Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sup Air Mata Pembuka


Sup Air Mata Pembuka,Tomi Astikainen, Cerpen Terjemahan



Sup Air Mata Pembuka
Oleh: Tomi Astikainen, 2016


Sekarang tengah malam. Aku duduk di tanah, di suatu jalan besar di Yunani, di bawah jembatan. Sakuku kosong melompong. Tidak ada dompet, tidak ada kunci, tidak ada ponsel. Aku menyanyikan keras-keras lagu klasik dari Red Hot Chili Peppers, “Sometimes I feel like I don’t have a partner ….” Kucela diri ini. “Fiuh, klise banget sih! Gelandangan di bawah jembatan.”

Tidak ada mobil yang melintasi jalan. Napasku beruap dalam keremangan cahaya lampu jalan. Aku telah berjalan berjam-jam tanpa henti, dan belum makan apa-apa selain sepotong roti kering. Tampaknya malam ini akan di luar lagi, sendirian.

Tiba-tiba, aku melihat ada yang berkilauan di horizon. Lampu sorot mobil! Sebuah mobil melewatiku, melambatkan kecepatan, dan berhenti di area peristirahatan terdekat. Aku menyambar bawaanku lalu berjalan mendekat sambil memendam harapan tinggi. Mobil itu penuh penumpang namun aku sudah bisa membayangkan diriku menjejal di antara mereka di jok belakang, dengan memeluk ransel merah kecilku, aman dari bekunya musim dingin. Aku maju dengan langkah tergesa-gesa, namun berhati-hati. Aku tidak mau menakuti mereka.

Aku menghampiri mobil itu dan mengintip ke dalam. Orang-orangnya pada terlihat takut dan curiga, terusik oleh penebeng yang menyeramkan ini. “Hai! Saya Tomi dari Finlandia. Bolehkah saya ikut sampai pom bensin terdekat?” tanyaku.

“Tidak,” jawab si pengemudi. Ia menurunkan jendela lalu melaju menembus malam. Hah. Lunglai aku kembali ke bawah jembatan. “Masak sih tidak ada seorang pun di luar sini yang bisa membantu. Masak aku sendirian terus.” Aku mengepompong diriku dalam kantor tidur—yang dibuat untuk cuaca yang jauh lebih hangat. Aku menggosokkan kedua tanganku yang dingin ke paha. “I don’t ever wanna feel like I did that day. Take me to the place I love. Take me all the way.”[1] Tetes-tetes air mata menuruni kedua belah pipiku. Hidup semacam ini tidak layak bagi siapa pun.

Paginya aku lanjut mencari tebengan. Dua hari lagi. Dua ribu kilometer. Tujuan: Utara. Label harga: Nol.

Sambutan hangat menanti di Berlin: penginapan gratis, makanan hasil memulung, serta teman yang sangat menginspirasi—bukan hanya untukku melainkan juga sekitar tiga ratus pelancong yang sepanjang tahun dapat menikmati Nomad Base yang ikut kurintis. Kawan-kawan nomad yang datang ke Berlin tidak harus tidur sendirian di bawah jembatan.

Selama empat tahun, 2010-2014, saya sengaja menolak menggunakan uang. Saya tidak punya rekening bank, ataupun kartu kredit. Saya tidak menerima uang, sekalipun ditawari. Saya tidak minta bayaran atas pekerjaan yang saya lakukan. Selama waktu itu saya berkelana ke 42 negara dan mengamati kehidupan orang biasa, kebiasaan serta perilaku mereka—termasuk diri saya. Asal tahu saja, saya sebetulnya punya paspor Finlandia yang cukup dapat melancarkan berbagai hal, dan saya bahkan menerima paspor baru sebagai hadiah. Jadi saya tidak sepenuhnya berada di luar sistem uang. Tetapi saya memilih untuk menjadi bagian dari masyarakat dengan satu prinsip luar biasa: saya tidak menggunakan uang untuk berinteraksi dengan orang lain.

Walaupun kehidupan tanpa uang terjangkau oleh siapa pun, sedikit saja orang yang mau sampai ekstrem begitu. Apakah itu berfaedah? Memangnya apa tujuannya? Anda sendri yang memutuskan. Buku ini menawarkan alternatif bagi orang-orang dalam situasi kehidupan yang berlain-lainan. Saya menawarkan berbagai tip mengenai cara untuk mendapatkan pengalaman lebih dari yang sedikit serta cara untuk menyesuaikan ulang hubungan Anda dengan uang yang mahakuasa lagi ada di mana-mana.

Tidak perlu menelan semuanya sekaligus. Kunyahlah. “Sup Air Mata Pembuka” ini mengantar Anda pada menu perangsang yang eksotis. Di akhir Anda akan disajikan “Limau Pahit Penutup” sebagai kesimpulan. Di antara kedua bab itu Anda dapat menikmati katering tip dalam berbagai rasa yang diatur menjadi tiga level: ringan (satu jempol), medium (dua jempol), dan keras (tiga jempol), menurut tantangannya. Pilihlah yang Anda suka.

Pertama-tama saya menyoroti cara mendapatkan makanan, air, sanitasi, pakaian, dan barang-barang lainnya secara gratis. Lalu kita mengarah pada pelancongan tanpa uang. Selanjutnya kita menelaah keamanan, kesejahteraan, dan perhubungan manusia tanpa uang. Ini membawa kita pada kebutuhan-kebutuhan yang berkenaan pada aktualisasi-diri, kesenangan, kreativitas, dan partisipasi.

Meskipun saya kurang menekankan pada membantu sesama dan lebih berfokus pada menjelaskan cara untuk memenuhi kebutuhan mempertahankan hidup sendiri, saya berharap buku ini tidak memberi Anda kesan bahwa pelancong tanpa uang tidak lebih daripada sekadar gelandangan atau penumpang gelap. Saya berusaha untuk tidak melelahkan Anda dengan membela prinsip-prinsip gila saya atau mengkritik sistem yang bobrok.

Tujuan saya yaitu memberikan Anda kesempatan untuk mempertimbangkan pilihan hidup Anda dan terinspirasi untuk memilih jalan Anda sendiri. Di samping pengalaman saya sendiri, buku ini mencakup banyak cerita dari orang-orang yang sudah saya kenal bertahun-tahun. Pada dasarnya ini bukan buku perjalanan, dan cerita-cerita yang menjadi gambaran tidak disajikan secara berurutan menurut waktu terjadinya. Cerita-cerita ini hanyalah kilas dari situasi yang ada di jalan.

Bon appetit! 

Saya berharap Anda menikmati yang ada di menu.



Catatan:
[1] Masih lagu Red Hot Chilli Peppers yang sama, “Under the Bridge”


---------------------------
sumber cerita: http://ngulikata.blogspot.com/2020/04/rich-without-money-sup-air-mata-pembuka.html