Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Akan Datang Rintik Hujan

Akan Datang Rintik Hujan
Oleh: Ray Bradbury 




Akan Datang Rintik Hujan
Picture: Pixabay



Di dalam ruang tamu terdengar suara jam, Tik-tok, pukul 07.00, waktunya bangun, waktunya bangun, pukul 07.00! tak ada yang mengkhawatirkannya. Pagi itu rumah kosong tanpa seseorangpun yang berbaring. Jam menandai jadwalnya, mengulang dan terus mengulang, merasuk ke dalam kekosongan, Pukul 07.09 waktunya sarapan, pukul 07.09! 

Di dapur terdengar suara kompor mendesis, dan perabot lain menghasilkan 8 lembar roti bakar kecoklatan yang sempurna terlontar dan hangat, delapan telur mata sapi, enam belas irisan daging, dua gelas kopi dan dua gelas susu dingin. 

“Hari ini tanggal 4 Agustus 2026,” seru suara kedua yang berasal dari benda tertinggi yang ada di dapur, “di Kota Allendale, California.” Ia mengulang tanggal itu sampai tiga kali, sampai hal itu terasa sudah cukup untuk diingat. “Hari ini Pak Featherstone ulang tahun. Hari ini Perayaan pernikahan Tilita. Asuransi telah dibayar, begitupun dengan tagihan air, gas dan lampu.” 

Seseorang di dinding, kemudian menyiarkan rekaman di bawah mata elektrik. 

Delapan lewat satu, tik tok, pukul 08.01, berhenti ke sekolah, berhenti bekerja, lari, lari, 08.01! tapi tak tak ada satupun pintu yang terbanting. Tak ada satupun jejak langkah di karpet. Di luar sedang hujan, Kotak cuaca di depan pintu bersuara pelan. “Hujan, hujan, pergilah hujan, siapkan payung, jas hujan hari ini…. ” suara hujan terekam di dalam ruangan kosong, menggema. 

Di luar, garasi berbunyi dan pintu berjungkat terbuka memperlihatkan mobil yang sedang menunggu. Beberapa waktu kemudian pintu berayun turun kembali. 

Pukul delapan lewat tiga puluh menit hidangan telur mulai layu dan roti bakar telah membatu, sebuah aluminum mendesak mendorongnya ke westafel. Dimana air panas berputar dan tenggorokan besi mencerna dan membilas makanan itu pergi jauh hingga ke laut. Piring-piring kotor dicuci dengan air panas dan menyembul di alat pengering. 

Sembilan lewat lima belas, jam berbunyi, waktunya membersihkan. 

Dari lubang kecil di dinding, seekor robot tikus kecil berlari keluar. Ruangan-ruangan dibersihkan oleh hewan kecil pembersih, semua anggota tubuhnya terbentuk dari karet dan baja. Ia terpelanting di kursi, dengan sungut berputar-berputar. Menarik permadani dan selimut untuk menghilangkan debu yang menempel. Kemudian layaknya seorang penyelinap, si robot tikus melompat kembali ke dalam lubangnya. Mata elektrik merah mudanya menutup. Rumah telah bersih. 

Pukul 10.00. Matahari muncul dari balik hujan. Berdiri rumah sepi yang berada di sebuah kota yang dipenuhi puing-puing dan debu. Ini adalah satu-satunya rumah yang terakhir berdiri. Pada malam hari kota yang rusak itu memancarkan sinar radioaktif sejauh beberapa mil. 

Sepuluh lewat lima belas menit. Kebun disiram oleh alat penyiram otomatis yang memercikkan air, memenuhi udara pagi dengan menyebarkan kecerahan. Air membasahi jendela panel. Mengalir ke bawah bagian barat yang hangus, dimana rumah itu pernah terbakar. Masih ada bagian yang berwarna putih, sebab di bagian barat, warna rumah telah menghitam. Menyelamatkan dari empat bagian lainnya. Di bagian itu terlukiskan sebuah bayangan manusia yang sedang yang bergerak ke halaman. Di sana dalam bentuk foto, seorang wanita menunduk untuk memetik bunga. Selanjutnya, foto-foto mereka terbakar di kayu, seorang bocah laki-laki kecil, terlempar di udara, lebih tinggi lagi, foto bola yang sedang terlontar, dan sebaliknya ada foto seorang gadis yang merentangkan tangannya berusaha menangkap bola namun tak pernah kembali. 

