Aku Dan Malam

Aku Dan Malam
Daftar Isi Artikel
Terminal Lama Embun Pagi
Saya sering bergelut senda dengan malam. Kadang, dengan amat sadar, saya lebih memilih memicingkan mata tinimbang memejamkannya. Memilih terjaga daripada terlelap. Tapi, belakangan, rasa-rasanya bukan saya yang memilih. Sekarang malam yang sepertinya lebih sering memilih saya.

Maka terjagalah saya. Sepanjang malam, sepanjang kelam. Juga malam ini. Susah benar membenamkan mata pada kelopaknya. Padahal lampu sudah dipadamkan, buku-buku sudah dirapikan, tempat tidur sudah dihamparkan dan badan sudah dibaringkan.
Butuh kesabaran untuk terus menahan diri tetap telentang di pembaringan, melawan naluri tubuh yang menjompak-jompak selalu ingin bangkit dan terjaga. Saya jadi mengerti kenapa Chairil memberi salah satu sajaknya judul: “Kesabaran”.

“Aku tak bisa tidur
Orang ngomong, anjing nggonggong
Dunia jauh mengabur”

Saya pernah menganggap “Kesabaran” adalah judul sajak Chairil yang paling ganjil, untuk tak menyebutnya yang terburuk. Tapi, pertarungan untuk terlelap yang selalu tergelar malam demi malam membuatku lebih mengerti kenapa Chairil memilih kata “Kesabaran” sebagai judul sajaknya. Sebab, tak mudah bagi para pengidap insomnia untuk terlelap. Butuh kesabaran tak sederhana untuk mengirim sepasang mata di bawah naungan keteduhan kelopaknya.

Mungkin saya memang bukan orang yang cukup penyabar. Jika setelah setengah jam tak juga terlelap, saya kadang menyerah, lalu bangkit dari pembaringan, menyalakan rokok, menyeduh kopi dan kemudian menyeruputnya. Lalu, seperti yang sudah-sudah dan memang selalu begitu, buku-buku menjadi sasaran pelampiasan kegagalan menaklukkan dorongan tubuh yang selalu ingin terjaga. Musyawarah buku pun tergelar. Kadang lama. Kadang singkat. Tak tentu.

Jika sudah begini, giliran otak yang minta dipuaskan. Dengan segera kening berdenyut, menyusun garis-garis tipis di jidat  “tanda bahwa saya sedang memikirkan sesuatu”, dari yang berat hingga yang ringan, dari yang serius sampai yang sepele, dari yang suci hingga yang jorok.

Ritus selanjutnya mudah ditebak, Laptop kembali menjadi altar tempat aku menghaturkan hio berupa deretan aksara yang kujejalkan dengan paksa. Hampir semua coretan saya dilahirkan di tengah ritual malam yang  sejujurnya begitu melelahkan.

Kadang, jika tenaga masih berlebih, saya sempatkan menyusuri jalanan Kota Takengon dengan mengayuh sepeda berwarna Hitam. Jika tidak, saya hanya berjalan kaki mengikuti arah angin. Mungkin duduk-duduk di pematang kota “Pantan Terong”, sembari menatap jejeran lampu yang menyinari kota, kadang pergi ke Terminal Lama Takengon menyantap mie Aceh atau roti bakar, sesekali terutama jika bulan sedang penuh saya senang duduk di bangku taman Kota “Tugu Aman Dimot” sembari membaca beberapa buku cerita dan mencuri-curi pandang pada purnama yang bulat. lalu ingat sajak Rendra “Bulan Kota Jakarta” yang ditulis pada 1955, Tapi Kali ini saya bukan di jakarta.

Tapi, semua pengalaman yang sepintas terasa menyenangkan itu sebetulnya sering terasa meletihkan, terutama pada saat di mana saya sebenarnya benar-benar ingin istirahat. Tapi kantuk selalu datang terlambat. Ia seperti sedang memusuhi saya. Sementara malam rasanya berubah menjadi pencemburu yang tak sudi jika hanya siang saja yang bisa memperkosaku. Tubuhku seperti menjadi panggung di mana waktu begitu bersemangat memamerkan kuasanya.

Inilah yang sedang saya hadapi “diperkosa siang dan digagahi malam!”

Ini berakibat buruk bagi saya, tentu saja. Wajah makin tirus. Mata lebih sering memerah. Berat badan saya sebenarnya tak menciut drastis, tapi hampir semua orang yang mengenalku bertahun-tahun lalu menyebutku tampak lebih kurus. Selera makan anjlok. Sudah lebih dari dua minggu rasa lapar baru datang sekitar jam 7 malam.

