“Cuma sedikit, biar ada udara masuk. Kalau tidak begitu, nanti di dalam terlalu panas.”

“Nanti bagaimana kalau ada orang yang iseng buang puntung rokok ke mobil?”

Istrinya menggumam tidak jelas yang dapat berarti apa pun, menutup novelnya, dan mulai mengoleskan losion ke bahu. Suaminya memalingkan muka, berusaha menemukan anak-anak, dan merasa panik hingga berhasil menyuruh mereka keluar dari kumpulan anak-anak yang bermain di bibir air.

“Sudah kau matikan televisinya tadi?” ia lalu bertanya pada istrinya. Tatapannya masih terpancang pada anak-anak.

“Kau sendiri yang mematikan sakelarnya sebelum kita pergi,” ujar istrinya.

“Aku tahu, tapi kalau kita meninggalkan rumah selama sebulan penuh, baiknya kita matikan semuanya. Mana tahu kita kalau-kalau ada kejadian apa.”

“Sudah kumatikan. Tenang saja,” kata istrinya.

Ia merasakan desakan untuk menyalakan rokok tetapi tidak jadi, sembari memenungkan bahwa pengorbanan kecilnya itu akan dapat mencegah terjadinya petaka yang tak terduga-duga selama liburan. Sebagai gantinya ia meraih sepotong kayu yang mengapung lalu mengetuk-ngetukkan jemarinya yang menyilang pada benda itu tiga kali, matanya tidak pernah lepas dari anak-anak.

Sore hari mereka pergi ke perkampungan. Di situ mereka membeli seekor lobster yang sangat besar di pasar untuk merayakan dimulainya liburan mereka. Lobster tersebut masih hidup dan anak-anak dengan girang menyodok-nyodokkan ranting di antara capit binatang itu sementara ayah mereka mengawasi, gelisah membayangkan binatang itu melumatkan tangan salah seorang anaknya. Begitu mereka sampai di rumah, ia mencari-cari tali, mengikat capit krustasea yang sangat kuat itu, dan meletakkannya di bak cuci piring di dapur.

“Besok kami akan memakanmu,” ucapnya, berusaha terdengar ceria. Meski begitu, ia mulai dilanda rasa khawatir akan lobster itu.

Malam itu ia terbangun pada pukul tiga dini hari gara-gara suara samar namun teratur yang menusuk-nusuk heningnya daerah pedalaman yang senyap. Suara itu tampaknya berasal dari lantai bawah. Ia mengenakan selop dan turun, berjalan dengan hati-hati, namun derit tangga meredam suara misterius itu.

Ia langsung menuju dapur dan menyadari bahwa suara itu berasal dari bak cuci piring, tempat lobster tersebut tengah sekarat. Binatang itu mengatup-ngatupkan bagian tubuhnya yang tampak seperti sepasang bibir mungil yang mestilah merupakan mulutnya, menimbulkan suara mengetok-ngetok yang terdengar nyaring dalam rumah itu. Memandangi si lobster malah memperbesar kecemasannya. Binatang itu lebih dari sekadar hidangan mewah, melainkan makhluk hidup yang direnggut dari habitat alaminya dan kini bergelut mempertahankan hidup.

Si krustasea menggerak-gerakkan matanya, dan ia membayangkan penderitaan hebat karena terjebak dalam cangkang yang keras itu.

Terpikir olehnya, barangkali binatang itu sedang menjerit-jerit, dalam frekuensi yang tidak bisa didengarnya. Kemudian ia menyadari bahwa tali di salah satu capit binatang itu telah lepas, dan anggota badannya yang kanan pun terbebas. Binatang itu mungkin saja kidal, batinnya, untuk mengurangi rasa takut yang mulai menguasai. Ia pikir si lobster tidak akan bisa keluar dari bak, dan meskipun bisa, entah bagaimana caranya, binatang itu tidak akan sanggup memanjat tangga dan mencapai kamar tidur mana pun. Meski begitu, ia ke kamar mandi mencari-cari karet gelang, lalu membelitkannya beberapa kali pada capit si lobster yang kuat sekali. Kembali ia berhasil melumpuhkan binatang itu. Mana tahan aku mendengar binatang itu sekarat semalaman, pikirnya. Namun ia tidak tahu caranya mematikan lobster.

Ia mengambil panci bergagang dan memukul kepala si lobster, namun tidak cukup keras untuk memecahkan cangkangnya. Makhluk sekarat itu pun kembali bergerak-gerak, pelan sebagaimana sebelumnya dan tak menampakkan ekspresi. Mungkin jika ia memasukkan jarum dari kepala ke ekor binatang itu, organ vitalnya akan kena. Tidak ada jarum di dekat-dekat situ, namun ia menemukan alat pemecah es dan berkat usaha yang sungguh-sungguh disertai takut sekaligus jijik, ia berhasil menusuk bagian yang dikiranya leher. Meski begitu, raut gelap dan lembap lobster yang sukar dibaca tak menampakkan tanda-tanda keberhasilan usahanya. Mulut binatang itu terus saja megap-megap, sambil mengeluarkan buih sekarat yang menjijikkan.

Dalam keputusasaan ia menyumbat mulut si lobster dengan sapu tangan dan mengikatkannya ke leher pada keran. Diliputi kegelisahan yang teramat sangat, ia menaiki tangga hendak tidur.

Keesokan harinya mereka pergi ke pantai. Anak-anak tidak ada yang tewas, mobil tidak terbakar, sekalipun begitu istrinya tetap saja sembrono. Mereka lalu menyiapkan lobster, yang menurut keluarganya lezat. Mengaku perutnya sedang tidak keruan—sebagian karena ia sedang tidak hendak pada lobster, sebagian lagi karena ia berharap pengorbanan kecilnya akan memberikan kedamaian selama Agustus itu—ia tidak mencicipinya. Liburan itu kan untuk beristirahat, batinnya.

Untuk mempersingkat cerita. *


------------------------------------------------------------
Juan José Millás pengarang novel dan cerpen kontemporer, telah memenangkan sejumlah penghargaan sastra paling terkemuka di Spanyol untuk karya fiksi. Karya-karyanya telah diterjemahkan ke dalam belasan bahasa. Cerpen ini diterjemahkan dari versi bahasa Inggris Tobias Hecht dalam Words Without Borders edisi September 2003.