Cahaya hujan buatan membasahi kebun dengan jatuhan cahaya. 

Sampai hari ini, rumah itu masih terasa damai. Sulit dan berhati-hati saat menyelediki rumah itu, “Siapa yang ada di sana? apa kata sandinya?” dan tak ada jawaban dari kotak sepi dan hanya terdengar suara kucing yang memeking. Dan kemudian jendela tertutup dan melindungi rumah itu dan dengan senang hati memberikan perlindungan seolah mesin-mesin itu telah dilanda ketakutan. 

Muncul suara gemetar, dari dalam rumah. Jika seekor burung pipit hinggap di jendela, tirai kemudian tertutup, dan burung terbang menjauh, bahkan seekor burung tidak boleh menyentuh rumah! 

Jam dua belas siang. 

Seekor anjing memeking, gemetaran di depan beranda. 

Di depan pintu yang mengenali suara anjing itu kemudian terbuka. Si anjing dulunya besar dan gemuk, tapi sekarang hanya tinggal tulang dilapisi kulit yang terluka, bergerak masuk di dalam rumah, meninggalkan jejak lumpur. Di belakang si anjing si robot tikus kecil mendesing marah. Marah karena membersihkan lumpur, marah karena ketidaknyamanan itu. 

Bahkan ketika sehelai daun yang bertiup di bawah pintu lalu dinding panel berputar terbuka, dan si robot tikus menyala dan dengan tangkas membersihkannya begitupun debu-debu kotor, rambut, atau kertas, dibersihkan oleh si robot tikus dengan miniatur rahang baja yang dimilikinya, setelah selesai ia bergegas kembali ke lubangnya. Di sana pipa turun dan menyalurkan sampah-sampah itu ke dalam gudang, dan dipindangkan ke dalam tabung udara dari sebuah tempat pembakaran sampah yang terlihat menyandar duduk di sudut yang kelam bak seorang tokoh jahat. 

Si anjing menaiki tangga, terdengar suara histeris dari alarm yang berasal dari tiap pintu, dan akhirnya si anjing menyadari bahwa rumah tempat ia berada sekarang telah sepi. 

Ia mengendus udara dan membuka pintu dapur, di balik pintu, kompor sedang membuat pancakes dan memenuhi ruangan dengan aroma roti dan sirup maple yang menyengat. 

Mulut si anjing dipenuhi busa, ia bersandar di pintu, mengendus aroma api. Ia kamudian berlari berkeliling, menggigit ekornya, lelah dengan hiruk pikuk itu dan akhirnya mati. Ia berbaring di ruang tamu selama satu jam. 

Jam dua, seru suara itu. 

Perlahan akhirnya sensor kerusakan mulai mendeteksi, membuat sejumlah besar tikus-tikus keluar sambil bersenandung dengan lembut, terlihat seperti tiupan daun abu-abu yang terbawa angin elektrik. 

Jam dua lewat lima belas menit. 

Si anjing telah tiada. 

Di ruang bawah tanah, tempat pembakaran sampah menyala, dan mendadak cahaya berputar melompat naik ke cerobong asap. 

Sebuah jembatan meja muncul dari serambi belakang. Kartu-kartu bermain dan bergetar masuk ke atas pancaran, Martini yang berada di dalam kotak yang terbuat dari kayu ek, dihidangkan dengan roti lapis salad serta telur. Musik dimainkan. 

Tetapi suasana meja sangat sepi dan kartu itu sama sekali tak ada seorang pun yang menyentuhnya. 

Pada pukul empat, meja kemudian berlipat bak kupu-kupu raksasa dan kembali masuk ke dalam dinding panel. 

Lima-lewat tiga belas. 

Dinding kebun bibit bercahaya. Muncul bentuk-bentuk hewan, jerafah kuning, singa biru, antelop, harimau kumbang ungu melompat di sebuah zat kristal. Semua dinding itu adalah kaca, mereka muncul dengan berbagai warna dan fantasi. Film tersembunyi dan terkunci melalui gigi jentera, dan dinding menghidupkan film itu. Kebun bibit menjalin berbentuk keriting, membentuk sedemikian rupa agar telihat seolah seperti padang rumput, kemudian melintas kecoak aluminium dan jangkrik baja, dan ditambah dengan kepak kupu-kupu di udara terbuat dari tisu merah yang berkibar diantara aroma jejak hewan. 