Anehnya lagi, emosi saya stabil. Marah karena hal-hal yang memang menjengkelkan tentu masih kadang datang. Tapi itu tak pernah lama hinggap. Kemarahan bisa punah tak sampai sepenghisapan kretek Tombako Ijo Gayo “Tembakau Hijau Khas Gayo, Yang Aromanya Mirip Ganja”.

Beberapa tulisan yang cukup bagus bisa saya hasilkan. Beberapa di antaranya berhasil memenuhi ekspektasi saya, standar yang saya tetapkan sendiri. Bulan ini ada empat tulisan yang saya hasilkan, namun tidak pernah saya kirim ke media cetak maupun Online. Itu dikarenakan saya tidak Pede dengan tulisan saya sendiri, begitu saya kira.

Di sini saya menjumpai paradoks. Di satu sisi saya begitu jengkel dengan susahnya saya tidur sebentuk kejengkelan yang kadang membuat saya merasa begitu letih dan frustasi. Tapi, di tengah keletihan dan kejengkelan itu, saya kok bisa lebih jernih menulis “penilayan saya sendiri”, bisa lebih sabar menatah kata dan menyungging makna.

Malam, barangkali, tak sejahat seperti yang saya bayangkan sewaktu jengkel karena kantuk begitu enggan mendekat. Jangan-jangan, tubuh saya memang tahu benar bahwa sekaranglah saatnya saya bekerja sekuat-kuatnya. Mungkin, ya… mungkin, saya tak pandai membaca isyarat tubuh saya. Pertaruhannya memang tidak kecil. Amat bisa jadi kelak saya akan ambruk dan mesti berbagi ranjang dengan penyakit. Membayangkan itu bukan hal yang mudah. Menyedihkan rasanya tergolek tanpa daya, menjadi tuna karya.

Tapi malam mungkin memang telah memilih saya sebagai sahabatnya. Tak ada pilihan lain, saya menerimanya!

Kebetulan ada buku yang mesti kuselesaikan (baca) secepat-cepatnya. Ini janji sekaligus hutang pada diri sendiri yang sudah terlalu lama tertunda. Ada 4 Buku yang saya pinjam dari salah seorang teman mesti saya baca karna harus di kembalikan lusa.

Bulan depan, bulan September, sepertinya akan menjadi bulan yang dipenuhi oleh malam-malam panjang yang riuh. Selain hutang buku yang belum terlunaskan, Tuntutan pekerjaan pembuatan BEBSITE yang belum saya selelaikan hampir pasti akan membuat saya makin akrab dengan malam.

Saya tak ingin melewatkan satu pun pekerjaan itu. Bukan semata karena saya amat senang Coding (istilah dalam IT), tapi juga karena desakan dari si pemesan jasa saya.

Saya berpikir untuk tak lagi mengutuki insomnia ini. Jika memang malam sedang mesra dengan saya, maka nikmati sajalah. Jika memang belum ngantuk, kenapa harus jengkel jika mesti terus terjaga?
“Aku menghitung prajuritku pada malam hari,” kata Napoleon.

Saya tak punya prajurit, tentu saja. Saya hanya punya kata-kata. Saya mengeluarkannya. Saya menatahnya. Saya menyunggingnya. Saya menghitungnya. Semuanya berlangsung pada malam, yang kadang terang, kadang kelam.

Takengon, 15 Agustus 2020
Judul: Aku dan Malam
Penulis: Yusuf Efendi
Google Gayo
Oleh Google Gayo

Surat Al-Hujurat ayat 6 : يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ "Wahai orang-orang yang beriman, jika datang seorang yang fasik kepadamu membawa berita, maka tangguhkanlah (hingga kamu mengetahui kebenarannya) agar tidak menyebabkan kaum berada dalam kebodohan (kehancuran) sehingga kamu menyesal terhadap apa yang kamu lakukan".

Langganan
    • Google Gayo

      Google Gayo

      19 Agustus 2020 22.46

      Ada manfaat kanda. Ada juga efek samping nya.
      Tergantung kita lagi bagai mana nenyikapinya 😂😁

jangan tinggalkan link aktif di komentar

  1. Untuk membuat judul komentar, gunakan <i rel="h2">Judul Komentar</i>
  2. Untuk membuat kotak catatan, <i rel="quote">catatan</i>
  3. Untuk membuat teks stabilo, <i rel="mark">mark</i>
  4. Untuk membuat teks mono, <i rel="kbd">kbd</i>
  5. Untuk membuat kode singkat, <i rel="code">shorcode</i>
  6. Untuk membuat kode panjang, <i rel="pre"><i rel="code">potongan kode</i></i>
  7. Untuk membuat teks tebal, <strong>tebal</strong> atau <b>tebal</b>
  8. Untuk membuat teks miring, <em>miring</em> atau <i>miring</i>