Terdengar suara tikar kuning seolah sarang lebah dengan bayangan di bawahnya, kumpulan singa malas yang mendengkur, derik langkah okapi1 dan bisikan dari dalam hutan hujan, bak suara terjangan, jatuh bagai musim panas yang menyapu rerumputan. Kini dinding lebur ke dalam rerumputan kering di tempat jauh, mil per mil, dan kehangatan langit. Hewan-hewan tergambar jauh ke dalam semak berduri dan lubang air. Saat itu adalah jam untuk anak-anak. 

Pukul lima sore, bak mandi diisi dengan air panas. 

Enam, tujuh, hingga pukul delapan malam, Hidangan makan malam dimanipulasi bak tipuan sulap. Dan pelajaran dimulai. Pada sebuah besi yang berlawanan dengan perapian yang sedang menyala untuk menghangatkan, sebuah cerutu dibakar, setengah inci telah terbakar menjadi abu, berpura-pura merokok. 

Pukul sembilan malam, sebuah ranjang hangat tersembunyi di luar, untuk malam yang dingin. 

Sembilan lewat lima. Waktunya belajar. Suara berbicara keluar dari langit-langit, “Nona McCiellan, puisi mana yang kau inginkan malam ini?” rumah itu sepi. 

Suara terakhir kemudian berkata. “Selama anda tak memilih, saya akan memilihkan anda sebuah puisi secara acak.” Suara pelan musik mawar mengalun di belakang suara itu. “Sara Teasdale, saya memilih, puisi favoritmu. 

Akan datang rintik hujan, dan aroma tanah 

Menenguk sekelilingnya dengan suara berkilau 

Dan katak di kolam bersenandung pada malam hari 

Dan pohon plum liar bergetar 

Robin mengenakan selimut berbulu api, 

Siulannya melintas di atas sebuah pagar kawat. 

Dan tak seseorang pun yang mengerti tentang perang, tak ada, 

Akankan mereka peduli setelah semua berakhir. 

Tak ada yang mengenang, bahkan pohon maupun burung 

Jika manusia binasa 

Dan musim semi sendiri, ketika dia terbangun saat fajar 

Akankah menyadari bahwa kita semua telah tiada.” 

Api membakar batu perapian dan asap cerutu yang menjauh bersama abu dari pembakaran, kursi kosong saling berhadapan satu sama lain diantara dinding yang sunyi. Dan musik mengalun. 

Pukul sepuluh malam, rumah mulai mengalami kematian. 

Angin berdesir, pohon tumbang dan merusak jendela dapur. Larutan pembersih, botol-botol, pecah di atas kompor, seketika ruangan menjadi terang benderang. 

“Api!” keluar suara jeritan, lampu rumah menyala, pompa air menyemprotkan air dari atas langit-langit. Tetapi larutan membasahi linoleum3, menjilat, dan memakannya, di bawah pintu dapur. Ketika suara terus menjerit “api, api api!” 

Rumah itu berusaha menyelamatkan dirinya sendiri. Pintu terlontar tertutup rapat. Namun jendela telah rusak karena perapian, dan angin yang bertiup menyebabkan kebakaran. 

Rumah itu menyediakan ruang bawah tanah, sebagai perlindungan dari kebakaran yang semakin memercikkan api yang menyala, api menyulut dari satu ruangan ke ruangan yang lain hingga ke tangga. Seketika robot tikus mencicit bergegas membawa air dari balik dinding. Menembakkan air dan kemudian berlari. Kemudian dinding menyemprotkan mesin hujan. 

Tapi sudah terlambat, suatu tempat, pompa air sudah tak sanggup bekerja dan kemudian berhenti. Hujan telah berhenti. Cadangan air telah terbuang begitu banyak untuk keperluan mandi dan mencuci piring beberapa hari yang lalu. 

Api melahap tangga, melahap Picasso, dan Matisses di lantai atas, membakar dengan pelan badannya hingga kanvas itu tergulung, terbakar dan menghitam. 

Sekarang api membakar ranjang, menjilati jendela, menghiasinya dengan tirai api. 

Lalu, sekuat tenaga, dari pintu jebak di loteng, robot buta menunduk ke bawah, dengan mulut keran air yang menyemburkan cairan kimia hijau. 

Api pun berusaha dipadamkan, bagai seekor gajah yang pertama kali melihat ular yang mematikan. 

Sekaranga ada dua puluh ular di lantai. Membunuh api dengan bisa ular yang memancar dari busa hijau. 

Namun api pertama pintar, api itu menyebar di luar rumah, di dekat pompa air, kemudian terjadilah ledakan, otak loteng yang mengarahkan pompa untuk meredakannya, di atas balok perunggu. 

Api menjilat balik dan menyerbu lemari pakaian dan membakar pakaian yang menggantung di sana. 

Rumah itu mulai ketakutan, kerangka tersusun atas kayu dari pohon oak, tersulut panas, dan kawat, dan mulai timbul kegelisahan, bagai seorang dokter bedah yang merobek kulit dan meninggalkan lapisan pembuluh darah merah dan kapiler melepuh mengerikan. Tolong, tolong! Kebakaran! Kebakaran! Panas menghampiri cermin bagai es musim dingin yang rapuh, dan suara itu kemudian keluar lagi, “kebakaran, kebakaran, lari, lari” seperti bak pembibitan, sajak, selusin suara, tinggi, rendah seperti suara anak-anak mati dalam hutan, sepi, sunyi. Dan suara muncul dari kawat yang melompat dari lapisan pohon kastanye, . satu, dua tiga, empat, lima, suara kematian. 

Di dalam kotak bibit hutan yang terbakar, singa biru mengaum, jerafah ungu melompat, harimau kumbang berlari bekeliling, berubah warna, dan sepuluh juta hewan berlari menjauhi api, dan menuju ke aliran sungai yang mengepulkan uap panas, sepuluh atau lebih terdengar suara kematian. 

Dan terakhir di bawah api yang berkobar, terdengar suara-suara, tak sadar, tak lagi mengumumkan tentang waktu, pelan-pelan terpotong-potong oleh suara mesin pemotong rumput. Atau sebuah payung dengan penuh ketakutan menutup dan membuka, menghantam dan membuka pintu depan. Telah terjadi banyak hal di sana, bagai sebuah toko jam ketika tiap jam berbunyi secara bersaamaan selama satu jam. Sebuah pemandangan yang sangat membingungkan, kacau, nyanyian, jeritan, dan beberapa robot tikus pembersih yang tersisa keluar untuk membersihkan sisa debu, dan sebuah suara utama, mengabaikan situasi tersebut, membaca sebuah puisi begitu keras, untuk belajar, sampai akhirnya semua putaran film itu terbakar, hingga semua kawat yang terlilit pada lintasan rusak. 

Api membakar rumah itu, dan menghempaskannya menjadi dataran, mengepulkan percikan bunga api dan asap. 

Di dalam dapur, sebelum hujan, api dan kayu, pada awalnya dapat membuat sarapan bagai membuat menu untuk seorang psikopat, dua belas lusin telur, enam lembar roti bakar, dua puluh lusin irisan daging, dimana semuanya dilahap oleh api, dan ketika kompor berfungsi kembali, terdengar suara desisan histeris. 

Rusak berat, loteng terhantam ke dapur dan ruang tamu, ruang tamu ke dalam gudang bawah tanah, gudang bawah tanah ke dalam bagian gudang bawah tanah yang lain, benar-benar membeku, kursi, rekaman film, ranjang, dan semua kerangka jatuh kedalam membentuk gundukan dan kekacauan. 

Asap dan kesunyian, sebuah asap yang sangat besar 

Fajar menyingsing di Timur, diantara kehancuran, sebuah dinding masih bertahan sendirian. Di dinding itu, suara terakhir terdengar lagi dan lagi, kala matahari bersinar di atas tumpukan puing dan hawa panas. 

“Hari ini tanggal 5 Agustus 2026, hari ini tanggal 5 Agustus 2026, hari ini….” 



** 

---------------------------------------
Alih Bahasa dan Ilustrasi : Ilmi 
Catatan, diterjemahkan dari cerpen berjudul There Will Come Soft Rain karangan Ray Bradbury